75 Tahun HMI; Merawat Komitmen Keumatan Dan Kebangsaan

75 Tahun HMI; Merawat Komitmen Keumatan Dan Kebangsaan

75 Tahun HMI; Merawat Komitmen Keumatan Dan Kebangsaan

oleh : Alfhia Parma, (Presedium Majelis Daerah KAHMI Lima Puluh Kota)

75 tahun yang lalu, 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia) secara kolektif menghela sejarah kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tidak ada yang kebetulan, umur HMI yang hanya dua tahun lebih muda dari kemerdekaan bangsa Indonesia menjadikan HMI tumbuh dan berkembang ditengah bara mempertahankan kemerdekaan, HMI hadir dalam perlawanan fisik serta perjuangan diplomasi pada fase awal kemerdekaan. Dimana tujuan awal kelahiran HMI secara tegas dinyatakan untuk, “Mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Oleh sebab itu DNA Kebangsaan dan Keislaman HMI telah wujud semenjak kelahiran HMI sebagai organisasi.
Untuk menyelami komitmen Keumatan dan Kebangsaan HMI, perlu dilakukan dengan pendekaan sejarah, dimana sejarah merupakan etalase hidup yang akan membawa kita pada satu pendekatan yang konferhensif dalam melihat genologis perjungan HMI. Sebagai kader umat, HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan, yaitu terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan ajaran Islam sehingga tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Sebagai kader bangsa, HMI lahir ditengah pergolakan fisik mempertahan kemerdekaan yang baru di proklamasikan. Kelahiran HMI merupakan ikhtiar membumikan kesadaraan Keislaman dalam bingkai semangat Nasionalisme kebangsaan dalam satu tarikan nafas yang utuh tanpa jeda.

Komitmen Keislaman dan Kebangsaan sebagai dasar perjuangan, masih melekat dalam gerakan HMI. Kedua komitmen ini secara jelas tersurat dalam rumusan tujuan HMI (hasil Kongres IX HMI di Malang tahun 1969) sampai sekarang, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Dimana, HMI berfungsi sebagai organisasi kader untuk membentuk anggotanya sehingga berwawasan Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemahasiswaan dengan lima kualitas insan cita yang bersifat independen.

BACA JUGA  Baznas Tanah Datar Bantu 143 Mahasiswa Dana Pendidikan

Setelah melewati berbagai fase perjuangan, hari ini HMI memasuki usia yang ke-75 Tahun, hasil dari proses kaderisasi yang dilakukan HMI secara sistematis dan berjenjang, tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan HMI sukes melahirkn jutaan kader yang memainkan peranan strategis diberbagai sektor kehidupan, HMI telah menjadi rahim kelahirkan akademisi, kaum profesional, ilmuan, politisi, birokrasi, ulama dan berbagai sebutan lainya. Sebagai lokomotif gerakan Islam, HMI sukses membrainding diri sebagai organisasi perkaderan sekaligus wadah perjuangan yang mencakup pembinaan kader menjadi insan cita serta perjuangan ke arah terwujudnya tatanan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Memasuki era revolusi industri 4.0, untuk sekian kalinya kematangan HMI akan diuji dan akan menjadi pertaruhan sejarah tersendiri. Pada masa awal HMI mampu melewati berbagai tantangan ideologis khusunya dari pengaruh Partai Komunis Indonesia, diawal orde lama HMI juga selamat dari berbagai upaya pembubaran paksa oraganisasi, pada masa orde baru HMI juga berhasil mewarnai berbagai perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan samapai saat ini HMI tetap menancapkan eksistensi secara kokoh.

Harus disadari HMI merupakan organisasi besar yang dihuni oleh jutaan kader dengan latar belakang yang tentu sangat beragam. Keragaman tersebut merukan bonus kultural yang semakin mematang proses kaderiasi HMI, kader HMI tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, rasional, kaya wawasan dalam semangat toleransi yang kuat. Disisi lain keragaman tersebut kalau tidak dikelola secara baik tentu akan menjadi batu sandung tersediri bagi HMI. Disisi lain, sebagai organisasi mahasiswa tertua, HMI memiliki jaringan organisasi yang sangat luas mulai dari level tertinggi sampai pada level terbawah, jaringan HMI telah mengurita di seluruh lini kehidupan yang ada.

BACA JUGA  Libatkan Mahasiswa dan Pemilik Apotek: Praktik Aborsi di Kota Padang Terbongkar

Peringatan Dies Natalis ke-75 ini merupakan momentum strategis bagi seluruh warga HMI dan para alumninya untuk melakukan refleksis sosilogis, apakah kebesaran organisasi HMI serta kematang pribadi kader HMI telah sesuai dengan cita-cita HMI sebagai kader umat dan kader bangsa. Dinamika sosial kebangsa yang akhirnya juga menjadi diamika tersendiri dalam tubuh organisasi HMI, merupakan satu hal yang alamiah dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. HMI dari masa-kemasa tumbuh dan berkembang dalam dinamika organisasi yang sangat dinamis bahkan progesif. Berbagai kritik yanng datang dari internal dan eksternal merupakan bagian dari proses pendewasaan organiasasi yang harus direspon oleh HMI secara bijak dengan tetap istiqomah sebagai anak kandung umat Islam.

Sebagai bahan perenungan perjuangan, Islam yang menjadi watak perjuangan HMI merupakan bentuk perjuangan menegakkan keadilan, kebenaran, kejujuran, keilmuan, persamaan, penghargaan, kesederajatan, pembelaan kepada yang dilemahkan, dan perlawanan keras terhadap segala bentuk penindasan, dimana hal tersebut selaras dengan semangat proklamasi kemerdekan bangsa. Akhirnya, selamat Dies Natalis Ke-75 Himpunan Mahasiswa Islam. Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal. Yakin Usaha Sampai.

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakPolres Pessel Tilang 7 Truk ODOL dan Puluhan Sepeda Motor
Artikulli tjetërNy. Yenni Adri Warman Resmikan Market Day SLB Baso