Haji Rasul dalam Peristiwa Agustus

Haji Rasul dalam Peristiwa Agustus

Haji Rasul dalam Peristiwa Agustus

Oleh: Hendra Sugiantoro

Hamparan laut itu tak asing lagi dengan seseorang di atas kapal. Berlayar dari Padang, seseorang itu telah dua kali melawat ke Pulau Jawa. Namun, pertengahan Agustus 1941, nasibnya tak seperti pada 1917 dan 1925.

Barangkali ombak dan lautan lepas yang ditatap seseorang di atas kapal itu yang mengantarkannya menuju Mekah pada 1894 dan Mesir pada 1926. Bukankah bumi berputar? Namun, setelah Agustus 1941, air laut itu akan terus berputar-putar dan memendam rindu.

Buya Hamka dalam buku Ajahku: Riwajat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera (1967: 57) mencatat kelahiran seseorang di atas kapal itu, “Pada hari Ahad 17 Safar tahun 1296 (10 Februari 1879) lahirlah beliau kedunia, disuatu kampung ketjil bernama Kepala-Kebun, djorong Betung-Pandjang, negeri Sungai Batang Manindjau, dalam Luhak Agam. Diberi nama oleh ajahnya Muhammad Rasul.”

Di kampung kecil dan konon perawakan anak Muhammad Amrullah gelar Tuanku Kisai itu juga kecil. Kendati badannya tak besar, ia sanggup menggetarkan Minangkabau. Ia terbilang pemberani untuk mengombak deraskan arus pembaruan Islam. Ia tak segan beradu argumen dengan siapa pun demi kebenaran.

Zainuddin Labay (1890-1924) sempat berpuisi, “Setengah pemarah pula sifatnya,/Bila diminta terang padanya,/Dalil yang nyata pada hukumnya,/Bulalang mata diberikannya/”. Puisi yang aslinya tiga bait karya kakak Rahmah El-Yunusiyyah ini demi perasaan kagum dan bangga dengan gurunya itu (Hamka, 1967: 254-255).

Dibandingkan dengan semua kawan karibnya di Minangkabau, Muhammad Rasul yang akhirnya populer dengan nama Haji Abdul Karim Amrullah memang tak kenal kompromi, apalagi jika berhadapan dengan penjajah. Bolehlah dikata mirip dengan Rahmah El-Yunusiyyah yang sehelai napas pun tak sudi menghirup bau Belanda.

BACA JUGA  Puskesmas Simpang Tanjung Nan IV Lakukan Vaksinasi Covid-19 

Sejak lama, Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul memang telah diintai Kompeni. Catatan kolonial bertimbun menulis namanya sebagai sosok antagonis. Sebagaimana dikutip Audrey Kahin (2005: 59), Ch. O. van der Plas dalam salah satu laporannya menulis “seorang tokoh yang mengganggu dan pelawan…”

Belanda semakin gerah ketika Haji Rasul pada 18 Agustus 1928 mampu menggerakkan 2.000 orang yang mencakup kaum agama di Sumatera Barat dan Kerinci menentang Ordonansi Guru. Ordonansi yang dirumuskan pada 1905 ini telah diberlakukan di Jawa. Dalam revisinya pada 1925, setiap guru agama tak perlu lagi mengantongi izin, namun hanya mengabarkan rencana kegiatan (Hendra Sugiantoro, 2021: 102-103).

Dalam catatan Buya Hamka (1967: 152), Haji Rasul sebelum rapat akbar digelar didatangi Dr. de Vries. Tak lama bercakap, Haji Rasul berlagak sakit kepala dan mengaku tak bisa duduk lama. “Beliau masuk ke kamarnya dalam kutub chanah itu dan tidak keluar lagi. Dr. de Vries pulang ke Bukittinggi dengan kegagalan yang menyolok mata,” tulis Hamka.

Utusan Belanda itu masih penuh harap ketika ikut hadir dalam rapat akbar di surau milik Muhammad Djamil Djambek. Dr. de Vries akhirnya hanya pucat pasi kendati telah merayu segelintir agamawan.

Haji Rasul mampu merekatkan semua ulama berpadu. Tak ada lagi saling berpecah, berbelah, dan berselisih. Kendati dua kawan karibnya yang beroleh medali Belanda (baca: Abdullah Ahmad dan Muhammad Djamil Djambek) tak datang, ia secuil pun tak gentar. “Seorang diri pun akan saya lanjutkan juga perjuangan ini,” kata Haji Rasul mantap (Hamka, 1967: 153-154).

Tak hanya Ordonansi Guru, Haji Rasul pun menolak Ordonansi Sekolar Liar (1932) dan Ordonansi Kawin Bercatat (1937). Masih terbuktilah yang dilaporkan Ch. O. van der Plas tertanggal 16 Mei 1929, “…dia adalah seseorang yang tidak ada seorang pun sanggup bekerja sama dengan dia untuk jangka panjang.”(Audrey Kahin, 2005: 59).

BACA JUGA  Satpol PP Padang Panjang Gerebek Warung Kelambu

Sekian lama mengintai dan menguntit, Belanda akhirnya takluk dengan pergerakan Haji Rasul. Pendiri Sumatera Thawalib Padang Panjang itu ditangkap dan dipenjara di Bukittinggi pada Januari 1941. Minangkabau pun terasa kehilangan sosoknya. Ulama kaum tua dan kaum muda berupaya agar Haji Rasul tak sampai diasingkan. Kaum pergerakan pun turut bersuara, bahkan dibahas pula di Volskraad.

Namun, nasib Haji Rasul akan seperti Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro. Lautan lepas itu menjadi saksi Haji Rasul tak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Pertengahan Agustus 1941, ombak bergulung-gulung mengantar Haji Rasul ke tempat pengasingan.

Akibat kekalahan Belanda oleh amukan Jepang, Haji Rasul hanya beberapa saat diasingkan di Sukabumi. Sekitar April 1942, ia menghirup udara Jakarta sampai akhir hayatnya. Seperti pada zaman kolonialisme Belanda, Haji Rasul juga ulama paling berani di hadapan Jepang

Haji Rasul meninggal pada 2 Juni 1945, ketika dua bulan beberapa hari lagi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berkumandang. Wallahu a’lam.
(Hendra Sugiantoro, pemerhati sejarah dan penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia).

Tulisan Hendra Sugiantoro lainnya:

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaKetua TP PKK Kabupaten Solok Resmikan Pos Gizi Cinto Sehat di Aia Luo
Artikel berikutnyaDatangi Lokasi Kebakaran, Walikota Solok Apresiasi Perjuangan Damkar