Isak Mande, Himbau Mak Adang Pulang

Isak Mande, Himbau Mak Adang Pulang

cerpen : Fendi Moentjak

Wajah Mande dengan linangan air mata masih terbayang jelas dimataku, walau signal tak terlalu bagus serta tangkapan HP yang dipakai Mande terlalu biasa, namun sebagai anak, aku dapat melihat gurat ketuaan berurai airmata menyapa lewat video call senja tadi selepas magrib.

“Lupa kau dengan Mande nak, hingga dua minggu lebih kau tak menelpon ?” hanya itu kata yang terucap dari Mande dan selebihnya hanya isak yang kudengar, dilayar HP kulihat Mande beberapa kali menyeka air mata sambil sesekali bayangan hitam pertanda Mande sedang mengusap wajahku dilayar HP. Kubiarkan saja Mande mengahabiskan campuran rasa yang sedang tumpah. Sementara, walau masih kutahan, sabak pun menjadi tangis rindu yang kupendam.

Beragam tanya kusampaikan, tak satupun mendapat jawaban, hanya isak dan sesegukan yang bisa kudengar. Setelah hampir setengah jam saling tatap dilayar HP dan sama menahan tangis, Mande pun menyudahi video call kali ini.

“Sudah Yung, lepas sudah taragak Mande”. Hanya itu kalimat penutup Mande.

Berjuta rasa berkecamuk didada, tak tahu harus berkata dan tak tentu harus berbuat. Beragam makna tersirat dari kalimat Mande tadi. Walau hanya sebaris kalimat yang terucap namun batin Mande membisikkan kepadaku, hanya Mande yang setiap detik tak pernah berkurang rindunya, hanya Mande yang di setiap helaan nafasnya berharap bertemu denganku sebelum menutup mata, hanya Mande yang setia menungguku pulang, sementara aku ?? Itu semua membuat airmataku tak terbendung.

Membayangkan perasaan Mande aku menjadi marah pada diriku sendiri yang dengan angkuhnya selama tiga puluh tahun lebih mempertahankan ego berdasar benci pada satu sosok yang pada akhirnya kampungku sendiri ikut ku benci hingga tak pernah menemuinya lagi walau jauh di lubuk hati aku juga menyimpan kerinduan. Aku makin emosi pada sifatku yang atas egonya mengabaikan rindu sosok-sosok yang menyayangiku.

Ada Mande, wanita bernama Rabiah yang melahirkan ku dengan tabah menerima kelakuan nakal ku dan tak jarang harus diserang ibu-ibu yang anaknya jadi korban kejahilanku. Serta dengan tabahnya Mande mendatangi sekolahku hanya sekedar memenuhi panggilan dikala aku sudah berulah lagi, hingga dengan setianya Mande menyiapkan bekal setiap minggunya agar ku tak kelaparan sepulang kuliah di Padang dan tak jarang pula Mande mengantarnya ke terminal menitipkan bekal pada sopir bus langgananku.

Ada Siti dan Mayang, dua adik perempuan yang saat kutinggalkan masih SMA dan SMP kini mereka telah berkeluarga. Sepasang anak Mayang yang telah SMA pula, selalu rajin berkomunikasi denganku lewat HP dan media sosial walau sekalipun mereka belum pernah bertatap muka denganku.

Namun dalam sapaannya aku tahu, kalau mereka sangat memiliki ku. Begitu juga dengan tiga bocah lucu anak Mayang, lewat foto yang dikirim dimedia sosial aku bangga pada ketiganya sebagai panungkekku kelak meneruskan pusako rumah gadang yang selalu jadi buah tutur Mande dikala bertelpon.

Sementara Abak, lelaki kebanggaanku yang hanya sempat mengantarku hingga kelas dua SMP tetap kurindukan walau hanya doa dan Yasin yang selalu kusampaikan untuknya. Dan tak jarang pula pesan dan nasihat Abak kerap kali menghampiri kala kalut hinggap dikepala atau dikala dilema menuntutku mengambil tindakan.

Gala Pakiah yang disandang Abak selalu diamalkan dalam sikap yang mengedepankan Aqidah sebelum logika dan itu pula yang selalu ditekan dalam setiap nasehatnya.

BACA JUGA  Gubernur Mahyeldi Rangkul OJK Lindungi Masyarakat dari Produk Jasa Keuangan Ilegal

“Dulu hanya kau anak Mande, laki-laki yang diharapkan menjaga pusako dan membela kaum kita. Sekarang sudah ada si Fadhil anak Siti dan tiga pangeran lucu anaknya Mayang yang akan manjawek warih pusako. Tapi bagaimana mereka akan membanggakanmu sebagai Mamak sementara mereka sendiri tak pernah bertemu denganmu”. Salah satu kalimat wajib dari Mande yang sudah kuhafal betul setiap kali menelpon membujukku pulang.

Seiring kalimat yang terngiang, wajah Mande pun makin jelas membayang, ada senyum kebanggaan, ada tawa gembira, kadang keprihatinan berbaur rasa takut yang selalu kutemui silih berganti tiap hari selama dua puluh tahun lebih hingga kemudian menjelang lima puluh tahun aku sebagai anak hanya sabak dan tangis tatkala saling bersapa diudara. Semakin kukenang semakin dalam rasa berdosaku pada Mande dan keluarga dikampung

“Uang yang kau kirim setiap bulannya lebih dari cukup, tapi rindu ini tak terbayar dengan lembaran rupiah yang diambilkan Siti dari rekeningnya. Mande hanya ingin memelukmu, mengusap wajahmu seperti yang dulu Mande lakukan setiap kali kau merengek manja”. Ini menjadi kalimat Wajib Mande saat berkirim surat kepadaku hingga kemudian saling menelpon sampai kini komunikasi lewat video call belum mampu luluhkan egoku.

Jangan pernah menyesal, bila kau tak sempat lagi melihat Mande dan bila kau pulang hanya pusara yang kau temui, tapi jangan cemas sebagai ibu Mande tak kan membencimu apalagi menaruh dendam pada ulahmu”. Kalimat ini baru kuterima setahun terakhir setelah dua puluh lima tahun lebih pelarianku ke perantauan.

Jarum jam menunjuk pukul satu, berarti enam jam lebih aku larut dalam lamunan kerinduan. Kubulatkan tekad, sekarang aku pulang.

“Sekarang, bukan nanti, bukan esok apalagi lusa”. Aku membatin menguatkan tekad untuk menjenguk ranah kelahiranku.

Ketika kuhendak memberi tahu pak Warno, kulihat ia dan istrinya terlelap dikursi ruang tamu dan dimeja makan telah terhidang makan malam seperti biasanya. Sebenarnya aku tak tega membangunkannya, namun harus kuberi tahu kalau aku akan pulang kampung. Tergagap lelaki yang bersama istrinya telah sepuluh tahun terakhir tinggal bersamaku dirumah yang sekaligus ku jadikan kantor ini mendengar keputusanku.

Paling lama aku seminggu dikampung pak, tolong jaga rumah. Seperti biasa jangan ada yang masuk ruang kerja dan aktifitas kantor biarkan seperti biasa”. Kusampaikan itu saat Warno melepasku sembari menunggu taksi.

Dulunya Warno sama-sama bekerja satu perusahaan denganku, ketika aku merasa tak lagi nyaman bekerja akupun memilih resign dengan membuat perusahaan sendiri. Tak sampai setahun Warno yang sebelumnya bertugas sebagai officeboy juga mengundurkan diri saat perusahaan itu diambang kehancuran.

Lelaki tanpa anak itu kuajak bergabung, ku suruh ia mengajak istrinya sekaligus mendiami kantor yang kurintis dan saat itu masih berada disebuah Ruko dan hingga kini usaha ku berkembang ia tetap ku ajak tinggal disebuah rumah yang sebagian ruangannya difungsikan sebagai kantor.

Walau usianya sepantar dengan mendiang Abak, kadang aku meradang juga dibuatnya terutama kala ia bertanya kapan aku menikah dan kenapa aku memlih sendiri hingga kini umurku kepala lima. Setelah seringnya pertanyaan itu dilontarkannya, akhirnya kuceritakan kisahku.

“Kisah Uda mirip dengan cerita Tenggelamnya Kapal  Van Derwijk” begitu ulasnya saat mendengar kisahku.

Ketika sampai di bandara Soeta akupun harus menunggu satu jam penerbangan pertama untuk menjajakan kaki di Ranah Minang. Panggilan masuk pesawat memutus lamunanku yang sibuk mereka-reka apa yang akan kutemui nanti sesampai dikampung, membayangkan bagaimana Mande menyambutku di jenjang Rumah Gadang beserta para kemenakanku bersamanya.

BACA JUGA  Hendri Septa Beri Reward Kafilah Beprestasi di MTQN Tingkat Sumbar Ke-40

Perjalanan dari Cengkareng hingga ke Bandara Internasional Minang Kabau tak dapat kunikmati karena ku terlelap bersama hembusan angin pagi. Baru lima belas menit sebelum mendarat ku terjaga yang langsung disuguhi indahnya pemandangan kota Padang. Walau tak tahu pasti namun aku masih menduga beberapa bangunan yang menjadi icon kota yang kubenci sekaligus kurindu.

Nun jauh di perbukitan sebelah timur berdiri kokoh deretan bangunan yang membuatku bisa jadi seperti sekarang, kampus yang memberi ilmu dan kenangan. Sementara tepat dibawah pesawat yang kutumpangi terpampang jelas pantai Padang, walau tak tertulis namun disana terlihat alunan memori yang membuatku membenci kampung sendiri.

Lewat Sitinjau saja”.  Ketika sopir Taksi menanyakan saat kuminta mengantar ke kota Kecil yang tak jauh dari Danau Singkarak.

Kupilih jalur Sitinjau agar aku mampu melawan rasa benci yang kupendam selama tiga puluh tahun, diliku jalan Solok – Padang banyak cerita yang kubuat hingga terekam bak diary dibenakku. Sekuat aku memusnahkannya sekeras itu pula ia bertahan.

Kita lewat dalam kota saja ya pak, By Pass macet parah karena proyek pelebaran jalan”.

Aku yang tak begitu paham dengan rute dikota ini hanya menurut saja. Ketika melewati  Air Tawar akupun disuguhi kemacetan akibat bus antar kota yang menurunkan penumpang. Kulirik gerbang kampus yang  jauh beda dari dulu yang pernah kudatangi. Disisi kiri barisan besi pembatas rel dan trotoar masih berdiri kokoh dan barangkali ia juga masih menyimpan kenanganku bersandar padanya menunggu angkot.

Batangan besi itu mendatangkan kembali sosok yang jangankan untuk melihatnya, mendengar namanya saja sudah enggan. Andai saja besi itu bisa bicara ia akan bercerita bagaimana canda tawa kami seraya bersandar padanya yang akan berakhir dengan datangnya angkot menjemput dan kami pun berlalu tanpa sepatah kata permisi.

Taksi terus melaju diantara deru kendaraan menuju Lubuk Peraku semantara dibenakku kenangan makin menyatu. Lima tahun lamanya aku bolak-balik dijalur ini untuk menyelesaikan studi meraih cita sekaligus membingkai cinta yang kurajut sejak SMA, indah sekali saat itu. Jauh lebih indah dari view Gunung Padang dengan legenda Siti Nurbayanya dilihat dari Sitinjau Lauik.

Cinta yang mulanya kupuja harus kubenci, berawal dari bangku SMA berlanjut kebangku kuliah. Walau beda kampus namun masih dikota yang sama yang membuat rajutan yang ada menjadi indah berhias sulaman cerita antara Limau Manis dan Air Tawar.

Seiring usahaku meraih gelar Insinyur iapun berjuang menyelesaikan sarjana Pendidikannya. Hampir tiap minggu kita ukir kenangan diatas bus antar kota dari kota Beras ke kota Bingkuang.

Cerita kampus kita bahas bersama, suka duka kuliah kita saling berbagi dan tak jarang juga saling cemburu yang berujung tak saling sapa selama dua jam perjalanan Solok ke Padang. Ukiran kisah tak hanya sepanjang jalan antara Solok Padang hingga ke Limau Manis dan Air Tawar tapi kita juga melukisnya di Pantai Padang, sambil menikmati rujak dan kelapa muda kita saling melempar canda dan tawa.

Kisah indah berlanjut ketika dia lebih dahulu wisuda menyelesaikan studinya, aku pun hadir sebagai pendamping dan disini orang tua secara resmi mengetahui kalau jalinan kasih yang terjalin sejak 6 tahun itu menapaki masa serius dan bersambung dengan wisudaku enam bulan kemudian.

BACA JUGA  Komite II DPD RI Nilai Kebijakan Pemerintah Pusat Kurang Berpihak Terhadap Daerah

Sembari merintis karir dengan ijazah sarjana, cinta kami pun berlanjut hingga  dua tahun kemudian didapat kata sepakat, jalinan cinta ini akan kami kuatkan dalam ikatan bertajuk pernikahan.

Langkah ini kami buat setelah orangtuanya mendesakku tentang kemana arah hubungan ini dikala usia semakin bertambah, aku yang kala itu hanya seorang pegawai swasta di perusahaan kontraktor dan dia juga masih berstatus guru honor sekolah menengah membulatkan tekad menerima tawaran ibunya.

Langkah-langkah menuju pelaminan pun dirintis termasuk yang paling penting keterlibatan keluarga untuk prosesi penting ini nanti, terutama aku yang seiring dengan perubahan status ini juga akan mengemban amanah meneruskan sako dan pusako rumah gadang.

Mendapati hal ini tak terkira gembiranya Mande karena sebantar lagi aku anak lelaki satu-satunya akan “dibesarkan” yang tentu saja akan membanggakannya sebagai Ibu.

Tapi apa dinyana, waktu satu dekade menjalin asmara tak jaminan kokohnya pertahanan cinta. Dua bulan sejak niat mulia diikrarkan harus buyar dengan keputusan sepihak darinya yang mengatakan kalau hubungan kita tak direstui ayah bundanya, tamparan keras bagiku.

Selama ini kita mengapa. Dua bulan ini yang kita bahas apa. Terus, kemarin yang kita persiapkan untuk apa, dan bagaimana aku harus menjelaskan ini semua pada Mande dan Mamakku. Tak satupun tanyaku dijawabnya dan ia bersikukuh mengikuti keinginan ayah bundanya dan tak ingin dicap sebagai anak yang tidak berbakti yang membuatku semakin tak mengerti.

Belum sebulan sejak ia putuskan meninggalkan ku ada kabar kalau ia akan segera menikah dengan pilihan ayah bundanya. Calon suaminya itu merupakan kemenakan ayahnya yang baru saja diangkat sebagai pegawai negeri akhir tahun lalu. Aku yang sedikitpun tak menyangka ini akan terjadi hanya mengurut dada membaca undangan biru muda yang dikirimnya.

Masalahku belum habis, setelah cintaku harus berakhir ditangan ayah bundanya, Mamakku Tan Mantiko juga merasa dipermalukan oleh sikap keluarganya yang semula memberi harapan namun akhirnya merubah haluan. Walau marahnya bukan kepadaku tapi setiap patahan katanya memukul mentalku, akhirnya bukan hanya dia yang kubenci karena tidak menghargai cintaku tapi juga Mamak Tan Mantiko yang tidak merasakan sakitnya ditinggalkan.

Akhirnya dua hari sebelum hari pernikahannya kuputuskan pergi meninggalkan kota kelahiran dengan berjuta cerita, meninggalkan Mande yang selalu menyelipkan namaku dalam setiap munajatnya hingga sekarang tiga puluh tahun lamanya.

Saat dadaku makin sesak mengenang semuanya, Taksi yang kutumpangi memasuki Labuah menuju dirumah Mande dan berhenti tepat didepan Rumah Gadang dengan tiga bocah sedang asyiknya main bola. Merekapun berlarian menapaki jenjang seraya memanggil ibunya mengabarkan ada yang datang. Dengan tertatih dibimbing Mayang, Mande menjemputku  di beranda.

Akupun langsung bersujud dikaki Mande yang berbalas pelukan hangatnya, banyak hal yang diucapkan Mande melepaskan kerinduannya dan kali aku yang tak dapat berkata.

“Mak Adang Pulang”. Ucap Mande sambil mengelus kepala ketiga kemenakanku dan disudut matanya butiran bening masih mengalir walau tak sederas saat video call senja kemarin.

Bawah Duku, Maret 2017

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News