Ajaklah Anak Mandiri Sejak Dini
Oleh : Nuryasni, S.Pd.AUD, Guru TK Aisyiyah Batusangkar / CGP Angkatan IV Kab.Tanah Datar
Mengajarkan kemandirian pada anak nyatanya perlu dilakukan sejak usia dini agar sikap maandiri benar-benar tumbuh dalam diri. Sikap mandiri sebaiknya mulai diajarkan dan ditanamkan sejak dini sebab pada usia dini tersebut sikap anak terbentuk menjadi sebuah pondasi yang akan dibawa hingga dewasa.

Cara Menumbuhkan Sikap Mandiri Anak
Mengajarkan kemandirian pada anak membutuhkan waktu yang tidak sebentar bagi sebagian orang tua, proses ini bisa menciptakan tantangan. Pasalnya menumbuhkan sikap mandiri pada anak sejatinya di mulai dari diri orang tua, yakni memberikan anak kepercayaan untuk bisa melakukan aktivitas sendiri. Berikut Tips yang bisa menumbuhkan kemandirian pada anak:
- Biarkan anak menentukan pilihan
Berikan anak kesempatan untuk melihat dan mengobservasi setiap pilihan yang ada. Dalam hal ini, orang tua menjadi teman diskusi anak dalam menentukan pilihannya. Dalam diskusi orang tua tak hanya memberikan pendapat atas setiap pilihan, namun juga membuka pikiran untuk menerima pendapat anak. Diskusi dua arah akan membantu anak berpikir apa yang benar atau salah, sisi positif dan negative. Mengenal arti kensekuensi, untuk kemudian mengambil keputusan.
- Alokasikan Waktu
Berikan anak kesempatan dan kepercayaan untuk melakukan aktivitasnya sendiri tanpa didampingi orang tua. Mulailah dari aktivitas sederhana, seperti makan, memakai baju, merapikan mainan atau kamar tidur dan akativitas lainnya. Hindari menggunakan standar orang dewasa dalam menilai hasil kerja anak. Hargai usaha anak dan semangati dia sesuai dengan usianya
- Selesaikan masalah Sendiri
Berikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikan ia kesempatan untuk mengenal konsekuensi atas pilihannya. Temani anak dengan cara mendengar dan menerima perasaan yang sedang ia alami, tanpa menghakimi, tanpa perlu tergesa-gesa memberikan solusi. Biarkan anak memutuskan solusi atas masalahnya. Baik atau tidak penyelesaiannya yang ia buat, hal tersebut akan menjadi pengalaman berharga dalam proses belajar mandiri.
- Berikan lingkungan yang ramah anak
Ketika anak dalam proses belajar menjadi anak yang mandiri, Anda perlu memastikan lingkungan rumah aman dan ramah baginya. Misalnya, ketika ia belajar untuk mandi sendiri, pastikan lantai kamar mandi dalam keadaan yang bersih dan kesat. Selain itu, anak belajar untuk mencuci piring atau memasak sendiri, berikan ia piring dan gelas plastik atau pilih kegiatan memasak yang tidak terlalu berisiko, seperti memilih dan mencuci sayuran dan buah-buahan.
Hindari memaksa
Orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anaknya, namun hindari untuk sering-sering memaksa anak melakukan sesuatu. Bimbing anak untuk melakukan yang sebaiknya dilakukan, namun berikan pilihan kapan akan melakukannya. Contoh kecilnya makan. Hindari memaksa anaka makan saat ia berkata belum merasa lapar. Biarkan ia mengalami konsekuensi logis atas pilihannya, yakni merasakan lapar karena tidak makan. Sat anak mengenal rasa “Butuh” maka ia akan insiatif melakukannya.
6. Hargai setiap usahanya
Saat anak melakukan suatu hal yang baik dan mampu menumbuhkan sikap kemandiriannya sedikit demi sedikit, pastikan Anda beserta keluarga senantiasa memberikannya pujian. Meski terlihat sepele, memberikan pujian atas semua usaha yang anak lakukan dapat meningkatkan semangatnya untuk terus maju dan mau mengembangkan sikap mandirinya. Melatih sikap mandiri pada anak memang tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu waktu bagi anak untuk memahami dan menerapkan hal tersebut. Yang paling penting adalah orang tua harus menjadi contoh yang baik supaya anak dapat mengetahui bagaimana harus bersikap dan berperilaku.
Sebesar apapun rasa sayang kita pada anak, penting bagi orang tua untuk membuat anak-anak mereka merasa bahwa mereka mampu melakukan sesuatu. Orang tua harus menyediakan peluang, agar anak bisa bertindak sendiri dan bersikap seperti anak besar yang bisa bertanggung jawab mengatasi masalahnya, untuk menumbuhkan kemandirian pada anak-anak bahkan di usia muda bisa juga dengan mengizinkan anak-anak menyiapkan makanan kecil mereka sendiri atau memesannya sendiri.
Mintalah juga pada mereka untuk memilih pakaian mereka sendiri atau membiarkan mereka mengajukan pertanyaan kepada orang-orang tertentu, seperti: seperti bertanya harga di toko mainan, selain itu mulailah mengizinkan mereka berjalan sendiri kerumah teman jika jaraknya terbilang dekat. Dan melibatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah, sehingga nantinya membuat mereka merasa mampu melakukannya dan membantu orang tua, ini mengajarkan mereka tentang bagaimana melakukan sesuatu sendiri dan menjaga diri mereka sendiri. Latih mereka untuk mempraktekkan tiga perilaku hal setiap hari.
Pada usia dua tahun, tugaskan anak untuk menyimpan mainannya sendiri. Pada usia empat tahun, biarkan mereka membantu memberi makan hewan peliharaan, dan pada usia enam tahun, tugaskan mereka untuk menyingkirkan cucian. Dengan cara ini, mereka dapat mulai membangun kepercayaan diri mereka dengan benar.
Anak adalah titipan Allah yang kelak ketika sudah dewasa akan lepas dari orang tuanya dan hidup mandiri. Oleh sebab itu, orang tua harus membekali anak dengan keimanan kuat dan aturan serta prinsip tegas dalam menjalani kehidupan. Begitu pula bekal pengetahuan dan pengajaran. Meski begitu, saat ini jarang orang tua yang menerapkan pendidikan islam bagi putra mereka.
Padahal, dalam Al-Quran dan Sunnah yang dijadikan rujukan dalam pendidikan anak secara Islam, terdapat metode serta cara untuk mendidik dan membentuk karakter anak. Cara mendidik anak pun disesuaikan dengan kematangan berpikir dan usia anak.
Pendidikan yang didasarkan pada kasih sayang dan lemah lembut membuat anak memiliki pribadi yang toleran dan peka. Dalam menegur anak, Rasul mencontohkan untuk memukul tanpa bermaksud melukai. Memukul di sini dilakukan pada area yang tidak merusak fungsi tubuh dan syaraf.
Anak Usia 0-6 Tahun
Anak pada usia 0-6 tahun adalah usia golden age atau usia emas. Pada masa ini perkembangan anak sangat cepat dan harus dirangsang dengan tepat. Stimulus dengan menggunakan mainan edukasi sangat dianjurkan. Selain itu, berikan kasih sayang, bangun kedekatan dengan anak dan bertutur kata lembut kepada mereka. buat anak merasa aman dan nyaman. Jangan pernah biasakan memukul anak ataupun memarahi anak.
Anak Usia 7-14 Tahun
Pada usia ini, mulai kenalkan tanggung jawab dan kedisiplinan. Mulai latih anak untuk mendirikan salat 5 waktu dengan tepat. Berikan sanksi jika anak tidak mendirikan shalat. Jika sanksi berupa pukulan, maka jangan berikan pukulan menyakitkan. Selain itu, mulai pisahkan tempat tidur mereka.
Anak Usia 15-21 Tahun
Di masa ini, anak cenderung mulai memberontak. Hal ini dikarenakan anak memasuki masa pubertas. Gunakan pendekatan yang baik dan halus ketika anak melakukan kesalahan. Bangun rasa nyaman anak sehingga anak menganggap orang tua sebagai sahabat. Jika memiliki saudara, hendaknya saat memarahi atau menghardik anak tidak di depan saudara mereka. Hal ini agar mereka tidak jatuh harga dirinya.
Anak Usia 21 Tahun ke Atas
Pada masa usia ini, anak mulai diberikan kepercayaan dan kebebasan. Namun begitu, kebebasan yang diberikan tetap harus memiliki konsekuensi berupa tanggung jawab dan tidak menyalahi peraturan. Orang tua memiliki peran untuk mengarahkan ketika anak mengalami kesulitan dan memantau mereka. Berikan kebebasan anak untuk membuat keputusan.
Ingatlah
Mencintai anak itu belum cukup, karena satu hal yang paling penting adalah anak sadar mereka dicintai orang tuanya.
Anak-anak lebih membutuhkan kehadiranmu, dari pada hadiah semahal apapun didunia ini.
Jangan paksa anak agar menjadi seperti dirimu karena mereka tidak lahir di zamanmu.
Seseorang yang menjadi juara adalah mereka yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkannya.
ajak ajak ajak ajak ajak ajak ajak ajak ajak ajak ajak



Facebook Comments