Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

manajemen

Manajemen Berbasis Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Oleh : Muhammad Khairunnas, S.Pd (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Batusangkar)

Sejak digulirkan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku 1 januari 2001, wacana desentralisasi pemerintahan ramai dikaji, termasuk desentralisasi bidang pendidikan. Untuk mencapai otonomi pendidikan yang sesungguhnya, desentralisasi pendidikan tidak cukup hanya pada tingkat kabupaten/kota, tetapi harus sampai pada tingkat sekolah secara individual. Mengingat mutu pendidikan di Indonesia selama ini kurang memuaskan banyak pihak, perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan reformasi pendidikan (Fajrin, 2018).

Dari wacana tersebut lahirlah otonomi pendidikan atau yang lebih dikenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah pengelolaan input-input manajemen atau sumber daya berdasarkan otonomi yang diberikan kepada sekolah untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan.

Kelompok yang dimaksudkan adalah warga sekolah, meliputi: kepala sekolah dan wakil-wakilnya, guru, siswa, konselor, tenaga administratif, orangtua siswa, tokoh masyarakat, para profesional, wakil pemerintahan, wakil organisasi pendidikan (Sabil, 2014).

Sehubungan dengan otonomi yang harus dimiliki oleh sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan, maka proses pengambilan keputusan merupakan hal penting perlu diperhatikan. Kualitas suatu keputusan yang telah diambil sengat ditentukan oleh proses lahirnya keputusan tersebut, apakah keputusan itu hanya datang dari seorang pimpinan saja, pimpinan bersama bahawannya atau keputusan itu lahir dengan melibat semua komponen yang punya kepentingan dengan pendidikan itu sendiri. Proses pengambilan keputusan merupakan salah satu kegiatan dalam implementasi MBS, terutama pengambilan keputusan partisipatif sebagaimana yang dinyatakan Nurkolis (2003) bahwa secara ringkas definisi MBS adalah otonomi manajemen dan pengambilan keputusan partisipatif. Dari pengertian tersebut, maka pengembangan manajemen berbasis sekolah semestinya mengakar di sekolah, terfokus di sekolah, terjadi disekolah, dan dilakukan oleh sekolah. Untuk itu, penerapan manajemen berbasis sekolah memerlukan konsolidasi manajemen sekolah.

BACA JUGA  Digelar MGMP Bahasa Indonesia, Trik Cepat Menjawab Soal UN Sukses

Dengan MBS, pemecahan masalah internal sekolah, baik yang menyangkut proses pembelajaran maupun sumberdaya pendukungnya cukup dibicarakan di dalam sekolah dengan masyarakatnya, sehingga tidak perlu diangkat ke tingkat pemerintah daerah apalagi ke tingkat pusat. Tugas pemerintah (pusat dan daerah) adalah memberikan fasilitas dan bantuan pada saat sekolah dan masyarakat menemui jalan buntu dalam suatu pemecahan masalah.

Fasilitasi ini mungkin berbentuk capacity building, bantuan teknis pembelajaran atau manajemen sekolah, subsidi bantuan sumberdaya pendidikan, serta kurikulum nasional dan pengendalian mutu pendidikan baik tingkatan daerah maupun nasional. Agar dapat memberikan fasilitasi secara obyektif, pemerintah perlu didukung oleh sistem pendataan dan pemetaan mutu pendidikan yang handal dan terbakukan secara nasional (Sabil, 2014).

STRATEGI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Strategi utama yang digunakan dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah, adalah :
1. Mensosialisasikan konsep MBS kesemua warga sekolah.
2. Melaksanakan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi sekolah dalam mengubah manajemen berbasis pusat menjadi MBS.
3. Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan yang dihadapi.
4. Mengidentifikasi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.
5. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktorfaktornya malalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat).
6. Memilih langkah-langkah pemecahan masalah.
7. Membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang beserta program-programnya.
8. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS.
9. Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS (Hamid, 2013).

MBS DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Sesungguhnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efesiensi, antara lain diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi.

BACA JUGA  Kunjungi Posko Covid-19, Ketua DPRD Perhatikan APD Paramedis

Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah. Peningkatan pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah (Fajrin, 2018).

Beberapa pengaruh MBS terhadap sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan adalah:
1. MBS menciptakan rasa tanggungjawab yang tinggi bagi warga sekolah melalui manajemen sekolah yg lebih terbuka.
2. Sifat keterbukan MBS meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah.
3. Pelaksanaan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) akan meningkatkan prosentasi kehadiran siswa di sekolah karena mereka merasa senang dan nyaman belajar.
4. Dukungan biaya operasional yang memadai akan menunjang terlaksananya program-program yang telah disusun bersama antara pihak sekolah dan masyarakat

DAFTAR REFERENSI
Fajrin, R. 2018. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah.Intizam Jurnal Managemen Pendidikan Islam.1 (2).
Hamid, H. 2013. Manajemen Berbasis Sekolah. Al Khawarizmi. Jurnal Pendidkan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.1(1). 87-96
Sabil, H. 2014. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SMPN 11 Jambi. Jurnal Sainmatiak. 8 (1) (1-11).

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...