SuhaNews | Diantara riuhnya suara terminal yang berbaur dengan ramainya pengunjung, ada sosok-sosok yang membaur bersama penumpang dan pengantar duduk di bangku loket. Mereka adalah pejuang rindu yang menunggu kedatangan ayah dan suami mereka.
“Kalau ditanya rindu pasti, tapi inlah kondisi kami dan inilah jalan bagi Suami untuk kebahagian kami, semoga sehat selalu, perjalanan lancar dan pulang membawa rezeki,” ujar Wati bersama anaknya menunggu kedatangan bus yang dikemudikan suaminya.

Meski sudah terbiasa ditinggal untuk pergi manambang selama bermingu-minggu, ditinggal saat lebaran tetap memberikan kesan tersendiri. Karena saat keluarga lain berkumpul lengkap, bahkan yang dari rantau sengaja pulang untuk merayakan Idul Fitri bersama, keluarga awak bus hanya dapat melepas rindu lewat hape.
“Kalaupun bisa bertemu di terminal seperti sekarang itupun tak bisa lama, karena harus segera melanjutkan perjalanan,” tukuk Wati.
Kehidupan seperti ini sudah dijalani selama bertahun-tahun, sejak awal menikah sampai sekarang anaknya sudah SMP. Awalnya anak-anak merasa berat menerima, terliebih saat teman-teman mereka merayakan Idul Fitri pergi ke masjid dengan ayahnya. Tetapi lambat laun mereka mengerti dan memahami.
Tak jauh beda dengan Yanto, awak Bus Pariwisata yang juga sedang menunggu giliran berangkat di terminal Bareh Solok. Ia sudah berada di kota Bareh ini sejak tanggal 19 Maret 2026 lalu. Bersama tiga rekannya ia membawa rombongan Pulang Basamo dari Jakarta menuju Ranah Minang dan finish di Masjid Raya Sumbar kota Padang. Seagian besar bus rombongan ini telah kembali ke Jakarta, namun ia bersama timnya memilih menunggu penumpang dulu agar dapat tambahan beli minyak sekaligus setoran.
“Kita sudah izin ke kantor untuk balik ke Jakarta setelah dapat sewa, diizinkan dengan catatan selama menunggu trip ini keamaman bus tetap dijaga dan dirawat,” ujar Yanto.
Baginya jauh dari keluarga sudah biasa, sehari-hari bus yang dikemudikannya berkantor pusat di Jakarta Selatan dan rute sesuai carteran ke berbagai kota di Jawa Sumatera hingga Bali. Sedangkan istri dan anak-anaknya tinggal di Garut dan dikunjungi minimal sekali sebulan, bahkaan bisa lebih jika kebetulan carteran sedang ramai.
“Ini kali kedua kedua saya lebaran di Sumatera Barat, tahun lalu juga, tapi H+1 saya sudah berangkat lagi ke Jakarta. Sekarang agak lama nunggunya, penumpang tidak sebanyak tahun kemarin,” ujar Yanto. rindu rindu rindu rindu
Untuk biaya hidup selama menunggu penumpang ini menjadi tanggung jawab masing-masing, ia dan tim pun bertahan di terminal Bareh Solok karena mersaa biaya hidup sehari-hari disini cukup murah dan ramah bagi kantong mereka, sedangkan untuk istirahat mereka memanfaatkan bagasi dan kabin bus. Begitu juga untuk area parkir yang luas serta keamanan bus, yang membuat para awak nyaman selama berada dilingkungan terminal Bareh Solok.

Hingga H+4 lebaran 1447 H /2026 M ini, jumlah penumpang bus yang kembali ke rantau berbeda jauh dengan waktu yang sama pada lebaran tahun lalu. Sehingga membuat Bus Pariwisata yang berharap penumpang dari bus reguler yang tidak kebagian tiket menunggu dengan waktu yang lebih lama. Moentjak
Berita Terkait :
- Dibalik Bahagia Pemudik, Ada Awak Bus Yang rela Jauh dari Keluarga
- Lamang Buat Ayah
- H+4, Jalan Macet di Sumbar, Bus Telat Berangkat dari Jakarta Masuk Cepat
- H+1 Lebaran, Kedatangan Bus dari Jakarta Lebih Banyak dari Keberangkatan
- Libur Lebaran, Pengemudi Bus Alhijrah Silau Kampungnya Yang Terkena Bencana
- PO. TAM dan Alhijrah, 2 Bus AKAP Sumbar Yang Liburkan Crew Saat Lebaran
- Rayo, Bus Sumbar Berangkat Kosong Balik ke Rantau
- Bawa Perantau, Puluhan Bus Sampai di Terminal Bareh Solok Siang Ini
- Arus Balik, PO. Palala Tambah Keberangkatan Menuju Jabodetabek
- Puncak Arus Mudik Menuju Sumbar, Po. Alhijrah Berangkat 20 Unit
- Akibat Macet Lintas Timur, Jadwal Bus AKAP Sumbar – Jakarta Berubah
- Hindari Macet Lintas Timur, Bus Al Hijrah Tujuan Sumbar Kecelakaan Lahat
- Lintas Timur Macet Parah, Bus MIYOR Alihkan Rute Via Prabumulih



Facebook Comments