Lamang Buat Ayah

271
ayah

Lamang Buat Ayah

cerpen Fendi Moentjak
“Ayah janji ya pulang dari Jakarta nanti kita buka puasa direstoran”. Zahra menggengam tangan Ayahnya didepan pintu bus.

Anggukan dan kecupan sayang sang Ayah membuatnya tersenyum bahagia. Namun tidak demikian dengan sang Ayah dalam senyumnya terpendam keraguan akan kemampuannya menepati janji yang dipinta sang putri. Sebuah rasa yang tak pernah dirasakannya setiap kali berangkat, padahal profesi ini telah lama dilakoni bertahun-tahun lamanya.

Sementara menunggu agen mengatur dan membagikan snack untuk penumpang Rizal duduk dibangku kernet seraya menatap Nabil putra bungsunya memainkan tombol klakson. Bocah itu senang memainkan telolet kesukaannya, dengan riang dipencetnya tombol bergantian sambil sesekali mengusap lingkaran stir. Barangkali yang ada dalam khayalan bocah ini ia sedang melakoni sopir bus menaklukan Lintas Sumatera.

Disamping bus, Zahra bersandar manja pada ibunya seraya menatap Ayah dan Adiknya dikabin bus. Rizal yang tahu kegundahan putrinya mengalihkan pandangan ke arah lain, tak kuasa ia menatap wajah sendu putri kesayangannya itu.

“Beres mak, 32 orang semuanya tambah satu paket dibagasi untuk Rawamangun dan satu paket untuk agen Merak”. Agen yang sejak tadi mengatur penumpang menyerahkan surat jalan yang menyentakan lamunan Rizal.

“Nabil, ayah berangkat dulu. Nanti kalau ayah pulang Nabil boleh main telolet lagi”.

Rizal membujuk putra bungsunya yang masih asyik bermain kemudi. Digendongnya bocah yang sebentar lagi masuk TK itu turun menemui Ibu dan Kakaknya.

“Zahra ingin Ayah cepat pulang, Zahra ingin buka puasa sama ayah di restoran, Zahra ingin lebaran nanti pergi ke Masjidnya sama Ayah dan Ibu”. Gadis kecil kelas tiga SD itu mengulang kembali keinginan saat Rizal berjongkok mencium pipinya.

Usapan sang ibu dirambut ikalnya cukup memberi pengertian bahwa Ayah mereka pergi kerja demi mereka bertiga. Kecupan hangat Rizal dikening mereka bertiga dan dibalas ciuman tangan menjadi tanda mereka harus berpisah, Rizal beranjak menaiki busnya. Kemudi diserahkan pada Bujang yang menjadi tandemnya pada trip ini. Dari bangku kernet dilambaikan tangan pada tiga belahan jiwanya yang melepas perjuangan Rizal pagi ini.

Tak lama bus berjalan Rizal beranjak kebelakang, ia tak tidur seperti biasanya. Rizal hanya merebahkan diri di smoking area. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa berat. Ucapan putrinya mengajak buka puasa direstoran dan rencana shalat Id bersama menjadi beban baginya. Karena ia tak yakin bisa mewujudkan keinginan putrinya itu.

Sampai sekarang sudah separuh Ramadhan berlalu belum sekalipun Rizal berbuka dirumah bersama istri dan anak anaknya. Ia hanya punya waktu beberapa jam saja bersama mereka sebelum kembali berangkat menunaikan tugas. Dalam kegelisahannya terselip juga rasa bahagia, karena hanya saat-saat seperti ini rupiah yang didapatnya lumayan dari biasanya.

Waktu trip seminggu yang lalu, Rizal sampai di Bukittingi menjelang subuh, setelah menurunkan penumpang dipool busnya Rizal menyempatkan membawa kedua anaknya ke Pasar Atas. Zahra minta dibelikan mukenah baru untuk tarwih, sedangkan Nabil pintanya tak jauh dari mobil mobilan yang menjadi kesukannya.

Pulang dari pasar Rizal dan keduanya tidak pulang ke rumah tapi ke pool bus karena ia harus segera berangkat. Sementara kedua anaknya pulang bersama Ibu mereka. Sebuah kondisi rutin bagi dirinya setiap kali Ramadhan datang yang juga menjadi momen meningkatnya kesibukan dirinya.

#  #  #

Sambil menunggu penumpangnya siap, Rizal mengamati daftar rencana perjalanan bus yang tertera dimeja perwakilan, walau masih perkiraan tapi daftar itu telah menggambarkan kalau lebaran nanti ia kembali tak bersama keluarga karena tugas. Kalau tak ada halangan, dari catatan trip itu jelas terbaca Rizal baru sampai dikotanya siang atau sorenya ditanggal 1 Syawal.

Penuhnya penumpang yang mengisi seat yang tersedia menjadi semangatnya memulai aktivitas selain bayangan senyuman Zahra dengan rambut ikalnya juga suara Nabil yang menirukan bunyi telolet bersama mainannya. Ocehan keduanya saat bicara dihandpone menjadi semangat Rizal untuk. Rizal senyum sendiri membayangkan ocehan Zahra yang bercerita tentang puasanya yang selalu digoda Nabil dan tak jarang juga ia melaporkan kalau boneka berbi kesukaannya jadi korban tabrakan oleh busnya Nabil.

Keseruan berlanjut dengan suara yang masih cadel mengatakan kalau kakaknya jahat dan tak sayang sama dia karena tak mau main mobil-mobilan bersamanya. Atau Zahra yang selalu menghardiknya setiap kali Nabil menirukan suara telolet bersama bus mainannya. Kini Rizal memutar otak mencari cara menjelaskan pada Zahra kalau lebaran kali ini Rizal masih sibuk dengan tugasnya dibelakang kemudi.

#  #  #

Rizal melamun dibelakang kemudi, tatapannya jauh menerawang. Disamping dan depan busnya penumpang dan petugas perwakilan sibuk mengatur penumpang dan bagasi bawaannya. Obrolan mereka tak lepas dari rekaan bagaimana bahagianya nanti berlebaran dikampung.

“Yah, dimana sekarang, Kakak masih kuat puasa”

“Kapan Ayah sampai di Bukittinggi, kita jadikan buka di Restoran ?”

“Yah, kakak ingin pergi Tarawihnya sama Ayah, kalau sama ibu keluar masjid langsung pulang tak boleh jajan”

“Jadikan lebaran nanti kita pergi shalat Idnya sama” Kalimat ini rutin diucapkan Zahra setiap kali menelpon Rizal. Beragam cara dan alasan agar gadis kecil ini mengerti dengan tugasnya saat ini.

“Pak sopir, titip istri dan anak saya yang lebaran di kampung. Hati-hati dijalan ya pak selamat sampai tujuan dan salam untuk Ranah Minang”. Seorang lelaki muda menyalami Rizal yang masih terpaku dibelakang kemudi.

Dengan ramah dijawabnya uluran tangan lelaki tersebut yang katanya tidak bisa ikut berlebaran di kampung karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan. “Senasib tapi beda versi”, gumam Rizal saat lelaki itu mengantar istri dan anaknya ke seat yang akan didudukinya.

Dalam kerinduan akan anak-anaknya serta rasa bersalah tak dapat memenuhi keinginan mereka. Rizal berusaha profesional menjadi terbaik bagi keluarganya dan memberikan rasa nyaman bagi penumpangnya. Tapi alunan takbir dari pedagang VCD kaki lima dipojok terminal sebagai tanda 1 Syawal segera datang kembali menggores perasaannya, ingin rasanya ia larikan bus ini sekencang mungkin agar besok sebelum subuh bus ini sudah sampai di Bukittinggi.

“Yah, Ayah sudah sampai dimana ?”

“Kakak masih kuat puasa, berarti puasa kakak penuh”. Ternyata panggilan Hp dari putri kecilnya.

“Maaf ya kak, Ayah lagi mengemudi nanti kalau sudah berhenti di rumah makan ayah telpon kakak lagi”. Rizal berbohong untuk menutupi perasaannya, karena ia tahu ujung-ujung dari pembicaraan Zahra akan bertanya tentang Shalat Id besok pagi.

Suara telolet dari klakson busnya yang disambut lambaian tangan pengantar di jalur keberangkatan terminal Rawamangun menjadi pertanda ia memulai perjalanan menuju Ranah Minang mewujudkan bahagia perantau yang ingin berlebaran bersama dunsanaknya walau mereka semua tahu tak akan sempat lagi Shalat Id bersama dunsanak tercinta.

#  #  #

Alunan takbir dari mushalla rumah makan legendaris ini menyeruak dihati Rizal, tak terkata lagi rindu akan anak-anaknya. Para penumpangnya pun merasakan hal yang sama, mereka pun ingin segera sampai ditujuan. Rizal sengaja mematikan hpnya karena ia tak punya kata lagi untuk beralasan kepada Zahra putri kesayangannya. Diantara liku jalan antara Sialang hingga Tanjung Gadang, bus yang dikemudikan Rizal terus meliuk menjemput rindu dan bahagia.

Ketika bus yang dikemudikan Rizal melintas kota Solok ia berpapasan dengan jamaah yang menuju Masjid dan lapangan untuk menunaikan shalat Id. Sesekali Rizal melihat beberapa anak yang tampak bahagia bergandengan tangan dengan orangtuanya. Terbayang kedua anaknya, Rizal memperdalam injakan dipedal gas, raungan busnya keras terdengar diliukan jalan pinggir danau Singkarak.

Menjelang tengah hari busnya bergerak lamban menikmati arus tersendat sepanjang jalan Padang Luar, sementara dibelakang penumpangnya mulai berkemas karena telah sampai ditujuan. Sambil memainkan kemudi Rizal memikirkan kata pelipur hati Zahra nantinya, karena ia tau anak gadisnya sangat kecewa karena Ayahnya tak memenuhi keinginannya. Ketika bus berbelok ke halaman pool tampak Zahra dan Nabil dalam pelukan ibu mereka diantara penjemput lainnya. Rizal yang tak kuasa menahan haru menitikan air mata dibalik kaca mata hitam yang sengaja dikenakannya, kedua beradik itu segera naik begitu Rizal membuka pintu samping kemudi. Lama mereka bertiga berpelukan melepas rindu seakan sekian lama tak bertemu.

“Maafkan Ayah nak” hanya itu yang mampu diucapkan Rizal sambil mengusap kepala kedua bocah kesayangannya.

“Ya, Yah, kakak mengerti”

“Kata Ibu, Ayah tak dirumah lebaran karena Ayah cari uang buat kami, Ayah jangan menangis…”

Zahra mengerti apa yang dirasakan Rizal.

“Maaf lahir bathin ya Yah, kami sayang Ayah”

“Ini Zahra bawakan Lamang sama Tapai kesukaan Ayah, walau tak lebaran dirumah kita masih bisa berkumpul disini”. Zahra menyeka air mata Rizal yang larut keharuan karena putrinya telah mengerti tugas Ayahnya.

Bareh Solok, Ujung Ramadhan 2017

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...