Ustad Muda dari Kampung itu, Berlagak Jadi Budayawan

satu
Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Ustad Muda dari Kampung itu, Berlagak Jadi Budayawan

oleh : Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Semenjak kembali dari menuntut ilmu, sang ustadz muda itu terbiasa memakai pakaian yang tidak lumrah dipakai oleh banyak ustadz di kampungnya.
Walaupun tidak setiap hari namun setiap akan berangkat ke Masjid, berceramah dan menghadiri acara, pakaian itu lah yang dikenakannya.
Ia tidak melihat imannya tersangkut dibalik baju dan lilit kepalanya tapi kebiasaannya waktu menuntut ilmu dan kenyamanan ketika memakainya semakin menguatkan penampilannya dengan tidak melupakan bahwa ia harus terus berlindung kepada Allah swt dari ‘ujub dan takabbur.

Setidaknya pandangan Abu Yusuf yang menyarankan ulama berpakaian berbeda, menurutnya perlu untuk zaman kini karena bisa digunakan sebagai salah satu yang akan mengingatkan kehormatan seorang ulama.

Tentu ustadz kampung itu, mendapat kritikan dimana-mana dengan penampilannya itu tapi dia tetap dengan sikapnya tanpa memaksa orang untuk mengikutinya.

Pada suatu pagi hari jum’at, sang ustadz diundang oleh Sekda (Sekretaris Daerah Kabupaten) untuk memberikan ceramah di aula Kabupaten. Acara itu sering disebut dengan coffee morning (kopi pagi). Sang bupati pun hadir dalam acara itu.

Ustadz muda dari kampung itu, belum mengenal bupati itu sebelumnya.

Bisa dikatakan, ini lah pertemuan pertama sang ustadz kampung dengan bupatinya itu.

Berceramah di kantor bupati pertama kali, merupakan pengalaman berharga bagi ustadz kampung dan Alhamdulillah bisa dilakukannya dengan tanpa beban karena yang hadir dihatinya hanyalah ridha Allah swt dan amanah ilmiah tanpa mengharapkan suka atau tidak suka siapapun.

Lebih kurang dua hari selesai acara ceramah coffee morning, ketua DPRD yang kebetulan adalah kakak almarhum teman ustadz kampung, menelpon dan menyampaikan komentar bupati tentang ceramah sang ustadz pagi jum’at tersebut.

Ketua DPRD itu berkata, “adinda ! Pak bupati suka dan tertarik dengan kajian adinda tapi sayang, kata beliau, “penampilan ustadz itu tidak seperti biasanya. Tampaknya pak bupati tidak begitu sreg dengan penampilan adinda”, tukas pak ketua DPRD.

Ustadz kampung menjawab, “terima kasih masukannya kanda. Saya akan fikirkan”. “Sama-sama adinda” ujar Ketua DPRD sambil menutup telpon dengan mengucapkan salam.

Setelah itu, sang ustadz kampung memulai menghisab dirinya. Apa yang salah dari penampilannya itu. Ia periksa niatnya menggunakan pakaian itu, apakah untuk kemasyhuran ? Kesombongan ?

Setelah berhari-hari persoalan itu mengganggu ketenangannya, akhirnya ia mengambil kesimpulan untuk tetap bertahan karena ini bukanlah suatu yang dilarang syara’ dan juga bermanfaat untuk dirinya guna menjaga sikap di tengah umat karena godaan umur yang masih muda.

Dalam hatinya sang ustadz kampung bertekad hendak menjelaskan kepada bupati itu permasalahannya.

Allah swt membuktikan qudrah dan iradahNYA !
Satu bulan setelah pertemuan pertama dengan sang bupati dalam acara coffe morning, ustadz muda itu diundang lagi dalam acara yang sama.

“Inilah kesempatannya untuk menjelaskan”, begitu lah guratan hati sang stadz.

Di saat kesempatan berceramah pagi jum’at itu, kebetulan sang bupati juga hadir.

Ceramah ustadz kampung tidak mengarah kepada pakaian Rasul saw dan sunnah berpakaian dalam syari’at Islam tapi malah berbicara tentang keadilan menilai budaya.

Setelah mengutip firman Allah swt yang menyuruh bersikap adil (QS. al-Nisa’ ayat 135), ustadz mulailah berbicara “fakta bahwa yang dipakai oleh banyak orang hari ini bukanlah pakaian yang berasal dari budayanya sendiri (kebetulan bupati ketika itu pakai jas dan dasi).

Itu adalah suatu hal yang lumrah terjadi bila terjadi gesekan kebudayaan.

Bagi masyarakat kita ini bukanlah suatu hal yang aneh karena memang adat kita memiliki pondasi yang fleksibel karena siap menerima perubahan dalam batasan-batasan yang tidak menggeser prinsip dasar dari adat”. “Tapi sayang… sekali”, ujar ustad kampung. “Kita terkadang tidak adil dalam menilai budaya yang masuk.

Kenapa satu budaya seperti jas dan dasi kita pandang dengan hati yang lapang tapi kenapa jubah dan sorban kita pandang dengan hati yang sempit ????

Marilah kita bersikap adil sebagaiamana tuntutan ayat pembuka ceramah tadi ! Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”.

Begitulah kira-kira bunyi penutup ceramah ustadz muda dari kampung ketika itu.

Bupati terlihat tertunduk saat itu dan ustadz kampung telah siap menerima reaksi apapun dari sang bupati. Baginya ceramah bukanlah untuk menyenangkan pejabat dengan membenamkan kebenaran.

Sebelum kembali duduk di samping bupati, bupati sempat berdiri menyalaminya dan beliau langsung berjalan ke mimbar untuk memberikan arahan karena sudah dipanggil protokol.

Cukup berdebar juga hati ustadz kampung itu menunggu reaksi sang bupati yang bisa jadi dia selipkan dalam arahannya.
Tapi apa yang keluar dari mulut bupati mencengangkan ustadz muda itu.

Walaupun umur ustadz muda ini adalah angkatan anaknya namun sang bupati tidak malu menyampaikan maafnya.

“Sesuai dengan ceramah ustadz bulan yang lalu bahwa hikmah itu adalah mutiara yang hilang dari umat Islam, dimanapun mereka temukan maka mereka lah yang lebih pantas memungutnya. Pagi ini saya mendapat hikmah ustadz ! Yaitu keadilan dalam bersikap terhadap apapun termasuk menyikapi budaya yang masuk ke tengah-tengah kita. Saya mohon maaf kalau pertama kali melihat ustadz, saya sempat memberikan penilaian yang tidak adil”, kata sang bupati disela-sela pengarahan yang beliau sampaikan pagi itu.

“Subhanallah walhamdulillah !!!”. Kalimat itulah yang meluncur dari mulut ustadz muda dari kampung itu karena lega. Padahal dia tidak membayangkan sang bupati akan sampai meminta maaf segala di depan umum.

Akhirnya, tak ada yang bisa dilakukan oleh ustadz kampung itu melainkan mendo’akan kepada Allah swt agar bupati itu diberikan oleh Allah swt hati yang lembut, mata yang bisa melihat kesusahan, telinga yang bisa mendengarkan keluhan dan pahala yang berlipat ganda atas amalnya.

(Cuplikan awal pertemuan Ustadz Kampung dengan Bupati, sekitar th. 1998)

Tulisan Buya Gusrizal Gazahar Dt. palimo Basa tentang ustad kampung yang lainnya :

Facebook Comments

loading...