“Etek Amah” Pertama Kali Kibarkan Merah Putih di Padang Panjang

amah
Rahmah El Yunusiah biasa dipanggil oleh masyarakat Padang Panjang Etek Amah. foto Tirto.id
SuhaNews. tak banyak yang tahu, saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya 75 tahun yang lalu, ada tokoh wanita pejuang di Padang Panjang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda Indonesia telah Merdeka.
Ia adalah Rahmah el Yunusiah yang juga pimpinan pondok pesantren Diniyah Puteri, yang oleh sebagian besar masyarakat Padang Panjang saat itu akrab disapa “Etek Amah”.

amah

Kisah heroiknya ini dilansir oleh Topsatu dengan Jasriman sebagai penulisnya, yang berksempatan wawancara langsung dengan cicit “Tek Amah” sekaligus melihat lokasi pertama kali Bendera Merah Putih berkibar di bumi Serambi Mekah tersebut.

Tanggal 19 Agusustus 1945: Tiba-tiba, Rahmah El Yunusiyyah mengibarkan sang Merah Putih. Rakyat memandang dari jauh. Takut.  Kabar Etek Amah, begitu ia disapa, mengibarkan bendera Merah Putih menyebar amat cepat di Padang Panjang dan Batipuah X Koto.

Awalnya, Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi, Soekarno dengan didampingi Muhammad Hatta membacakan teks proklamasi di Jl. Penggasaan Timur, Jakarta. Indonesia merdeka.

Kabar gembira itu kemudian dikirim ke seluruh wilayah nusantara, ada yang melalui radio ada pula melalui telegram. Sumatera yang waktu itu masih terisolasi, baru menerima kabar tersebut habis berbuka puasa di Bukittinggi.

“Kabar itu diterima seseorang di Bukittinggi melalui telegram. Menggigil lututnya saat menerima kabar gembira itu,” kata Khairul Jasmi, pemerhati sejarah asal Supayang, Tanah Datar.

Kabar itu pun kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Sumatera Tengah, termasuk kota kecil Padang Panjang. Dua hari kemudian, tepatnya 19 Agustus, salah seorang pejuang M. Sjafei membacakan proklamasi di rumah dr. Rasyidin. Sjafei antara percaya dan tidak, pada awalnya. Akhirnya ia yakin. Dibuatlah pertemuan di Padang Panjang. Tokoh ini membacakan teks Proklamasi. Pertama di Sumatera Tengah, bahkan mungkin di Sumatera.

Tak ada yang tahu pasti dimana persisnya rumah dr. Rasyidin tersebut. Namun, dari berbagai informasi yang dikumpulkan topsatu.com, rumah tersebut berada di pinggir Jalan Sukarno-Hatta, Bukit Surungan Padang Panjang.

Ada yang menyebut rumah tersebut dulunya berada di lokasi Ruko Fajar Harapan (seberang Masjid Jihadu Walidaina) saat ini. Namun ada pula yang menyebut berada di lokasi eks Radio Dian Erata.

“Kalau yang saya dengar dari orangtua saya, rumah dr. Rasyidin itu berada di lokasi Fajar Harapan saat ini. Soal pembacaan teks proklamasi itu, orangtua saya tidak pernah cerita,” kata Maiharman, salah seorang tokoh masyarakat Padang Panjang.

Tak lama setelah Engku M. Sjafei membacakan teks proklamasi itu, pendiri Perguruan Diniyyah Puteri, Rahmah Elyunusiyyah mengibarkan bendera Merah Putih di depan asrama perguruannya. Ia mengibarkan sendiri bendera itu, sementara warga lain melihat dari kejauhan.

“Nek Amah (Rahmah Elyunusiyyah) sendiri yang mengibarkan. Warga lain tidak berani, mereka menyaksikan dari kejauhan,” cerita Faiz Fauzan Dt. Bagindo Marajo, salah seorang cicit Rahmah Elyunusiyyah.

Faiz mengaku, nenek buyutnya itu mendapat kabar Indonesia merdeka dari sahabatnya bernama Rakena, warga Paninjauan. “Cerita yang saya dengar, Buk Rakena mendapatkan informasi melalui radio. Beliau mengabarkan kepada nek Amah, lalu nek Amah mengibarkan bendera di depan asrama ini,” tuturnya.

Tiang bendera itu kini memang tidak ada lagi. Tiang yang ada sekarang, yang terpasang persis di titik yang sama, sudah beberapa kali berganti.

“Kalau tiangnya memang sudah beberapa kali berganti, namun tapaknya masih sama. Tidak berpindah sama sekali, memang di sini dulunya nek Amah mengibarkan bendera,” ujarnya.

Pengibaran bendera oleh Rahmah Elyunusiyyah itu kabarnya merupakan yang pertama untuk wilayah Sumatera Tengah. Warga kota dan Batipuah, datang membuktikan sendiri.

Benar saja, di Sikolah Etak Amah, berkibar bendera Merah Putih. Hari-hari kemudian rakyat Padang Panjang dan Batipuah X Koto ramai-ramai mengibarkan bendera. Ada yang dari blacu banyak dari kertas minyak. Kisah Etek kibar bendera membangkitkan semangat merdeka.

Nek Amak atau Etek Amah, adalah komandan TKR. “Hormat Komandan” Dialah komandan TKR perempuan yang sebelumnya pernah ditahan dan didenda Belanda 100 gulden. Ia usahakan pakaian sendiri untuk pasukannya, ia jadikan Diniyyah Puteri sebagai rumah sakit darurat.  Kini, 75 tahun merdeka, hormat kota pada Nenek Amah. (jasriman)

Tulisan ini juga sudah tayang di TopSatu.com

BACA JUGA :

Facebook Comments

loading...