3 Ekor Harimau Resahkan Warga Kab. Solok, BKSDA Turun Tangan

SuhaNews. Sejak dua pekan terakhir, 3 ekor Harimau menampakkan diri di beberapa tempat berbeda di Kab. Solok. Diantaranya di nagari Gantung Ciri kec. Kubung dan Jawi-Jawi Kecamatan Gunung Talang. Kehadiran ketiganya juga sempat membuat takut warga yang pulang dari ladang.
Untuk menangkap ketiganya, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Sumbar resort Solok mencoba turun tangan dan meminta masyarakat membantu mengusirnya dengan bunyi-bunyian, salah satunya Badia Batuang atau meriam bambu. Sebagaimana dilansir oleh Langgam.id

“Kami harap warga yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan membunyikan bunyi-bunyian. Khusus meriam bambu atau meriam karbit yang telah kami pinjamkan ke Nagari Gantung Ciri dan Nagari Jawi Jawi,” kata Kepala BKSDA Resor Solok Afrilius, Senin (25/5).

harimau

Pengusiran dengan suara badia batuang atau meriam bambu itu dapat dilakukan secara serentak setiap sore hingga malam atau setelah salat Subuh hingga pagi hari. Suara yang ditimbulkan ini bisa membuat harimau semakin jauh ke dalam hutan.

“Jika masyarakat ingin masuk ke dalam atau ke pinggir kawasan hutan untuk memanen hasil pertanian misalnya, jangan lakukan sendiri-sendiri,” ulas Afrilius.

“Lakukanlah panen secara berkelompok atau bersama-sama. Jangan memencil dari rombongan, usahakan sebelum waktu salat ashar sudah kembali ke kampung,” imbuhnya.

Afrilius berharap masyarakat mematuhi hal tersebut. Namun sampai kini masih ditemukan warga yang tidak patuh, padahal hewas buas itu jelas membahayakan nyawa. Bahkan, jika ditemukan baju warga yang dirobek di pondok ladang bisa lebih berbahaya lagi. Sebab harimau itu akan mencari pemilik baju untuk dimangsa.

Berita Terkait :

“Sejak tanggal 18 Mei sampai tadi malam kami mengevakuasi orang pulang dari ladang setiap malam. Padahal kami sudah komitmen melarang ke ladang yang berada dalam kawasan hutan,” katanya.

BACA JUGA  Kuda Lumping, Warnai Kemeriahan Festival Muaro

Saat ini Harimau yang terdiri dari seekor induk dan dua anaknya itu tampak tidak agresif. Apalagi sang induk diduga sedang sakit di bagian kakinya terkena jerat.

Afrilius mengatakan pihaknya memang berencana ingin menangkap induk hewan tersebut agar dilakukan perawatan untuk kemudian kembali dilepaskan. Namun terkendala anggaran. Karena telah dikembalikan ke pusat untuk penanganan covid-19.

“Dana kantor kan dikembalikan, kalau tidak sudah selesai kami penanganan,” ujarnya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan dokter hewan yang ahli soal harimau, hanya saja mereka jauh di luar Sumbar. Mendatangkan mereka butuh izin dan biaya. Sementara untuk dokter ahli Harimau di Sumbar sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Afrilius memperkirakan untuk biaya penanganan bisa mencapai Rp100 juta. Hal itu untuk mendatangkan ahli, biaya perangkap, pemasangan kamera trap, peralatan, umpan seperti kambing untuk tiga ekor harimau.

Saat ini, ia juga terus berusaha bekerjasama dengan sejumlah LSM. Masuk hutan juga membutuhkan biaya besar, karena bisa 10 hari lebih dalam hutan dengan puluhan orang. Ia juga telah melaporkan kesulitan ini hingga tingkat Dirjen di pemerintah pusat.

“Penanganan kita terkendala untuk evakuasi induknya yang sakit, karena perlu tim profesional, dokter, banyak kita tim yang ingin pergi tapi peralatan tidak ada,” katanya.

Pihak BKSDA mengutamakan menangkap induknya terlebih dahulu karena kondisinya sedang sakit. Bahkan saat ini anaknya itulah yang berburu dan membantu memberi makan induknya. Mereka bertahan hidup dengan memakan babi-babi kecil yang ada di sekitar hutan.

Jika induknya ditangkap anaknya yang diduga jantan kemungkinan akan kembali ke hutan, karena ia bisa berburu. Namun pihaknya ingin Harimau itu juga ditangkap dengan anaknya.

BACA JUGA  LMPUN Tingkat Sumatera Barat, Payakumbuh Pertahankan Gelar Juara

“Jadi anaknya yang berburu, apalagi kalau anaknya jantan akan dilindungi induknya supaya tidak diganggu oleh jantan lain,” tutupnya.

editor : Moentjak sumber : Langgam.id

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News