Ratok Rukayah, Rindu Tergadai di Bilik Rantau
cerpen : Fendi Moentjak
“Simpan saja rindumu, bungkus rapi dengan aturan pemerintahmu yang tak membolehkan mu melihat Mande yang melahirkan dan membesarkanmu,” lirih namun pedih, itulah yang kurasakan saat Mande berucap di video call sehabis Magrib tadi.
Ingin kutumpahkan sesak di dada, tentang rindu akan peluk Mande, tentang rindu akan senyum Mande, tentang rindu akan “bada baka” dan samba lado uwok yang sering disajikan Mande untuk kami adik beradik.
Tak tertahankan rindu akan usapan Mande sebelum tidur diiringi kalimat agar bersyukur atas nikmat Allah hari ini dan berdoa agar besok diberi nikmat dan rezki yang lebih banyak lagi.
“Mande….. denai juga taragak…” ungkapan rindu pun terucap namun tak didengar Mande.
Telah berganti hari rupanya, telah hampir parak siang namun kerinduan akan Mande masih menyesak di dada. Sebuah cerita tak berkesudahan yang menghinggapi beberapa hari terakhir, sejak pemerintah melarang mudik dan gubernur di kampung juga juga menghimbau untuk tak pulang kampung
Puncaknya senja tadi, orang paling berharga dalam hidupku menumpahkan emosi. Tanpa pisau, lukanya kurasakan perih hingga kini.
Ini akan menjadi Rayo terberat kami, tanpa dapat berkumpul seperti lebaran sebelumnya. Tahun ini tak bisa kami pulang basamo dan tak bisa pula kami menunggu Mande di bandara seperti biasanya.
Saat kumarahi diriku yang tak bisa memenuhi permintaan Mande, alaram yang ku berbunyi. Suaranya pun ingatkan tentang kebiasaan Mande yang membangunkan di kala sahur, dan saat Subuh menjelang. Mande tak kan pernah jujur mengatakan waktu yang sebenarnya.
Namun itulah kebohongan Mande yang kuhalalkan dan kini menjadi kisah indah dalam hidupku. Tersenyum ku membayangkan teriakan Mande dipintu bilik mengatakan hari hampir jam lima sebentar lagi sahur.
Padahal waktu baru pukul setengah empat. Pengobat kecewa kami adik beradik setelah dibohongi, Mande menyediakan segelas teh manis berkawan goreng Singkong hangat sebagai makanan pembuka sahur.
“Kebohongan” Mande itu terjadi setiap hari selama Ramadhan atau setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Namun tak pernah ada dendam telah dibohongi, akupun tak menyangka kalau semua itu akan menjadi kisah indah dihari ini.
“Mande aku pun rindu….,” kembali ucapan lirih itu terucap bersama sesak di dada.
Ku buka android, dalam deretan berita pilihan semuaya membahas tentang Corona. Banyak aturan baru yang harus dipatuhi dan saran agar terhindar dari virus mematikan tersebut. Namun tak satupun yang membahas tentang cara menebus rindu pada Mande Kanduang.
Awal ku merantau, surat lah jadi pembentang rindu penyambung tali kasih ibu dan anak. Walau sekali sebulan, ini menjadi ruang bagi kami saling menumpahkan “raso taragak”. Semua pengalaman di rantau ku tumpuk dalam beberapa lembar kertas. Begitu juga sebaliknya, akan bercerita tentang kehidupan dikampung dengan tulisan tegak bersambungnya.
Bahkan permintaan restu untuk menikahpun kusampaikan lewat surat bersama selembar foto sang calon, sebaliknya Mande menyampaikan keberatan juga lewat surat. Ku ajukan banding untuk mempertahankan pilihan ku, kembali balasan berisi keberatan ku terima.
Ini terjadi beberapa kali hingga akhirnya Mande mengalah setelah calon yang kuajukan urang awak, walau ku tahu saat itu restu Mande belum sepenuhnya.
Tahun berjalan, komunikasi berlanjut. Surat berkurang berganti dengan telepon sekali dua minggu dan kadang sekali seminggu. Itupun kami lakukan tengah malam, karena saat itu tarif telepon lebih murah. Untuk mengobati rindu pada cucu ku kirimkan Mande foto-fotonya, jika rindu suaranya kami menelpon.
Walau harus ke wartel tengah malam, aku pun bahagia mendengarkan suara bocahku di gagang telpon pada Mande. Mande pun senang, walau yang didengar hanya tangisan bayi dan sesekali ocehan yang entah apa artinya.
Musim berganti teknologi semakin maju dan Mandepun semakin tua. Komunikasi memakai hape memupus rindu lewat video call. Air mata ini akan berlinang tatkala jemari tua Mande mengusap wajah kami di layar hape. Mande memanggil cucunya satu persatu untuk saling tatap melepas taragak.
Namun senja tadi, tak ada usapan mande yang kadang tanpa sengaja menutup video callnya. Tatapan kemarahannya cukup menamparku yang tak berdaya karena kondisi.
Mande, maafkan anakmu yang hanya bisa menahan rindu dari bilik rantau ini.
Baca Juga :



Facebook Comments