Malam Idul Adha 52 Tahun Lalu, Rahmah El Yunusiyyah Wafat

Rahmah El Yunusiyyah, Wafat di Malam Idul Adha 54 Tahun Lalu
Mohammad Natsir (17 Juli 1908-1993) di makam Rahmah El-Yunusiyyah
SuhaNews. Senin 19 Juli 2021 bertepatan dengan malam 10 Zulhijah 1442, tepat 52tahun lalu 9 masuk 10 Dzulhijjah 1388 Hijriyah dalam Masehi, 26 Februari 1969. Rahmah el Yunusiyyah, pendiri dan pimpinan pondok pesantren Diniyah Puteri Padang Panjang wafat.

Tulisan Hendra Sugiantoro, pemerhati sejarah yang menyebut dirinya Bukan orang Minang, Hanya mencintai Indonesia menuliskan kisah terakhir Rahmah el Yunusiyyah di malam Takbifran Idul Adha 1388 H, dengan judul Malam menjelang Idul Adha Ibu Pendidikan Indonesia Meninggalkan Kita.

Hendra menulis kenangan terakhir Rahmah el Yunusiyyah bersama keluarga dan orang-orang dekatnya di Diniyah Puteri Panjang, hingga tulisan buya Hamka ketika mendengar kabar ini.

Setiap kematian, malaikat Izrail tak memberitakan di surat kabar, televisi, dan radio. Sejak setahun lalu, puluhan tahun silam, berabad lampau.

Apakah seseorang bisa memiliki firasat soal kematiannya? Bukankah kematian merupakan rahasia? Wallahu a’lam. Kita menyebut saja “sebuah kisah”.

Tentu bukan akibat Covid-19 jika napas Rahmah El-Yunusiyyah hampir habis. Tiga hari sebelum ajal, ia menuju Padang dan menemui Gubernur Sumatera Barat.

Berbicara hampir satu jam, Rahmah sempat berucap, “Napas saya sudah hampir habis, dan kepada Pak Gubernur saya mintakan perhatian atas sekolah saya itu.”

Harun Zein selaku gubernur mengaku terkejut. Soal “perhatian pemerintah” ini urusan lain. Rahmah jauh-jauh hari telah mempersiapkan penggantinya: Isnaniah Saleh. Ia adalah keponakan sekaligus angkatan pertama yang menempuh studi di Universitas al-Azhar.

Bahkan, 15 hari sebelum kematian Rahmah, seorang muridnya bernama Rosmaini bermimpi gurunya itu meninggal. Dalam bunga tidur itu, semua murid-murid menangis dan serentak membaca Alquran.

“Semua bisa terjadi jika Allah sudah berkehendak,” ucap Rahmah saat Rosmaini menceritakan mimpinya.

BACA JUGA  Zainuddin Labay (1890-10 Juli 1924): Jejak Kenangan (1)

Sebelum napas Rahmah benar-benar habis, Rosmaini dan seorang kawannya membersihkan kamar pendiri Perguruan Diniyyah Puteri itu. Akhir hidupnya, Rahmah memang dalam keadaan sakit. Banyak obat-obatan di kamarnya.

Rosmaini memang tak mungkin tahu kalau mimpi itu akan terjadi sesaat lagi. Ia pamitan pulang sembari membawa dua selendang untuk disetrika.

Hari itu juga, saat Rosmaini sedang menyetrika selendang di rumah, Rahmah masih bercengkerama dengan tamu-tamu. Maghrib menjelang, Rahmah pun hendak berwudhu.

Tak ada referensi tunggal terkait detik-detik akhir kehidupan Rahmah. Apakah sekadar pening dan muntah atau sempat terjatuh saat berwudhu dan dibawa ke tempat tidur? Diketahui bahwa Rahmah meninggal dalam keadaan berwudhu

Malam itu, selendang Rahmah telah rapi disetrika. Namun, malam itu, Rosmaini harus terperanjat mendengar kematian gurunya.

Buya Hamka pun menoreh pena, “….saat orang berhenti sejenak di Muzdalifah memilih batu untuk pelempar setan dan mendakikan doa dan munajat kepada Tuhan, maka bersama-sama doa yang mustajab itu, roh dari seorang pejuang wanita Islam Indonesia, Rahmah El-Yunusiyyah, telah turut pergi menghadap Tuhannya.”

Mengenal Rahmah el Yunusiah, Ibu Pendidikan Indonesia

Ibu Pendidikan Indonesia meninggalkan kita pada malam 9 masuk 10 Dzulhijjah 1388 Hijriyah. Dalam Masehi, 26 Februari 1969. Malam menjelang Idul Adha.

Konon, selendang Rahmah yang disetrika itu oleh pihak keluarga diberikan kepada Rosmaini. Wallahu a’lam. (Hendra Sugiantoro).

NB: Rosmaini, pendiri Diniyyah al-Azhar Jambi.

Sumber:
*Aminuddin Rasyad, Leon Salim, Hasniah Saleh dalam H. Rahmah El Yunusiyyah dan Zainuddin Labay El-Yunusy (1991).
*Hamka, “Kenang-kenangan: Wafatnya Ibu Rahmah El Yunusiyyah, Shahibatal Fahilah As Syaichaj Hajjah”, Harian Abadi 1 Maret 1969.
*Hendra Sugiantoro dalam Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021).
*Herry Saputro (Ed.) dalam Perempuan Tangguh: Kisah Inspiratif Perempuan Tangguh di Balik Berdirinya Diniyyah Al Azhar (DIAZ) Muara Bungo, Jambi, dan Muara Tebo (2020).

Artikel ini sudah tayang di Magelang Post

BACA JUGA  Solok Berduka, Kasat Pol PP dan Damkar Kota Solok Ori Affilo Meninggal Dunia

Berita Terkait :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaDharmawanita Persatuan Kabupaten Solok Gelar Pertemuan Bulanan
Artikel berikutnyaKhutbah Arafah dari Masjid Namirah 9 Dzulhijah 1442 H