Kolom Penyuluh, Makna Sosial Dalam Ibadah Puasa Ramadhan

Kolom Penyuluh, Makna Sosial Dalam Ibadah Puasa Ramadhan

Makna Sosial Dalam Ibadah Puasa Ramadhan

oleh : Riski Irwansyah, Penyuluh Agam Fungsional Kecamatan Danau Kembar

Siang hari yang terik pada bulan Ramadhan di suatu kampung, ketika orang-orang sedang menahan lapar dan dahaga, tiba-tiba datanglah seorang anak kecil yang tidak tahu dari mana datangnya. Kedatangan anak kecil ini menjadi sesuatu yang menggemparkan bagi orang-orang di kampung tersebut.
Bagaimana tidak? Anak kecil yang tak tahu dari mana asalnya dan siapa orang tua ataupun keluarganya berkeliling kampung dari satu ke rumah yang lainnya dengan membawa minuman segar, katakanlah minuman itu semisal es teh ataupun jus. Perbuatan anak kecil ini tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, tetapi sepanjang hari di bulan puasa. Anehnya, anak ini hanya muncul di siang hari saja. Sedangkan ketika pagi ataupun sore hari, anak ini menghilang entah kemana.

Anak kecil tersebut sengaja meminum minumannya sembari memamerkannya di hadapan orang-orang yang tengah berpuasa. Tentu kita dapat membayangkan bagaimana perasaan orang-orang disana yang ketika mereka tengah berusaha menahan lapar dan haus tetapi ada orang dengan sengaja minum minuman segar di hadapan mereka.

Beberapa warga pun mencoba menghentikan tindakan anak kecil ini. Namun ketika warga menangkapnya, mata si anak memerah dan wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Akhirnya, warga tidak berani lagi menghentikan anak ini dan hanya bersabar menyaksikan perbuatan anak ini.

Hari terus berlalu saat anak kecil ini melakukan perbuatan tak terpujinya dan warga hanya berdiam diri menyaksikannya. Akhirnya ada seorang paruh baya yang mencoba memberanikan diri untuk menegur tindakan anak tersebut.

Kali ini sangat berbeda, jika dahulu si anak wajahnya berubah menjadi menyeramkan ketika ditegur oleh warga,di hadapan orang tua paruh baya ini si anak hanya menundukkan wajahnya seakan sadar akan kesalahan yang diperbuat.

BACA JUGA  Ketua DPRD Kab. Solok Pembina Upacara di MAN 3

“Mengapa engkau melakukan ini nak? Tidak tahukah engkau bahwa saat ini orang-orang tengah berpuasa? Lantas mengapa engkau dengan sengaja minum di hadapan mereka? Tak sadarkah engkau bahwa perbuatanmu ini sangat zhalim nak?” tanya si orang tua kepada si anak sembari memegang tangannya. Anak tersebut masih menundukkan kepalanya dan diam seribu bahasa tanpa berani melihat kepada orang tua yang menegurnya tersebut.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba si anak menatap dengan tajam orang tua yang menegurnya sembari berkata, “ Maaf  pak, saya tahu ini bulan ramadhan, saya tahu orang-orang sedang berpuasa, dan saya sadar betul perbuatan yang saya lakukan selama ini adalah perbuatan yang zhalim. Oleh karena saya minta maaf.”

“ Tapi bukankah selama ini justru kalian yang sengaja pamer di hadapan kami ? bukankah kalian yang dengan lahapnya makan makanan lezat hingga kenyang di hadapan kami, para fakir miskin yang sedang kelaparan? Bukankah kalian yang dengan nikmatnya meneguk berbagai minuman yang manis sedangkan kami para dhuafa dan anak yatim menahan dahaga?. Kalian hanya menahan lapar dan haus dari terbitnya fajar hingga maghrib, dan setelah itu kalian bebas menyantap makanan dan minuman sesuka hati kalian, sedangkan kami para fakir miskin sepanjang hari menahan lapar dan dahaga tanpa pernah tahu kapan kami akan mendapatkan makanan. Jika kalian hanya menahan lapar dan dahaga di bulan ramadhan, maka kami kaum fakir miskin yang terlantar sepanjang tahun menahan lapar. Lantas siapakah sekarang yang zhalim di antara kita wahai bapak?” anak kecil tersebut berbicara yang membuat orang tua paruh baya menjadi terdiam.

Dari kisah di atas , terdapat hikmah puasa yang mungkin sering terlupa bagi kita,apalagi ketika ramadhan nantinya telah berlalu. Pernahkah sejenak kita berpikir untuk apa Allah swt menyuruh kita berlapar-lapar di siang hari, sedangkan di dapur kita tersedia berbagai makanan yang lezat?

BACA JUGA  Plt. Bupati Dharmasraya Sambut Kunjungan Kepala BKKBN Sumbar

Inilah satu di antara hakikat dari ibadah puasa ramadhan yaitu bagaimana Allah swt ingin menumbuhkan rasa peduli dan kasih sayang kita kepada para fakir miskin, dhuafa, anak yatim dan kaum terlantar lainnya. Dengan berpuasa, setidaknya kita merasakan apa yang selama ini mereka rasakan. Ketika kita merasa sulit dan susahnya rasa lapar itu. Maka apakah kita masih tega menyaksikan saudara-saudara kita diluar sana hidup kelaparan tanpa terpikirkan untuk mengulurkan bantuan kepada mereka.

Output dari ibadah puasa adalah lahirnya pribadi-pribadi yang bertaqwa sebagaiman ayat yang lazim kita baca, yakni QS. Albaqarah : 183 “Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun (Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Ketika kita sudah sebulan penuh melakukan ibadah puasa, lantas sudahkah kita langsung mendapatkan predikat orang yang bertaqwa? Jawabannya tidak. Karena jika merujuk kepada ayat-ayat Alquran yang lainnya, banyak sikap yang harus ada agar seseorang dikatakan bertaqwa yang satu di antaranya adalah Allaziina yunfiquuna fissarraaa’i waddarraaa’i (yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit) (QS. Ali Imran : 134)

Marilah kita hayati ibadah puasa ramadhan ini dengan sebaiknya, agar kita menjadi hamba-hamba yang saling mengasihi, saling peduli, dan saling menyanyangi antara satu dengan yang lain, terutama kepada merekayang membutuhkan. Jangan sampai kita yang menjalani tarbiyah ramadhan tapi malah menjadi seorang pendusta agama. Ara-aital lazii yu kazzibu bid diin. Fa zaalikal lazi yadu’ul-yatiim. Wa la ya huddu ‘alaa ta’amil miskiin ( Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.) (QS. Al-Ma’un : 1-3).

BACA JUGA  Korban Perundungan Beresiko Bunuh Diri, Universitas Pertamina Bikin Aplikasi Trauma Healing

Baca Juga :

penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh 

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakHarimau Masuk Kota Solok, Wawako Bertemu BKSDA Sumbar
Artikulli tjetërBeasiswa Ujung Negeri, Buka Peluang Wujudkan Mimpi