Tamparan Kuat Bagi Sang Da’i Muda, Mereka Mau Mengusir Sang Ustadz itu dari Kampungnya

sang
Ketua UMUM MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, Lc, M.Ag

Tamparan Kuat Bagi Sang Da’i Muda, Mereka Mau Mengusir Sang Ustadz itu dari Kampungnya
oleh : Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Festival Muharram begitu membekas di hati sang ustad muda dari kampung. Kegiatan yang diangkat oleh Badan Kontak Majelis Ta’lim itu, menghadirkan ustadz muda itu dalam suatu seminar dan dialog tentang hubungan adat dan agama dengan bertemakan pepatah adat yang sangat populer di daerah itu. Pepatah yang menjadi kebanggaan karena menunjukkan adat mereka berlandaskan syari’at Islam.

Kesempatan itu dipergunakan oleh sang ustadz untuk mencoba menyorot prilaku menyimpang masyarakat atas nama adat dan budaya.

Ketika saat dialog, mencuat dua persoalan yang rumit.
Yang pertama tentang sikap sebagian mamak (saudara laki-laki ibu) yang menentang pernikahan kemenakannya padahal kedua calon pengantin dan kedua keluarga besar sudah sepakat.

Yang kedua adalah kasus yang terjadi di suatu kampung di mana bila terjadi musim kemarau berkepanjangan maka masyarakat kampung itu akan melakukan penyembelihan kerbau di hulu sungai dan menyebarkan darahnya untuk meminta hujan.

Sang ustadz menyadari betul bahwa ini persoalan yang sangat sensitif tapi persoalan ini telah begitu lama tak pernah diberikan jawaban pasti. Ustadz kampung itu pun berusaha menjelaskan tentang hak orang tua dan hak seorang mamak dalam pandangan Islam dimana hak kewalian yang ditetapkan oleh syara’ tidak bisa dibatalkan oleh hak dan kewenangan yang ditetapkan oleh adat sesuai dengan kaedah yang telah di tetapkan oleh ulama Ushul al-Fiqh. Sedangkan urusan membantai kerbau tersebut, sang ustadz berusaha menjelaskan cara meminta hujan yang ditunjukkan oleh syari’at dan meninjau masalah itu dari aspek aqidah yang berujung kepada kesimpulan “penyimpangan tradisi tersebut dari ajaran tauhid karena ada di dalamnya khurafat dan kesyirikan”.

Walaupun tak ada bantahan di dalam forum, ternyata pendapat ustadz itu berkembang dan memicu ketegangan serta polemik di kalangan pemangku adat. Runyamnya persoalan diakibatkan oleh penambahan demi penambahan keterangan yang tak pernah dikatakan sang ustadz muda tersebut sehingga para pemangku adat itu akhirnya bersepakat untuk meminta Bupati agar mengusir ustadz muda dari kampung itu.

Mereka merasa dalam posisi kuat karena sang bupati juga tokoh adat dan ditambah lagi, mereka didukung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten itu.

Akhirnya pada suatu hari, para pemangku adat itu menghadap bupati dan meminta bupati untuk mengusir ustadz muda itu dari kampungnya. Sang bupati heran dan meminta penjelasan lebih lanjut. Setelah mendengarkan keterangan dari tamunya, bupati itu bergumam, “tampaknya fanatik telah menutup pintu untuk masuknya nasehat”.

Bupati pun bicara, “saya tak akan membantah dan tidak pula mau lari dari tanggung jawab. Hanya saja mau mengajak kita berfikir kembali. Agama bukanlah buatan kita tapi tuntunan Allah swt. Saya bukanlah ulama tapi saya khawatir yang disampaikan ustadz itu adalah kebenaran dan yang bapak-bapak sanggah adalah syari’atNya.

Mungkin saja benar kata sebagian orang bahwa zaman keramat sudah berakhir tapi saya khawatir kalau salah kita mengambil keputusan, Allah swt bisa murka kepada kita !

Kalau bagi ustadz itu, tak akan keberatan bagi beliau untuk kita usir sekalipun, karena tak diusirpun beliau juga mau pergi dari negeri kita ini bila melihat kita bersikap seperti ini.
Saya mengusul, cobalah renungkan lagi !

“Dibao manilungkuik jo manilantang”(dibawa berfikir dalam sunyi dan dalam kebersamaan) ! Kalau sudah ada keputusan kembali, datanglah kepada saya !

Saya ini di hadapan mamak-mamak Datuk tak lebih dari “digantung tinggi dan dibuang jauh” tak akan berkata tidak !”.
Tapi setelah ditunggu berhitung bulan bahkan berganti tahun, para pemangku adat itu tak pernah datang lagi !

Kisah kedatangan para pemangku adat itu, dikisahkan langsung oleh sang bupati kepada ustadz muda dari kampung tersebut.

Sang Ustadz pun bertanya, “apakah bapak yakin mereka tak akan kembali ?”.

Bupati menjawab, “yakin ustadz !”.

“Apa alasan keyakinan bapak ?”, tanya ustadz kampung itu selanjutnya.

Kata sang bupati, “karena saya yakin bahwa yang saya katakan itu benar dan saya juga yakin ustadz dalam posisi yang benar. Kalaupun mereka kembali lagi, saya sudah siapkan jawaban selanjutnya sebagimana yang pernah ustadz ajarkan kepada saya, “membunuh pembawa kebenaran tak akan pernah mematikan kebenaran karena kebenaran itu berasal dari yang Maha Hidup, tak akan mati selamanya” !

“Masya Allah… ternyata ungkapan itulah yang menjadi pegangannya”, gumam ustadz kampung itu. Sebagai penutup pembicaraan ketika sang bupati menceritakan peristiwa itu, sang ustadz mengatakan, “Pak, itu saya fahami dari firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 147 :

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu ! karena itu, jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.

Bupati itu pun tersenyum sambil berkata, “kan bertambah juga ilmu saya ya ustadz ?!”. Sang ustadz pun tersenyum mengakhiri pembicaraan itu.

(sekelumit perjalanan dakwah seorang ustadz dari kampung th 2000)

Tulisan Buya Gusrizal Gazahar Dt. palimo Basa tentang ustad kampung yang lainnya :

Facebook Comments

loading...