Pentingnya Penyesuaian Pembelajaran dengan Kebutuhan dan Karakteristik Peserta Didik SD
Oleh: Wilda, S.Pd., Gr, Guru UPTD SDN 03 Sungai Beringin Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota
Pendidikan secara sederhana merupakan proses memanusiakan manusia seutuhnya. Pendidikan bukan hanya sekedar pengajaran materi atau penanaman konsep bagi peserta didik. Pendidikan sebagai wahana menuntut ilmu yang dituntun oleh seorang guru. Guru sebagai pendidik bukan hanya sekedar paham apa yang akan diajarkan tetapi bagaimana memahami peserta didik agar paham atas apa yang diajarkan. Tidaklah mudah menjadi seorang guru yang profesional dan memahami setiap kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang berbeda-beda. Seorang guru harus selalu berpedoman pada pengembangan kurikulum dalam pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Guru harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuannya yang sesuai juga dengan perkembangan zaman terutama perkembangan tekonologi karena peserta didik adalah generasi z dan alpha yang mana segala aktivitas yang mereka lakukan akan banyak bergelut dengan teknologi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat apda generasi ini.
Peserta didik sangat dekat dengan yang namanya teknologi, digitalisasi, sosial media, dan berbagai fitur-fitur aplikasi pendidikan lainnya. Begitu juga dengan guru, haruslah lebih memahami hal tersebut agar mampu menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik dalam pembelajaran, sehingga guru harus mengembangkan kompetensi dan keterampilannya dalam mengajar, sehingga guru juga mampu nantinya untuk mengembangkan kompetensi dan keterampilan peserta didik.
Pengembangan kompetensi dan keterampilan peserta didik sangat dipengaruhi oleh lingkungan awal peserta didik belajar yaitu lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang didalamnya adalah keterlibatan orangtua dalam tumbuh kembangnya anak sampai tahap perkembangan belajar anak terutama anak usia SD, karena keluarga adalah pendidikan pertama bagi anak sebelum memasuki masa sekolahnya. Dengan maksimalnya pendidikan keluarga yang terbentuk pada diri peserta didik akan sangat membantu guru dalam mengembangkan kompetensi dan keterampilan peserta didik pada sekolah dasar terutamanya.
Sebagai guru, kita bukan hanya sekedar mempedomani pendidikan orangtua saja sehingga guru mampu memberikan pendidikan sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Guru juga harus mampu memahami setiap kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda sesuai karakteristik dan cara belajarnya. Melalui assesmen awal, akan memudahkan guru memenuhi segala kebutuhan peserta didik yang sesuai karakteristiknya. Assesmen awal atau dikenal dnegan assesmen diagnostik digunakan guru sebagai acuan dalam memodifikasi modul ajar sehingga guru mampu menerapkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi sesuai kebutuhan murid. Pembelajaran berdifrensiasi dapat dimodifikasi guru melalui modul ajar berupa diferensiasi proses, konten, dan produk sehingga dengan pembelajaran berdiferensiasi ini maka pembelajaran akan dapat memenuhi kebutuhan peserta didik.
Dengan hasil assesmen awal yang diperoleh guru akan menggambarkan setiap kebutuhan peserta didik sehingga guru dapat melakukan pemetaan bagi peserta didik. Pemetaan peserta didik bertujuan agar guru dapat memberikan pengajaran dan pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Selain pemetaan peserta didik, sebagai guru juga harus menguasai manajemen kelas agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan menyenangkan. Ketika suasana kelas sudah tercipta dalam suasana yang menyenangkan bagi peserta didik, maka setiap proses transfer ilmu serta didikan dan keterampilan yang diberikan pada peserta didik akan dengan sangat mudah melekat pada pribadi peserta didik. Guru sebagai manager kelas harus cakap dalam menentukan strategi manajemen kelas yang tepat untuk membuat suasana belajar yang menyenangkan. Salah satu strategi yang dapat digunakan guru adalah memalui penguatan literasi.
Literasi menjadi hal prioritas pada pendidikan sekarang ini. Bagi guru, literasi dapat membantu proses pembelajaran diferensiasi dengan menggunakan berbagai strategi literasi. Literasi sangat penting dalam perkembangan membaca dan menulis bagi peserta didik. Keterampilan peserta didik yang mahir dalam membaca tidak menjamin adanya kecakapan berpikirnya terutama dalam menganalisa apa yang ia baca, maka keterlibatan murid dalam membangun pemahamannya terhadap informasi yang diperolehnya sangatlah penting. Dengan strategi literasi yang tepat dapat membantu perkembangan literasi peserta didik.
Salah satu strategi penguatan literasi yang dapat membantu pembelajaran diferensiasi dan perkembangan literasi peserta didik adalah dengan membuat lingkungan fisik yang kaya teks di kelas. Kelas sebagai salah satu tempat peserta didik belajar menajdi tujuan utama dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana kelas yang kaya akan teks di dalam kelas, dengan sendirinya akan menumbuhkan semangat membaca bagi peserta didik. Sehingga akan mendorong meningkatnya semangat literasi peserta didik. Oleh karena itu, lingkungan fisik seperti di kelas sangatlah tepat untuk dijadikan lingkungan yang kaya akan teks dalam membantu mengembangkan literasi dan mendukung pembelajaran berdiferensiasi nantinya.
Lingkungan fisik yang kaya teks di kelas dapat diciptakan guru dalam beragam bentuk inovasi dan kreatifitas. Guru dapat mencontoh atau memodifikasi apa yang telah ada. Bahkan lebih bagus lagi guru dapat membuat inovasi sendiri dalam menciptakan lingkungan fisik yang kaya teks di kelas. Disinilah para guru dapat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya dalam membantu menumbuhkembangkan peserta didik sesuai karakteristik dan kebutuhannya yang berbeda-beda.
Dalam menciptakan lingkungan fisik yang kaya teks di kelas, guru harus mengetahui bahwa teks bukan hanya buku, tetapi teks adalah media untuk melatih kecakapan berpikir peserta didik. Melalui teks dengan strategi literasi yang tepat dapat membantu mengembangkan kecakapan berpikir peserta didik. Dengan lingkungan fisik yang kaya teks di kelas dapat membantu peserta didik mengembangakan kemampuan literasi yang diiringi dengan pemahaman peserta didik terhadap teks dan hal tersebut tentu harus dengan bimbingan guru. Lingkungan fisik yang kaya teks di kelas dapat berupa pembuatan pojok baca dan mading kelas.
Pembuatan pojok baca bertujuan meningkatkan literasi membaca peserta didik. Pojok baca yang baik tidak hanya sekedar menjadi pajangan. Pojok baca yang dibuat semenarik mungkin sehingga menarik minat membaca peserta didik tentu harus sesuai dengan keinginan peserta didik. Maka, keterlibatan peserta didik dalam membuat pojok baca juga sangatlah penting. Misalnya setiap peserta didik dilibatkan dalam menentukan desain pojok baca yang menarik, membuat, sampai mendekorasi pojok baca sesuai dengan desain yang mereka inginkan.
Selain keterlibatan dalam hal perencanaan, maka peserta didik juga harus memanfaatkan apa yang telah mereka buat. Dengan melakukan pemanfaatan secara maksimal pojok baca tersebut maka akan sangat mudah dalam mengembangkan literasi peserta didik. Pemanfaatan yang dapat dilakukan peserta antara lain sebagai sarana kegiatan literasi 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik membaca cerita pada buku yang ada di pojok baca, lalu menceritakan kembali dengan bahasa sendiri apa isi cerita tersebut.
Pemanfaatan lain yang dapat dilakukan adalah peserta didik dapat membuat kesepakatan bersama jika ketika istirahat secara bergantian setiap harinya mereka membaca buku di pojok baca yang telah tersedia. Peserta didik dapat memilih sendiri buku yang mereka sukai untuk dibaca. Banyak pemanfaatan lainnya dari pojok baca di kelas, kita sebagai guru harus dapat menginovasikan setiap kegiatan tersebut agar pojok baca yang diharapkan mampu mengembangkan literasi membaca dna kecakapan berpikir peserta didik dapat tercapai sesuai cita-cita dan tujuan pendidikan.
Selain pojok baca, ada hal lain yang dapat guru manfaatkan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan literasi dan kecakapan berpikirnya yaitu dengan pembuatan dan pemanfaatan mading kelas. Seperti halnya pembuatan pojok baca, mading kelaspun seharusnya melibatkan partisipasi aktif peserta didik sehingga mading akan tercipat sesuai keinginan dan minat peserta didik. Mading kelas yang telah dibuat dapat dimanfaatkan guru dengan memajang setiap karya tulis peserta didik seperti cerita, puisi, pantun, gambar, dan karya lainnya. Kegiatan ini dapat juga sebagai bentuk portofolio peserta didik. Melalui kegiatan menulis sebuah karya yang dilakukan peserta didik akan mampu mengembangkan kemampuan literasi dan kecakapan berpikir peserta didik.
Melalui pojok baca dan mading kelas sebagai bentuk menciptakan lingkungan fisik yang kaya teks di kelas diharapkan nantinya akan dapat dengan membantu guru mendidik generasi penerus yang memiliki kemampuan literasi dan kecakapan berpikir yang bagus. Sehingga dapat mendorong dengan mudah terlaksananya pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Maka dari itu, sebagai seorang guru, saya mengajak para guru di seluruh penjuru agar kita terus berinovasi mengembangkan kemampuan dan kompetensi diri hingga kelak mampu menciptakan generasi yang tinggi literasi dan mampu berpikir tingkat tinggi untuk mengatasi dan mencari solusi atas setiap permasalahan yang akan mereka hadapi di masa depannya nanti.
Baca Juga :
- Andra Datuak; Pemetaan Aset untuk Optimalisasi Potensi Sekolah di SMPN 1 Sungai Tarab
- Andra Mairoza, Pengambilan Keputusan sebagai Pimpinan Pembelajaran
penting penting penting penting penting penting penting penting penting penting penting



Facebook Comments