Proklamasi Kemerdekaan versi Sumatera

Proklamasi Kemerdekaan versi Sumatera

Proklamasi Kemerdekaan versi Sumatera

oleh Hendra Sugiantoro

Siapa pengibar bendera Merah Putih pertama kali di Sumatera atau di Sumatera Barat, lebih khusus lagi di Padang Panjang?

Menjawab pertanyaan itu tak semudah mencabut sehelai rambut dari kulit kepala. Kemungkinan besar adalah mereka yang bergerak di bawah tanah. Lewat saluran-saluran yang dimiliki, orang-orang di bawah tanah ini secepat kilat mengibarkan Merah Putih. Misal di Solok ada kelompok gerakan bawah tanah pimpinan Sultan St. Malako.

Mereka yang berada “di atas tanah” cenderung masih memastikan akurasi. Di Sumatera, berita proklamasi diterima pada 17 Agustus 1945 sekitar sore dan malam hari oleh kantor Pos, Telepon, dan Telegraf (PTT) Bukittinggi dan Padang.

Sekitar Agustus 1945, orang-orang belum memiliki android seperti zaman kini. Jika pun Sukarno saat membacakan teks proklamasi mengenakan pakaian Baduy tak bakal membuat heboh. Di daerah-daerah terpencil, berita proklamasi malah diketahui pada September 1945.

Dari stasiun PTT, tokoh-tokoh seperti Mohammad Syafe’i, Chatib Sulaiman, Djamaluddin Adinegoro, Leon Salim, Zainal Zinoer, Achmad Basah, dan lainnya mengetahui berita proklamasi. Berita proklamasi pun disebarkan ke seluruh stasiun komunikasi di setiap ibukota keresidenan di Sumatera. Sebagaimana kita ketahui, Bukittinggi saat itu merupakan pusat pemerintahan Sumatera dengan sembilan keresidenan. Para pemuda dari kantor PTT itu juga menempel teks proklamasi di tempat-tempat strategis keesokan harinya.

Tulisan Terkait : “Etek Amah” Pertama Kali Kibarkan Merah Putih di Padang Panjang

Di Alanglawas, 18 Agustus 1945, rumah A. Muluk pun heboh. Ismail Lengah dan kawan-kawannya yang pernah di Giyugun berkumpul sembari minum kopi. Beberapa eks anggota Giyugun Ko En Kai juga ikut nimbrung. Akhirnya mereka meresmikan Badan Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI).

BACA JUGA  Hari Lahir Pancasila, Bupati Solok Ikuti Video Conference Bersama Presiden

Di Bukittinggi, para pemuda membentuk sebuah badan bernama Pemuda Indonesia (PI)–kelak diubah Pemuda Republik Indonesia (PRI). Banyak badan atau organisasi ketika itu. Selain menyebarkan warta proklamasi, mereka juga memastikan suasana tetap kondusif dari segala kemungkinan gangguan pihak Jepang.

Kita bisa bayangkan ketika itu. Berita proklamasi dari mulut ke mulut kerap disangsikan. Pihak Jepang tak kendur melakukan sabotase. Urusan Jepang sebagai pecundang Perang Dunia II memang mempertahankan status quo. Bukan hanya rakyat kecil, tokoh-tokoh masyarakat pun kerap sangsi dengan kenyataan berita proklamasi.

Mereka yang bergerak “di atas tanah” pada 24 Agustus 1945 yakin 100% bahwa proklamasi kemerdekaan benar-benar dikumandangkan di Jakarta. Kantor PTT Bukittinggi juga mendapatkan pesan dari Jakarta bahwa seluruh rakyat diwajibkan mempertahankan kemerdekaan.

Dengan keyakinan 100% itu, Mohammad Syafe’i (1893-1969) sebagai Ketua Ho Ko Kai Sumatera mengonsolidasikan anggota-anggotanya pada 27-29 Agustus 1945. Badan ini merupakan metamorfosis dari Sumatera Tjuo Sangi In. Selain menindaklanjuti proklamasi kemerdekaan, mereka juga ditugaskan membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Dari berbagai referensi, KNID Sumatera Barat juga dibentuk sampai tingkat kawedanan dan nagari. Di Padang Panjang, pembentukan KNI Padang Panjang dilaksanakan di Diniyyah School Puteri.

Usai rapat di Padang, pada 29 Agustus 1945, Mohammad Syafe’i membacakan Permakloeman Kemerdekaan Indonesia. Dalam teks tambahan ada dua poin penting. Pertama, Mohammad Syafe’i atas nama Bangsa Indonesia di Sumatera mengakui kemerdekaan Indonesia sebagaimana Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kedua, Mohammad Syafe’i atas nama Bangsa Indonesia di Sumatera menjunjung keagungan Sukarno-Hatta sebagai pimpinan Indonesia.

Setelah Permakloeman Kemerdekaan Soematera, bendera Merah Putih tentu dikibarkan di mana-mana. Tanpa khawatir, gentar, dan takut kendati tak lama kemudian rakyat Sumatera merasa geram Merah Putih diinjak-injak tentara Sekutu dan Belanda. Wallahu a’lam.
(Hendra Sugiantoro, pemerhati sejarah, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia).

Tulisan Hendra Sugiantoro lainnya :

BACA JUGA  Virtual, Peringatan Detik Detik Proklamasi di Bukit Sundi Tetap Khidmat

 

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaMeski Diguyur Hujan, Upacara Penurunan Bendera di Agam Khidmat
Artikel berikutnyaGadis Komandan Pleton Paskibra Itu, Siswa SMA Kubung asal Bawah Duku