SuhaNews | geser Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengimbau organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan di Indonesia untuk memperkuat tata kelola serta reorientasi karakter pengajaran di lembaga pendidikan madrasah dan pesantren. Menurut Menag, seluruh elemen ormas keagamaan harus terus menjaga konsistensi pergerakan keumatan agar nilai-nilai dasar kebaikan tidak tergerus oleh pergeseran zaman.
“Selama ajaran keagamaan kuat di Indonesia, maka selama itu bangsa kita akan kuat. Karena itu, konsistensi karakter ini harus tetap dipertahankan secara fokus,” ujar Menteri Agama saat memberikan sambutan pada Muktamar XXVIII Al Jam’iyah Al Washliyah, Rabu (8/7/2026).
Menag mengingatkan bahwa tantangan terbesar ormas keagamaan saat ini adalah berdiri di tengah era post-truth, sebuah kondisi di mana penentu kebenaran di ruang publik tidak lagi otomatis bersumber dari dalil ilmiah, Al-Qur’an, maupun Hadis. Menurutnya, terdapat kekuatan pendatang baru yang masif dalam mendistorsi persepsi kebenaran masyarakat, yakni dominasi media sosial yang pragmatis serta taktik kepentingan kelompok tertentu.
“Ada tiga kekuatan baru di tengah masyarakat kita yang bisa sekali menyingkirkan kebenaran kita, pertama adalah media sosial. Media sosial bisa membuat mereka menjadi iblis, bisa juga seperti malaikat. Yang kedua adalah uang, kenapa, masyarakat kita semakin pragmatis. Dan yang ketiga, taktik-taktik kepentingan kelompok tertentu,” urai Menag.
Guna membentengi jamaah dari dampak negatif era pasca-kebenaran tersebut, Menag menekankan perlunya reorientasi pada pola pendidikan berbasis madrasah. Seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan ormas keagamaan diminta untuk mengembalikan metodologi pengajaran khas Nusantara yang mengintegrasikan aspek rasio dengan keluhuran rasa secara alami. geser geser geser
“Tantangan kita sudah diketahui, mampu gak kita mengajarkan anak kita seperti orang tua kita mengajarkan diri kita? Mampu gak kita mengajarkan anak kita seperti bapak-ibu kita yang sekolahnya rendah, atau mungkin tidak sekolah, tapi anaknya semuanya jadi (berhasil)?” tanya Menag merefleksikan.
Lebih lanjut, Menag menggarisbawahi bahwa keunggulan utama pendidikan madrasah di bawah naungan ormas keagamaan terletak pada penerapan prinsip Iqra’ Bismi Rabbik. Model pengajaran wajib mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan asma Tuhan, bukan sekadar belajar untuk mencari ilmu secara bebas (iqra’ lil ‘ilmi). Penanaman kalimat bismillahirrahmanirrahim di dalam kelas dipastikan menjadi kunci utama agar modernisasi tidak melahirkan dampak buruk bagi moral generasi muda.
“Menuntut ilmu di madrasah dan pesantren itu tidak cukup hanya dengan Iqra’ tapi juga harus dengan bismillahirrahmanirrahim, karena yang kita pelajari adalah ilmunya Allah SWT, yang tidak bisa sekedar dipelajari dengan membaca, itulah yang akan membaikkan dunia,” pungkas Menag.
Berita Terkait :
- Siapkan Sanksi Tegas, Kemenag Akan Tertibkan Pesantren Ilegal
- Menag Nasaruddin Umar: Penegakan Hukum Tidak Lepas dari Etika Sosial
- Keunggulan Pesantren, Mendidik Umat dan Membina Kemanusiaan
- Tangani Kekerasan di Pesantren, Kemenag Bentuk Satgas Khusus
- Ini Pesan Menag Nasaruddin Umar pada Santri Muallimin Muhammadiyah Yogja
- Wamenag Romo M. Syafi’i Beberkan 3 Arah Kebijakan Strategis Pencegahan Kekerasan di Pesantren
- Kemenag Serius Tanggapi Perundungan dan Kasus Seksual di Pesantren, Ini 4 Langkahnya
- Menag Nasaruddin Umar : Tak Ada Toleransi Untuk Kejahatan Seksual
- Wamenag Minta Pelaku Kekerasan di Pesantren Dihukum Berat



Facebook Comments