Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (2)

Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)
Zainuddin Labay, nama yang masih asing bagi sebagian besar orang Minang dan Indinesia. Namun ia berpengaruh dalam pendidikan dan perjuangan. Hendra Sugiantoro, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, 2021, yang menulis tentang salah satu tokoh besar Rnah Minang ini.

Zainuddin, nama pemberian orangtua
Labay, ia menggelari dirinya
Sapalah, siapa pun bersua:
Engku Labay, Tuan Labay

Di Padang Panjang, di sebuah kedai
Ia bercerita, pengunjung terbuai
Beduk Ashar berbunyi
Berbondong semua ke Jembatan Besi.

Zainuddin!
Titahnya diterima
Seruannya mengena
Suka berpena
Cakap berkata Arab, Belanda, Inggris, Cina.

Ia bukan tamatan Kairo, apalagi Mekah
Namun, ilmunya terus merekah.
Angku Mudo menaruh hormat
Zainuddin suka, Angku Mudo perbuat.
Di Padang Japang, Abbas Abdullah senang
Di Padang Panjang, Haji Rasul girang
Betapa kakak Rahmah El-Yunusiyyah cemerlang.

Bertahun-tahun usai kematiannya,
Deliar Noer (1926-2008) takjub tak kepalang:
“…dia adalah seorang otodidak, yang menjadi orang dengan tenaga sendiri. Penguasaan atas Bahasa Belanda dan Arab sangat membantunya. Koleksi buku-bukunya yang dapat penulis saksikan sendiri, meliputi kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa asing ini, dan meliputi berbagai bidang seperti aljabar, ilmu bumi, kimia, dan agama…”

Nasib Hamka amat beruntung,
membaca buku-bukunya yang membentang.

Lewat suami Siti Raham itu, bolehlah kita membayang:
“Dan kalau dia sedang makan, janganlah didekati. Kitabnya bertimbun di atas mejanya, bekas muthala’ah dan mengarang malam. Dia kelihatan tidak begitu suka bergaul dengan orang banyak, tetapi sekali-kali kalau dia datang kepada orang banyak, dia menimbulkan kegembiraan. Yang lebih menarik hati kita ialah gaya pakaiannya, kalau dia berbaju tutup, dia suka sekali memakai yang berleher tinggi…”

BACA JUGA  Nazif Basir, Suami Elly Kasim Meninggal Dunia

Ah, kenang-kenanglah ia

(Hendra Sugiantoro, bukan orang Minang, hanya mencintai Indonesia)

NB: Angku Mudo, murid kebanggaan Haji Rasul: Abdul Hamid Hakim.

Sumber:
*Aminuddin Rasyad, dkk., dalam Hajjah Rahmah El-Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusy (1991).
*Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia (1982).
*Hendra Sugiantoro dalam Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
Sumber Foto: Aminuddin Rasyad, dkk

BAca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaOta Lapau, Pancarian Padiah Kawan Manjauah
Artikel berikutnyaBupati Agam Lepas Pawai Khatam Al-Qur’an di Ampek Angkek