Ramadhan 1447 H, Gerhana Bulan Bukti Kebesaran Allah SWT

Gerhana Bulan Bukti Kebesaran Allah SWT

oleh : H. Hadi Sulman, Penyuluh Agama Madya (PAIF) Kantor Kemenag Kabupaten Solok.

Gerhana bulan total yang diprediksi terjadi pada Selasa (3/3) pukul 18.33 WIB sampai 20.17 WIB adalah fenomena alam, yang bial kita sikap dengan iman ini adalah bukti kebesaran Allah terhadap alam dan isinya.
Pada hakikatnya yang disebut gerhana bulan adala bulan itu tidak dapat bercahaya karena tidak terkena sinar matahari, pada saat gerhana bulan, sinar matahari yang akan diterima oleh bulan terhalang oleh bumi. Bulan berjalan mengitari bumi, bumi berjalan mengelilingi matahari dan matahari beredar pada sumbunya.

Gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam melainkan menjadi momen spritual untuk menyaksikan kebesaran Allah sekaligus beribadah kepada-Nya. Untuk itu, ketika terjadi gerhana bulan ada ibadah khusus bagi umat Islam yang disebut dengan shalat Khusuf.

Hukum melaksanakan shalat khusuf ini adalah sunnah muakkadah alias sunnah yang sangat dianjurkan. Pelaksanaannya pun tidak jauh berbeda dengan gerakan shalat sunnah pada umumnya.

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, Yunus ayat 5 yang artinya :
Dia-lah yang menjadikan matahari dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu., supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu kecuali dengan hak. Dia menjelaskan kepada orang-orang yang mengetahui

Bulan adalah makhluk yang patuh kepada Allah SWT, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ya-Sin ayat 39, yang artinya :
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua

Dengan adanya gerhana bulan bulan (Khusuful qamar), sekali-kali bulanlah pertanda adanya musibah dan malapetaka. Semuanya atas kehendak Allah SWT.

BACA JUGA  Kontestasi Tata Kelola Liberal dan Keamanan: Kemanusiaan di Tengah Persimpangan Tata Kelola Dunia Baru

Pada hakikatnya yang disebut gerhana bulan adala bulan itu tidak dapat bercahaya karena tidak terkena sinar matahari, pada saat gerhana bulan, sinar matahari yang akan diterima oleh bulan terhalang oleh bumi. Bulan berjalan mengitari bumi, bumi berjalan mengelilingi matahari dan matahari beredar pada sumbunya.

Allah SWT yang mengatur jalannya semua planet, sebagaimana firmanNya dalam Al Qur’an Ar Rahman ayat 5, yang artinya :
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan

Dengan ilmu, manusia dapat mengetahui bahwa semua planet menunjukan kepatuhannya kepada Allah SWT dan dengan ilmu pula dapat menjadikan iman lebih kokoh.

Sekaitan dengan ilmu dan hubungannya dengan manusia, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazalai dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin, mengutip ucapan ulama terkenal Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi yang menyatakan manusia itu terdiri atas 4 klasifikasi, yakni RAJULUN “AALIMUN (Orang yang berilmu) : orang yang tahu dan menyadari bahwa dia itu tahu, maka itulah orang yang berilmu, maka ikutilah dia.

Kemudian, RAJULUN NAA-‘IMUN (Orang yang sedang tidur) : Orang yang tahu, namun tidak menyadari bahwa dirinya tahu, maka itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah dia.

Selanjutnya, RAJULUN MUSYTARSYIDUN ( Orang yang perlu bimbingan) : Orang yang tidak tahu dan dia menyadari bahwa dirinya tidak tahu, maka ia adalah oang yang perlu bimbingan, maka bimbinglah dia

Terkahir RAJULUN JAAHILUN ( Orang bodoh) : Orang yang tidak tahu, namun dia tidak menyadari kalau dirinya tidak tahu, maka ia orang bodoh, maka tinggalkanya dia (jangan ikuti jejaknya ).

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News