Keutamaan Akhlak yang Mulia
oleh : H. Hadi Sulman, Penyuluh Agama Islam Madya (PAIF) Kantor Kemenag Kabupaten Solok
Kata Akhlak merupakan jama’ dari kata khulq, yang berarti sifat, tingkah laku, kepribadian atau perangai seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak yang baik dan mulia disebut akhlak karimah dan akhlak mahmudah. Sedangkan perilaku yang buruk disebut akhlak sayyi’ah atau akhlak mazmumah.
Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sudah seharusnya kita memilki akhlak terpuji dan mulia. Apalah artinya kita beriman tetapi punya akhlak yang buruk. Ternyata nilai keimanan sudah termasuk semua aspek kehidupan, baik ibadah, mu’amalah, syari’ah dan pergaulan dengan masyarakat. Jadi orang beriman masuk kedalam islam secara keseluruhan. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (Qs. Al-Baqarah ayat 208)
Hakikat keimanan dan ketaqwaan manusia tidak terlepas dari adanya akhlak dan kepribadian yang mulia karena akhlak mulia merupakan bagian yang telah diajarkan oleh Nabi SAW dan beliau diutus untuk penyempurna akhlak kita. Nabi SAW bersabda
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad)
Sesungguhnya yang menentukan tinggi dan rendahnya martabat manusia baik di hadapan Allah SWt maupun di hadapan makhluknya adalah akhlak dan budi pekertinya yang luhur. Hanya budi pekerti yang baik yang patut dijadikan sebagai ukuran martabat dan kehormatan seseorang. Nabi SAW bersabda :
Sesungguhnya orang yang paling baik dinatara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya (Muttafaqun Alaih). utama utama
Kita harus mencontoh Rasulullah SAW dalam berperangai dan berperilaku. Sungguh akhlaknya luhur hingga tak seorangpun dari umatnya yang pernah disakiti atau dibohongi oleh beliau. Bahkan orang kafir pun sangat mengakui dan mengagumi keluhuran budi pekertinya. Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok kepribadian yang sangat mulia. QS. Al-Qalam ayat 4 yang artinya :
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi peerti tyang agung
Oleh karena itu, kalau kita mengakui diri kita sebagai bagian dari umat Nabi Muhammad SAW, maka seyogyanyalah perilaku dan tingkh laku kita harus disesuaikan dengan sunah beliau serta menjauhi perilaku yang menentang ajaran dan sunah beliau
Baca Juga :
- Ramadhan 1447 H, Hukum Tadarus Setelah Tarwih
- Ramadhan 1447 H, Adab Membaca Al Qur’an
- Ramadhan 1447 H, Keutamaan Membaca Al Qur’an, dan Hukum Faedah Mempelajari Ilmu Tajwid
- Ramadhan 1447, Sedekah Tiap Ruas Tulang
- Ramadhan 1447 H, 3 Amal Yang Dicintai Allah
- Ramadhan 1447 H, Keutamaan Puasa Ramadhan
- Valentine, Balimau dan Ramadhan



Facebook Comments