Ratok Rukayah, Lebaran Ini Ia Tak Pulang

Ratok Rukayah, Lebaran Ini Ia Tak Pulang

cerpen : Fendi Moentjak

Rukayah, wanita tua yang hampir seabad umurnya duduk selunjur di dipan usang tak jauh dari pintu menuju ruang tengah Rumah Gadang. Matanya sembab, semalaman ia menangis setelah menerima kabar kalau Syofian anak sulungnya tak pulang dari rantau tahun ini.

Dari jendela, tatapan nanarnya memandang Ikan di kolam disaming rumah gadang. “Tahun ini jumlahmu tak akan berkurang, yang akan menangkapmu tak pulang tahun ini” Rukayah mengucap sendiri sambil menatap Ikan.

Rosminar dan anaknya Juita hanya bisa menatap pilu pada wanita tua ini yang telah menjadi ibu angkatnya ini. Ia memahami betul perasaan Rukayah yang sangat kecewa dengan keadaan.

“Minumlah Anduang dulu, ini susu hangat dan Pinukuik kesukaan Andung,” Juita meletakan nampan sambil memijit kaki Rukayah.

Bukannya menjawab, lamunan Rukayah berubah jadi tetesan bening disudut mata keriputnya. Rosminar yang memahami perasaan Rukayah duduk disampingnya, dipijitnya bahu Rukayah.

“Alhamdulillah masih ada kalian berdua, kalau tidak mungkin saya sudah menjadi bangkai saja disudut dapur ini,” tangis Rukayah makin menjadi.

Mendengar ucapan Rukayah, Rosminar pun ikut menangis, tak kuasa ia membayangkan andai saja dirinya di posisi Rukayah. Sekarang ia masih punya Juita yang selalu bersamanya menemani pagi petang, dan menjadi tempat bercerita.

pulang

“Mande tak boleh berkata begitu, kami disini selalu ada untuk mande,” Rosminar pun ikut tersedu.

“Kalau lah tidak karena kalian, ingin aku mati saja, punya anak banyak tapi tak ada yang peduli,” ujar Rukayah terbata.

Dengan lembut Rukayah menerangkan kalau anak-anak Rukayah bukan tak peduli, tai mereka di rantau punya aktivitas yang padat untuk mengais rezeki. Setiap hari mereka menelpon Rukayah, saling tatap di video call melepas rindu. Selalu berkirim uang pada Rosminar untuk memenuhi kebutuhan Rukayah.

BACA JUGA  Nagari Jawi-Jawi Guguak Masuk Nominasi Kampung Keluarga Berkualitas Tingkat Sumbar

“Yang Mande butuhkan tak cuma uang Ros…,” ucapnya lirih sambil menyeka mata dengan Tingkuluaknya.

“Syofian, Syamsul, Fatimah… tak sayang kalian dengan Mande nak…,” dipanggil nama ketiga anaknya oleh Rukayah.

Rosminar yang sudah hafal dengan pakobeh Rukayag memapahnya berdiri, membawanya ke rumah Gadang. Dengan bertumpu ke tongkatnya, Rukayah memandang tiga buah foto besar berfugura emas yang dipasang menghadap beranda.  Itu foto anak-anak Rukayah dengan keluarganya.

Rukayah berjalan kedepan bilik ujung, dipandangnya pula foto ia dan almarhum suaminya saat menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

“Cepat sekali Tuan tinggalkan kami, kini anak-anak pun tak akan pulang menengok Mande dan pusara Ayahnya,” kembali Rukayah menyeka mata dengan ujung Tingkuluaknya.

“Nduang, ayo diminum susunya, nanti Juita yg dimarahi sama Mak Adang kalau Anduang tak minum,” kembali Juita membujuk Rukayah.

pulang

“Bukan kau yang dimarahi, harusnya dia yang kena marah,” jawabnya sebelum meneguk gelas yang disodorkan Juita.

Kini Rukayah tak kembali ke dapur, tertatih ia melangkah ke beranda. Disuruhnya Juita membuka jendela di beranda. Lurus tatapannya ke halaman, tak ada ucapan. Entah.apa yang ada dipikirannya. Baik Juita atau Rosminar tak berani menanya, keduanya ikut terpaku.

“Bilang sama Pian, Samsul, dan Fatimah, kalau mereka pulang nanti, Mandenya tak lag menunggu di beranda, tapi terbujur kaku didepan bilik ujung,” ucapan Rukayah lirih namun penuh emosi.

Sehabis Magrib Rukayah duduk tersandar di tonggak tangah Rumah Gadang. Dipanggilnya Rosminar dan Juita duduk bersamanya bertadarus seperti biasa.

“Jangan kau hidupkan juga tivi tu, benci aku sama Pemerintah. Teganya mereka melarang orang pulang kampung. Tak bisa mereka merasakan beratnya menanggung rindu pada anak cucu,” kata Rukayah memperbaiki mukenahnya.

BACA JUGA  Pembangunan cagar Budaya Kuburan Sibohong Syekh Burhanuddin Dimulai

Walau telah berumur Rukayah masih bisa menonton televisi dan menyimak berita di tayangkan. Awalnya Rukayah tidak begitu peduli dengan kondisi kini. Termasuk tentang Covid-19 yang berbahaya.

Ketika semalam ia video call dengan Syofian baru ia sadar dampaknya mereka tak bisa bertemu. Begitu pula ketika komunikasi berlanjut dengan Syamsul dan Fatimah, jawaban yang sama membuat hatinya tersayat.

Saat ketiganya bergantian membaca Al Qur’an, hape Juita berbunyi, setelah melihatnya bergegas ia memasang tripod didepan Rukayah.

“Mak Adang menelpon Anduang,” ujarnya memberi tahu.

Rukayah hanya diam tak ada suara, tatapan lurus pada Syofyan yang saat itu bersama anak-anaknya.

“Simpan saja rindumu, bungkus rapi dengan aturan pemerintahmu yang tak membolehkan mu melihat Mande yang melahirkan dan membesarkanmu,” Rukayah larut dalam emosinya.

“Biar tubuh tua ini memendam pula rindu dihatinya hingga nanti rindu itu terkubur pula bersama bangkai buruk ini. Jika kau pulang nanti mungkin tak ada lagi wanita buruk yang menyambutmu di beranda, mungkin ia sudah terbujur kaku didepan bilik ujung berselimut kain panjang menunggu diantar ke tempat terakhirnya…..” tak sanggup lagi Rukayah meneruskan kata-katanya. 

Facebook Comments

Google News