Andra Mairoza, Pengambilan Keputusan sebagai Pimpinan Pembelajaran

ambil

Pengambilan Keputusan sebagai Pimpinan Pembelajaran

oleh : Andra Mairoza

Kegiatan beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia merupakan salah satu tujuan dari pencapaian profil pelajar Pancasila. Di SMPN 1 Sungai Tarab masih banyak ditemukan siswa yang belum melaksanakan kewajiban sholat lima waktu. Berdasarkan pertanyaan yang penulis lakukakan pada siswa tentang pelaksanaan sholat lima waktu yang dilakukan siswa.

Penulis menanyakan pelaksanaan sholat yang dilakukan siswa, masih banyak siswa yang tidak melaksanakan sholat lima waktu. Pertanyaan ini biasa saya lakukan saat sebelum memulai pembelajaran, dan pertanyaanya biasanya adalah tentang pelaksanaan sholat shubuh. Sholat merupakan kewajiban sebagai umat Islam dan merupakan Rukun Islam yang kedua.

Pelaksanaan ibadah sholat merupakan perwujudan dari berimanan, bertaqwa dan berakhlak mulia. Dengan permasalahan ini untuk meningkatkan ke imanan dan ketaqwaaan dan berakhlak mulia pada peserta didik perlu sebuah program kegiatan. Program ini sesuai dengan Surat Edaran kepala dinas pendidikan Nomor : 420/853/DIKBUD-2022 tentang kegiatan pembelajaran selama bulan Ramadhan pada satuan pendidikan PAUD/SD/SMP Kabupaten Tanah Datar menyatakan;

  1. Untuk meningkatakan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Agama peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Menanamkan rasa cinta Masjid/rumah ibadah dan memakmurkan masjid dan tempat ibadah
    3. Membangun sikap karakter berdasarkan nilai -nilai agama, budaya bangsa dan budaya lokal,
    4. Meningkatkan kepedulian warga sekolah, pemuka masyarakat terhadap aktifitas peserta didik selama Ramadhan,
    5. Terhidar dari perbuatan yang terlarang dari hukum, agama, budaya lokal serta meningkatkan rasa kesederhanaan dan persaudaraan

Sebagai calon guru penggerak saya merancang program aksi nyata jangka pendek yang berpihak pada murid. Program yang saya dirancang melibatkan kepala sekolah pada lokakarya 2. Diatara rangkaian kegiatan program tersebut adalah penggorganisasian bersama kepala sekolah, sosialisasi, kolaborasi dan pentingnya pembiasaan nilai-nilai beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Bentuk program aksi nyata berkenaan nilai beriman dan bertaqawa berdasarkan permasalahan diatas maka penulis merancang program jangka pendek yang berdampak pada siswa pada bulan Ramadhan melalui pembiasaan kegiatan ibadah yang melibatakan pendidik, orang tua dan masyarakat. Langkah kegiatan ini adalah melakukan sosialisasi kepada pihak sekolah, siswa dan kepada orang tua wali murid. Disamping sosialisasi perlu apresiasi kegiatan keagaamaan dengan memberikan penghargaan dalam bentuk piagam dan lainya pada peserta didik.

Dalam pelaksanaan program aksi nyata berkenaan dengan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan berakhlak mulia ini hasil yang di peroleh hanya sebagian murid saja yang membuat agenda kegiatan, bahkan ketika di Tanya tentang pelaksanaan sholat yang dilakukan peserta didik masih banyak peserta didik yang belum mengerjakan kewajibanya sebagai umat Islam melaksanakan sholat Lima waktu. Dari Jawaban peserta didik yang penulis tanyakan sebagian besar siswa tidak melaksanakan sholat shubuh.

Pada hari pertama sekolah di bahas tentang apresiasi kepada murid berkenaan program kegiatan ini, salah seorang guru A bertanya bagaimana tindakan kita untuk siswa yang tidak mengerjakan agenda kegiatan. Guru lainya W menyampaikan bagaimana kalo kita denda saja anak-anak yang tidak mengerjakan tugas tersebut. Ini menjadi bahan diskusi di hari pertama sekolah. Permasalahan ini adalah permasalahan yang tentunya butuh kesabaran danpengambilan keputusan yang baik. Kebiasaan siswa dalam ibadah memang menjadi dasar dalam pekasanaan kegiatan ini. Kegiatan program jangka pendek ini memang bertujuan berupaya agar siswa dapat membiasakan diri untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaanya kepada peserta didik.

BACA JUGA  Pancasila dan Penyemaian Spirit Moderasi Beragama di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa

Alasan Melakukan Aksi

Fenomena yang terjadi merupakan dilema etika. Permasalahan ini terkait dengan permasalahan (short term vs long term). Sebagai peserta didik idialnya melaksanakan setiap tugas yang dilaksanakan sekolah. Program yang dilakukan merupakan sesuai surat edaran Kepala dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar.

Paradigma yang terjadi pada kasus ini adalah jangka pendek melawan jangka panjang (short term vs long term). Dimana jangka pendek adalah pendidikan merubah prilaku dengan hukuman yang mendapatkan hasil perubahan namun berdampak untuk masa depan anak. Dengan hukuman anak di ajarkan untuk menghukum dan berdapak tidak baik untuk kehidupannya. Anak perlu diajarkan nilai-nilai yang di yakini baik, melakukan sesuatu karena nilai yang diyakini.

Untuk membentuk karakter yang baik selain nilai yang diyakini perlu pembiasaan. Pengambilan keputusan yang mementingkan jangka panjang merupakan pengambilan keputusan yang mementingkan hasil yang banyak namun berdampak terhadap psikologis masa depan anak didik. Pendidikan yang sebainya dilakukan adalah pendidikan yang Humanis. Pendidikan menghukum merupakan pendidikan yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

Pendidikan saat ini memebolehkan hukuman jika memang tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan. Pendidikan menghukum sebaiknya di hindari dan merupakan jalan terakhir. Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Paradigma ini bisa terjadi di level personal dalam permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas. Nilai-nilai religius meningkatkan ke imanan, ketaqwaan dan berakhlak mulia merupakan tujuan dari program kegiatan ini. Untuk menanamkan nilai-nilai beriman bertaqwa dan berakhlak mulia merupakan hal yang penting namun perlu pertimbangan dan upaya yang baik untuk mewujudkanya

Perasaan ( Feeling )
Sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 4 Kabupaten Tanah Datar Bersyukur senang untuk mendapatkan kesempatan pendidikan ini. Kegiatan pendidikan ini membuat saya semakin lebih tenang dan bijak dalam pengambilan keputusan. Kesabaran dan motivasi saya untuk melakukan perubahan dalam pendidikan terasa nyata. Jika selama ini saya agak sedikit emosional dan tidak tenang ketika program tidak berjalan dengan baik, saat ini saya lebih rileks dan tetap berfikir dengan bebagai pertimbangan pengambilan keputusan.

Dalam melaksanakan program dari materi aksi nyata modul 3 saya menjadikan pengalaman yang tidak sesuai dengan apa yang di inginkan ini menjadi aksi nyata saya sebagai CGP. Materi aksi nyata yang saya lakukan merupakan upaya dan dan diharapakan menjadi solusi terbaik dalam pelaksanaan program di sekolah maupun komunitas pendidikan dalam menjalankan program kerja. Dalam pelaksanaan kadang penulis merasa takut, cemas khawatir pelaksaanan tidak berjalan dengan baik, dengan mempelajari modul ini setiap kendala permasalahan yang ditemukanakan di pilah dan pikirkan dan merupakan upaya yang terbaik dalam pengambilan keputusan. Walaupun hasil belum idial namun dengan keputusan yang diberikan merupakan upaya untuk perubahan yang lebih baik melalui penerapan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran pada modul 3 ini.

BACA JUGA  Kedapatan Main "Koa", Lima Pelajar Digiring Satpol PP

Pembelajaran ( Finding )
Sebuah kegiatan akan berhasil dengan adanya kolaborasi melalui gotong royong yang dilakukan semua warga sekolah. Setiap warga sekolah akan merasa bertanggung jawab jika permasalahan ini dijadikan sebagai Visi dan Misi bersama. Dalam menjalankan kegiatan kadang tidak semua kita dapat memiliki atau konsisten dengan VIsi Misi yang telah disepakati. Sebagai Calon guru penggerak kita tidak boleh menyerah dengan keadaan kita harus tetap fokus dengan visi dan misi yang telah kita tetapkan. Berupaya memanfaatkan sestiap potensi yang ada untuk pencapaian Visi dan Misi. Upaya sekecil apapun dalam pencapaian Visi dan Misi akan sangat berharga dari pada tidak berbuat dan menyerah dengan keadaaan.

Setiap kegiatan yang dilakukan perlu di refleksi dengan mengobservasi, mengevaluasi. Sebagai CGP perlu tetap Fokus dengan kekuatan yang dimiliki terus berupaya mendorong warga sekolah, murid, dan orangtua untuk dapat menjadikan ini sebagai nilai dan tanggung jawab yang perlu menjadi perhatian. Pembiasaan sholat berjamaah dan keteladan disekolah adalah upaya yang akan dilakukan disamping berkomunikasi dengan orang tua.

Penerapan kedepan ( Future )
Kegiatan ini akan dikomunikasikan dengan orang tua. Orang tua perlu meyakini dan menjadikan Visi dan misi sekolah adalah upaya terbaik untuk anak didik disekolah. Orang tua dilibatkan dengan seperti apa hasil pendidikan yang diharapkan. Kegiatan yang mungkin dilakukan kedepanya adalah dengan berkomunikasi melalui tulisan dengan mengirimkan surat tentang hasil pembelajaran peserta didik dan dorongan untuk kolaborasi dan kerjasama, Komunikasi secara langsung disaat penerimaan rapor. Komunikasi saat penerimaan rapor adalah langgkah yang tepat karena agenda rutin sekolah untuk bertemu degan orang tua.

Dengan agenda ini komunikasi akan dapat dilaksanakan secara tatap muka. Perlu dukungan setiap warga sekolah untuk menjadikan program ini sebagai program jangka panjang sekolah. Dengan program ini dapat merupakan aksi nyata sekolah dalam pembinaan mental spiritual sesuai profil pelajar Pancasila yang kita harapkan. Sebagai pendidik dan pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan saya harus cermat melihat keadaan komunitas sekolah beserta warga sekolah untuk mengambil kebijakan terhadap setiap permasalahan dalam pengambilan keputusan solusi terbaik yang berpihak pada murid.

Langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dilakukan antara lain menentukan paradigma yang terjadi. Dalam kasus ini paradigma yang terjadi adalah jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term ). Prinsip pengambilan keputusan yang dilakukan adalah, berpikir hasil akhir. Dimana pendidikan yang berdampak terhadap anak di masa depan lebih di utamakan di banding pendidikan yang yang berdampak sesaat dan berpengaruh psikologis terhadap perkembangan peserta didik.

BACA JUGA  Buya Gusrizal; Pertahankan Jilbab Sebagai Identitas Wanita Minang

Nilai-nilai yang bertentangan pada kasus ini adalah nilai jangka pendek melawan jangka panjang. Diantaranya tindakan menghukum murid dan memberikan penyadaran melalui nilai-nilai. Orang yang terlibat dalam situasi ini adalah saya, dinas pendidikan, guru agama, wali kelas, murid, orang tua, dan orang tua dan masyarakat.

Fakta-fakta yang relevan :
Rendahnya pelaksanaan sholah lima waktu siswa.
Nilai-nilai spiritual murid tentang ibadah.

Pengujian benar atau salah
Uji legal : Permasalahan ini tidak menyangkut pelanggaran hukum.
Uji regulasi : Keputusan yang saya buat tidak melanggar regulasi apapun.
Uji intuisi : Keputusan saya untuk menjadikan pembiasaan dan pemberian penghargaan untuk penguatan ibadah keagamaan untuk menanamkan nilai-nilai dasar manusia adalah tindakan yang semua orang setuju.

Uji halaman depan Koran : Saya merasa nyaman apabila permasalahan ini dipublikasikan karena ini merupakan upaya saya memabantu menanamkan dalam nilai-nilai kebaikan terutama religious beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Dengan pembiasaan sholat dan penanaman nilai nilai religious pada peserta didik merupakan upaya menanamkan melatih dan mebiasakan peserta memiliki karakter beriman, bertaqwa dan berahklak mulia.

Uji panutan / idola : Orang tua saya, istri saya akan mendukung keputusan yang saya ambil
Pengujian paradigma benar lawan benar : Dalam kasus ini paradigam yang dipilih yaitu jangka pendek melawan jangka panjang.

Prinsip resolusi : Prinsip penyelesaian dilema yang digunakan adalah berpikir berbasis akhir ( End-Based Thinking ).

Investigasi opsi trilema : Berkolaborasi dengan orang tua, kepala sekolah, guru agama dan guru lainya dalam menanamkan nilai –nilai ibadah kepada peserta didik
Membuat keputusan : Keputusan yang saya ambil adalah mengahargai setiap upaya yang saya lakukan, mengahrgai peserta didik yang mau melakukan program ini, terus menjalin kerja sama dengan guru yang mendukung program ini serta berkomunikasi dengan orang tua tentang visi misi dan harapan yang dinginkan kepada peserta didik.

Refleksi :
Dengan keputusan yang saya ambil merupakan usaha yang membutuhkan kesabaran dan komitmen untuk menjadikan peserta didik orang yang beriman dan bertaqwa. Keputusan ini merupakan wujud dari kepedulian saya untuk perubahan yang mungkin membutuhkan kesabaran dan perubahan yang bertahap. Melalui program sekolah dengan pembiasaan sholat berjama’ah dan komunikasi dengan orang tua diharapkan tertanam nilai-nilai yang diyakini sehingga muncul pembiasaaan. Penghargaan terhadap siswa merupakan hal yang penting karena setiap orang butuh dihargai. Namun hal ini perlu dijadikan pembiasaan sebagai bentuk penanaman nilai-nilai beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia sesuai profil pelajar Pancasila.

Baca Juga :

ambil ambil ambil ambil

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakHadapi Liverpool, Ada Misi Real Madrid pada Final Liga Champions 2022
Artikulli tjetërUsai Salat Subuh Bersama, Wawako Solok Evaluasi Progres Pembangunan