Gunung Talang dan Kopi Dingin Pecinta Alam

gunung

Oleh Penikmat Kopi Dingin

Pagi ini. Seperti biasa,ditemani kopi pahit. Sambil jempol keriput ini asyik gulir Medsos di gawai yang udah retak.
Lagi enak nyeruput, langsung tersedak. Bukan soal berita tentang istri jendral yang jadi tersangka. Tapi ada tulisan berjudul Fashion Week Gunung Talang.
Setelah dibaca jadi pengen ketawa terbahak. Tapi takut dianggap Skizofrenia. Pengen nangis tapi bukan lagi senja. Meski usia masih sore.

Baca juga: Bupati Solok Irup Upacara HUT Ke-77 RI di Camp Gunung Talang

Gunung Talang dibahas. Ada sampah, ada edelweis, ada pegawai. Tapijurusnya sama. Mencari kambing hitam. Selesai.

Bicara soal alam, jangan sampai mengaku orang yangpaling pecinta alam. Yang lain dianggap mandul.Begituhebatnya.

Perayaan kemerdekaan di Gunung Talang kali ini fenomenal. Dua tahun dihantam pandemi covid-19, wisata alam nyaris lumpuh, ekonomi layu. Imbasnya tentu ke semua sektor, baik pendidikan, kesehatan, sosial dan lainnya.

Dibukanya Gunung Talang saat perayaan kemerdekaan jadi magnet besar bagi pegiat alam, dan masyarakat.

Ini acaranya rakyat. Gunung Talang terbuka bagi siapa saja, dan bukan punyanyabupati, atau pun gubernur.

Siapa pun berhak menikmati anugerah tuhan itu apalagi sambil mengenang jasa para pahlawan.

Penulis hadir. Hadir sebagai penikmat kopi dingin di puncak Gunung Talang.Kehadiran sebagai bentuk nasionalisme di puncak tertinggi di Kabupaten Solok itu. Tak lebih.

Baca juga: Bupati Solok Pimpin Apel Pembersihan Puncak Gunung Talang

Ada yang beda saat pengibaran bendera merah putih pada saat itu.Lagu Indonesia Raya dilantunkan. Ada 10 ribu lebih yang hadir.

Entah kenapa. Seakan ada yang mengiris bawang.Banyak pendaki yang terharu meneteskan air mata.

Pria gondrong di depan penulis contohnya. Sambil hormat ke bendera, pipinya basah. Ia mewek tanpa malu.

BACA JUGA  PSBB di Awal Ramadhan, Siswa di Kab. Solok Dirumah Hingga 29 Mei

Di kanan saya juga ada pemuda bertopi eiger ikut matanya berkaca-kaca. Suaranya lantang menyanyikan lagu kebangsaan.

Penulis bangga. Dada ini rasa begemuruh. Teman-teman pendaki ini seperti baterai yang memacu semangat.

Bulu di tangan berdiri. Air mata ini akhirnya tumpah. Edan, suasana yang tak pernah sayarasakan.

Momen nasionalisme itu jadi sejarah bagi mereka yang hadir.

Sebagai wisata alam yang dikelola oleh Pokdarwis di masing-masing jalur pendakian, ini juga menjadi tonggak baru untuk bangkit. Bangkitnya ekonomi.

Mereka senang. 10 ribu lebih yang datang. Ada perputaran cuan untukmasyarakat sekitar. Pedagang, pemandu, ojek dan lainnya.

Tentu ada kuncinya. Tak lain adalah kelestarian alam. Ini poin pentingnya. Karena yang dijual adalah keindahan alam. Kalau rusak, jangankanmanusia, cacing pun enggan.

Awalnya ada yang pesimis, karena yang hadir ribuan orang. Sampah pasti berserakan.

Dugaan itu terpatahkan. Kekompakan pegiat alam, Pokdarwis, dan masyarakat itu membawa dampak positif. Pengelolaan sampah diperketat.

Ada kewajiban sampah untuk dibawa pulang. Bahkan disediakan bak sampah di pintu masuk jalur pendakian. Acara selesai, peserta juga wajib melakukan aksi bersih-bersih. Semua, tak terkecuali pejabat atau siapa pun itu.

Edelweis dijaga. Karena tentu ada sanksi hukum karena tumbuhan yang dilindungi.

Ada rumput yang rusak terinjak? Ya, ada. Rumput liar.Semut juga ada yang terinjak.

Ada yang menyanyi? Pasti ada. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan ribuan orang. Berisik? Apa mungkin diusulkan nyanyi dalam hati?

Ada yang nyanyi lagu indie? Bisa jadi. Para pendaki menyanyi menghibur hatinya yang lelah. Bergitar bawa lagu slank mungkin, Fiersa Besari atau bisa jadi lagu Ojo Dibangdingke atau BTS.

Tentu semua ada etikanya. Jika bernyanyi di malam hari di saat yang lain lagi istirahat tentu mengganggu. Kopi panas pun mungkin bisa melayang ke wajah.

BACA JUGA  Disparpora Agam Gelar Pelatihan bagi Pengelola Desa Wisata,

Ada yang ngaku tak suka mereka menyanyikan lagu di gunung.Tapi jempol kakitetap bergoyang mendengarnya. Apalagi dengar lagu Bapak dari Ikshan Skuter.

Bicara bapak. Banyak bapak-bapak yang berstutus ASN ikut mendaki saat perayaan kemerdekaan di Gunung Talang.

Mereka berjuang. Umur tak jadi halangan. Begitu juga para ibu-ibu. Mereka ikut merasakan susahnya jalur pendakian. Namun, tentu belum sebanding dengan pengorbanan para pejuang yang telah gugur.

Yang enak itu merasa jadi si paling pecinta alam. Cukup minta uang ke bapak yang PNS dan ibu yang juga PNS untuk beli gitar. Apalagi punya orang tua PNS Pemkab Solok. Cover lagu Ikhsan Skuter. Lalu tulis tentang keprihatinan alam Gunung Talang.Meski hidup dari uang APBD, lalu merasa paling kritis. Enak bukan?

Sesekali cobalah kopi dingin di puncak Gunung Talang. Atau malamnya melihat bintang sambil tiduran. Bercerita tentang apa yang telah diperbuat.

Tapi saat melihat bintang jangan pernah meludah ke atas, karena ludah itu akan berbalik menimpa wajah, apalagi liurnya bau t#ik.

Oh ya. Jika mendaki jangan lupa bawa skop kecil untuk menimbun t#ik di tanah.

Salam Kopi Dingin Gunung Talang

Baca juga: Pemkab Solok Laksanakan Upacara Bendera HUT RI ke-77 di Puncak Gunung Talang

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakSyofiar Syam Jadi Narasumber Kegiatan Konsolidasi Kebijakan Kota Tanggap Ancaman Narkoba
Artikulli tjetërMakrame Gelar Workshop Bagi Disabilitas dan Perempuan