Kolom Penyuluh, Mensyukuri Nikmat Sebelum Hilang

Kolom Penyuluh, Mensyukuri Nikmat Sebelum Hilang

Mensyukuri Nikmat Sebelum Hilang

Oleh : Hadi Sulman, S.Ag, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kab. Solok

Seorang ahli Hadis dan Ulama kenamaan Abad ke 2 H yang bernama Yunus bin Ubaid, suatu hari beliau dikunjungi oleh seseorang yang mengeluhkan hidupnya yang sungguh sengsara. Di saat sulit mencari nafkah, ia juga tertimpa kesulitan-kesulitan lain yang makin menghimpit dirinya. Setelah lama mendengarkan semua keluhannya, Yunus lalu berkata, “Sebenarnya, berapa banyak uang yang kamu perlukan?” “Seribu Dinar,” jawabnya mantap. Yunus lalu melanjutkan pertanyaannya, “Maukah engkau memiliki uang seribu Dinar, namun kedua matamu hilang?” Orang itu segera menjawab, “Tidak.”

“Maukah engkau memiliki uang seribu Dinar, namun kedua telingamu hilang?”         Orang itu segera menjawab, “Tidak.”

“Maukah engkau memiliki uang seribu Dinar, namun kedua tanganmu hilang?”         Orang itu segera menjawab, “Tidak.”

“Maukah engkau memiliki uang seribu Dinar, namun kedua kakimu hilang?”   Orang itu segera menjawab, “Tidak.”

Yunus lalu menutup ucapannya, “Lihatlah, kamu memiliki lebih dari empat ribu Dinar, tapi tetap mengeluh?”

Kisah ini memperlihatkan betapa manusia sering kali tidak menyadari banyaknya nikmat Allah SWT yang ia miliki, hingga nikmat itu hilang dari dirinya. Pantas jika Allah berkali-kali mengingatkan bahwa nikmat dari-Nya begitu banyak, bahkan tak mungkin bisa dihitung banyaknya, namun hanya sedikit hamba Allah yang bersyukur.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat  Ibrahim ayat 34, yang artinya; Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

 Kemudian dalam QS Ibrahim ayat 7 yang artinya; Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

 Imam Abdul Wahab Al-Sya’rani berkata, “Hendaklah kita menyadari bahwa seorang miskin tetapi ia senatiasa bersyukur kepada Allah maka hidupnya lebih nikmat daripada seorang raja yang tak pernah puas. Sebab dengan kerelaannya atas ketentuan Allah Swt, maka ia akan selalu merasa bahwa apa yang ia miliki sekarang ini terlalu banyak untuknya. Sedangkan sang raja yang tidak pernah puas, selalu merasa bahwa kekuasaan yang ada di tangannya sangat sedikit. Oleh karena itu, ia selalu hidup dalam kelelahan, kesedihan dan peperangan.”

Ibnu Samak (seorang ulama besar) suatu hari mengunjungi istana khalifah sambil membawa segelas air. Khalifah itu lalu memintanya untuk menyampaikan nasehat. Sambil mengacungkan air itu, Ibnu Samak berkata, “Coba Anda bayangkan, andai semua air di dunia ini hilang, yang ada hanya air di gelas ini, dan Anda hampir mati kehausan, maukah anda tukar  setengah kerajaan anda dengan segelas air ini?” Khalifah menjawab, “Ya. Aku pasti bersedia.” “Kalau seluruh kerajaan anda?” “Ya. Daripada aku mati kehausan,” jawab Khalifah lagi. Lalu Ibn Samak berpesan demikianlah nasihatku untukmu: bahwa jangan engkau bangga atas kekayaan dan kekuasaan yang kamu miliki yang harganya tak lebih dari segelas air.”

BACA JUGA  7 Rumah Hangus, SMPN 1 Sungai Tarab Bantu Korban Kebakaran

Hatim Al-‘Asham pernah berkata, “Empat nikmat yang tak pernah disadari oleh manusia kecuali oleh empat orang.

  1. Nikmat sehat hanya disadari oleh orang yang sakit.
  2. Nikmat muda hanya disadari oleh orang yang tua renta.
  3. Nikmat kaya hanya disadari oleh orang yang miskin.
  4. Dan nikmat hidup hanya disadari oleh orang yang sudah mati.”.

Rasulullah SAW bersabda, “Dua nikmat yang sering menipu manusia: Sehat dan kesempatan.” (HR. Al-Bukhari)

Terakhir. . . Abu Hamid Al-Ghazali  menawarkan obat mujarab untuk mengobati penyakit orang-orang yang tidak mau bersyukur ini, yaitu selalu melihat ke bawah. Artinya, ukurlah diri dan keadaan kita dengan orang yang relatif kurang beruntung dari kita. Jika kita berpenghasilan sedikit, lihatlah kepada para pengangguran. Penghargaan dan syukur atas penghasilan sedikit itu akan tumbuh di hati kita.

Dalam kata-kata Al-Ghazali, kita harus memperbanyak berkunjung ke rumah sakit, tempat pemakaman/kuburan dan rumah tahanan. Di rumah sakit, ketika kita melihat berbagai pasien yang menderita, kita akan mensyukuri nikmat sehat. Di pekuburan, kita akan menemukan nikmat hidup dan berkesempatan menghapus dosa dengan bertaubat. Dan di rumah tahanan, melihat para nara pidana di balik terali besi (bahkan ada yang dihukum mati), kita akan menemukan syukur atas nama baik dan kebebasan.

Baca Juga :

BACA JUGA  NA-IC Libatkan Milenial Sumbar Dalam Badan Ekonomi Kreatif Daerah

 

 

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakKunjungi Musala Al Amin Tanjung Bingkung, TSR Kabupaten Solok Berikan Bantuan 10 Juta
Artikulli tjetërWalikota Sawahlunto Deri Asta Buka MTQ ke-30 tingkat Desa Talago Gunuang