Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)

Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)
SuhaNews. Melanjutkan tulisan Hendra Sugiantoro pekan lalu, tentang Zainuddin Labay, tokoh besar Ranah Minang yang namanya tak banyak dikenal zaman sekarang.
SuhaNews berkesempatan menerbitkan, Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)

Ikut Rafi’ah ke pasar, pikirannya cuma membeli koran.
Dicernanya setiap kalimat dalam lembaran.
Bertumpuk koran koleksinya di rumah.
Otaknya cemerlang kendati memilih putus sekolah.

Sewaktu cilik suka bermain layangan di sawah.
Usia 10 tahun memiliki adik Rahmah El-Yunusiyyah.
Begitu galau sepeninggal sang ayah,
ia kembali terarah.

Zainuddin!
Konon, dalam Tenggelamnya Kapal van de Wijck, sosoknya menginspirasi Hamka.
Ia memang penulis ternama.
Di al-Munir, al-Akhbar, al-Munir al-Manar, namanya membahana.
Di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, Malaya.

Mari mengenangnya dalam tuturan Buya Hamka:
“Tuan Zainuddin Labay El-Yunusy boleh dikatakan terdahulu lahir ke dunia daripada masanya mesti lahir. Coba Tuan-tuan perhatikan kitab-kitab yang telah dikumpulkannya ketika itu…
Sebab itu tidaklah heran kalau semasa hidupnya, Tuan Labay dalam kalangan orang siak (pelajar surau), tetapi dia tersisih dari orang siak, tingkatannya lebih tinggi. Dia disegani, ditakuti, tetapi dicintai oleh segala golongan dan lapisan. Tetapi kadang-kadang orang yang mencintainya itu tidak kenal siapa dia.”

Zainuddin!
Namanya hingga kini memesona.
Ricklefs tak alpa memena.
Diniyyah School binaannya,
lembaga pendidikan modern di zamannya.

Ia mati muda.
Haji Rasul pun kehilangan “pemuda harapan nusa dan harapan Islam, yang tajam penanya dan luas lautan ilmunya.”

Mari kenang-kenanglah ia…

(Hendra Sugiantoro, bukan orang Minang, hanya mencintai Indonesia)
______’—————————-

Sumber:
*Aminuddin Rasyad, dkk., dalam Hajjah Rahmah El-Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El Yunusy (1991)
*Hamka dalam Ajahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1967).
*Hendra Sugiantoro dalam Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
*M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.

Sumber Foto: Aminuddin Rasyad, dkk.

Baca Juga : 

Facebook Comments

BACA JUGA  Syekh Abbas Abdullah dan Rahmah El-Yunusiyyah, Panas Dingin Politik
loading...
Artikel sebelumya180 Warga Padang Panjang Terjaring Razia Masker
Artikel berikutnyaWagub Sumbar, Audy Joinaldy Tinjau Rumah Sakit M. Zein Painan