Kupiah Usang, Cita Terbengkalai Karena Cinta

kupiah

Kupiah Usang, Cinta Pudarkan Cita

cerpen : Fendi Moentjak

Entah mengapa tak biasanya perasaan gundah kembali menguat sama seperti beberapa hari terakhir. Setiap kali melihat atau mendengar alunan ayat suci Al Qur’an dan Azan ada rasa bersalah berbaur rasa rindu membalut dada.

“Kenapa mak ?, nggak jadi ketemu si Nyaik semalam ?” sapa Kalek dari balik stirnya memecahkan lamunan yang hanya kujawab dengan senyum kecut.

“Sabar mak, walau hanya dapat istirahat sebentar tapi rezeki kita juga mak. semoga trip berikutnya kita ke Bogor lagi”. Kata kalek seraya menyodorkan rokoknya.

Kalek dan Pikar sang stokar masih saja bercanda sepanjang jalan Tajur menuju Baranang Siang. Sementara aku masih asik dengan lamunan berkawan gundah, bus terkena macet di depan Masjid Raya Bogor. Karena hari ini Jumat maka alunan ayat suci telah mengalun walau waktu shalat Jumat masih lama.

Bus pun belok kiri memasuki terminal Baranang Siang. Hanya sebentar menaikan tiga penumpang. Setelah administrasi beres Kalek pun bergerak keluar terminal langsung memasuki tol Jagorawi.

“Tiga cuma mak, nanti di Rawamangun ada dua puluh orang”. Kalek menimpali saat kubuka amplop berisi salinan tiket penumpang yang tadi naik di Bogor. Tak terasa bus pun sampai di jalan Pemuda dan siap berbelok ke arah terminal.

“Kita trip pertama atau kedua disini ?” kutanya Kalek saat hari baru menunjukan pukul sepuluh kurang.

“Trip pertama mak, kenapa ?” jawab Kalek saat bus telah memasuki terminal.

“Berarti waktu shalat Jumat kita dalam tol” kujawab sambil beranjak turun untuk menyelesaikan administrasi di kantor perwakilan.

“Ha ? tumben ingat shalat Jumat” jawab Kalek heran.

Tak sampai satu jam urusan menaikan penumpang di Rawa Mangun beres dan kami pun berangkat setengah jam lebih cepat dari jadwal. Aku pun ambil alih kemudi walau tadi sebenarnya ku rencanakan untuk tugas malam. Perubahan ini membuat Kalek heran, karena tadi waktu dari Tajur kita sudah menyusun jadwal kalau siang ini jatah Kalek dan nanti di Kalianda baru gantian.

Ku tutup pintu dan suara klakson yang kupencet sebagai pertanda kami akan memulai perjalanan menuju Ranah Minang. Lambaian tangan para pengantar mengiringi bus ku meninggalkan terminal Rawa Mangun mengarah ke Cipinang terus melaju memasuki jalan Tol.

Tak terasa perjalanan Jakarta Merak pun berakhir, kini bus telah keluar tol memasuki jalan raya Cilegon menuju pelabuhan Merak, beberapa kali berpapasan dengan jamaah Shalat Jumat pulang dari Masjid membuat rasa gundah dan rasa bersalah memuncak di dadaku.

Selepas beristirahat sejenak di rumah makan Rajawali, bus kembali berjalan menuju pelabuhan Merak. Tak butuh waktu lama kami pun dipersilahkan menaiki kapal yang akan berenang menuju Bakauheni.

BACA JUGA  Panyakalan Bekali 26 Bundo Kanduang Dengan Adat Salingka Nagari

Entah mengapa perjalanan kali ini seringkali diwarnai alunan ayat suci Al Qur’an. Mulai dari berangkat di Tajur tadi pagi, di terminal Baranang Siang hingga kini saat keluar kapal di Pelabuhan Bakauheni kembali disambut Suara Mengaji dari masjid di pojok pelabuhan sebagai pertanda sebentar lagi waktu Ashar segera masuk.

Sembari menginjak gas memainkan stir mengikuti tanjakan dan liukan jalan Kalianda, anganku masih disapa oleh rasa yang hinggap sejak tadi pagi. Saat mataku menatap tikungan sambil sesekali melirik spion dikiri kanan, bayangan masa lalu menghampiriku.  Terbayang masa kecil kalau sudah jam segini mandi di banda kemudian selesai shalat Ashar berangkat ke Surau untuk mengaji.

#    #    #

Bus pun terus melaju mengikuti turun naik dan gelombang jalan Lintas Sumatera antara Muaro Bungo hingga ke Sumatera Barat dan tak terasa saat adzan magrib berkumandang bus ini telah berada di daerah Koto Baru, namun karena tempat istirahat ada di Gunung Medan maka perjalananpun berlanjut.

Setelah bus terparkir dengan aman akupun bergegas ke musala disamping rumah makan. Tak banyak lagi yang melaksanakan shalat Magrib karena memang waktunya sudah lewat sedangkan Isya belum masuk.

Tak terasa perjalanan panjangku dari kota Bogor menuju Ranah Minang telah sampai dengan selamat, pukul 02.00 dini hari bustelah sampai di poll kota Padang. Sesuai rencana semula, setelah trip Bogor-Padang ini aku akan ambil istirahat seminggu sambil bus menjalani perawatan rutinnya.

Biasanya kalau lagi libur seperti ini aku banyak menghabiskan waktu duduk di lapau atau di terminal dan sesekali mengunjungi keluarga. Namun kali ini tidak, dengan motor pinjaman dari kemanakan kudatangi madrasah tempat menuntut ilmu hampir 30 tahun yang lalu. Sambil menghirup rokok di warung seberang jalan ku nikmati nostalgia itu sambil sesekali melambaikan tangan para rekan satu profesi yang melintas di pertigaan ini.

Nada panggil hp sentakan ku dari alunan bayangan masa kanak menuju remaja yang kulalui di madrasah bagonjong ini.

“Mak, bisa ke kantor hari ini, persiapan nanti malam menjemput jamaah haji ke Padang”. Begitu suara orang kantor saat hp kujawab

“Aku lagi turun” jawabku singkat

“Bos minta tolong, bis yang di drop untuk itu terjebak macet di daerah Riau kemungkinan besok baru masuk Padang sementara ordernya nanti malam sesuai jadwal kepulangan jamaah haji” begitu penjelasan kuterima yang hanya kujawab dengan helaan nafas panjang tanda menerima.

Dari almamater langsung saja kuarahkan motor menuju kantor pusat untuk menyelesaikan perintah yang baru saja kuterima.

“Bus Mak Muncak masih dalam perawatan, kata bos Mak Muncak pakai Pariwisata saja sopirnya juga lagi turun ada urusan keluarga”. Begitu staf administrasi itu menyerahkan surat jalan dan kelengkapan untuk bertugas malam ini.

BACA JUGA  Bus MPM Berhenti Sementara Layani Penumpang Sumbar - Jakarta

Tak ada kata menolak ku terima perintah ini dengan ikhlas, padahal  biasanya aku paling pantang diberi tugas kalau lagi libur seperti ini.

“Jangan lupa Mak, pakai baju koko dan peci”. Kembali aku diingatkan saat akan menaiki bus.

Dengan tenang kulajukan bus ini keluar dari pool, ada rasa senang, ada rasa bangga dalam diriku. Bukan karena bus yang kubawa ini lebih baru dari bus biasanya. Tapi karena menjemput tamu Allah yang baru saja menyelesaikan ibadahnya. Ada rasa haru, selama karir sebagai supir bus ini tugas pertamaku yang menolong umat Islam melancarkan ibadahnya.

Larut dalam suasana haru dan gembira kini bus telah melewati danau Singkarak, begitu juga dengan motor kemenankan ku tadi yang sekarang dibawa Wawan yang akan jadi stokar dalam tugas mulia ini.

“Bu, pinjam baju koko putih sama kupiah Ayah” Kuminta Ibuku yang terpana saat bus berhenti didepan rumah berbeda dengan yang biasa kubawa.

“Kenapa ? tiba-tiba kamu minta baju koko pakai kupiah pula” jawab Ibuku keheranan

“Malam ini aku menjemput jamaah haji, menjemput tamu Allah, pakaian juga menyesuaikan” Jawabku.

“Alhamdulillah, walau kau tak sempat jadi mubaligh seperti harapan kami tapi kamu masih punya tugas melayani umat Allah dalam beribadah. Semoga suatu saat nanti harapan kami itu kesampaian jua nak,” tatapan haru ibuku saat menyerahkan pakaian yang kuminta.

Sepanjang jalan Solok Padang kata-kata Ibu selalu terngiang. Ikut menyertai liukan bus menuruni Sitinjau Lauik, pesan mendiang Angku yang menginginkan aku jadi mubaligh, seakan terdengar kembali, pesan tuan mudo guru mengaji di surau memuji kepintaran ku menyampaikan tausiah dan menyaranakan agar aku sekolah ke Padang Panjang terus terngiang di telinga.

“Nak, kamu anak ayah lelaki satu-satu. Tak terkira bangga ayah kalau suatu waktu nanti kamu diatas mimbar sana sebagai khatib dan ayah duduk sebagai jamaah yang dilanjutkan kamu didepan sebagai Imam dan ayah dibelakang sebagai makmum. Itu cita terbesar ayah terhadapmu nak”. Sebaris pesan Ayah yang selalu membekas dihati hingga kini

Semua dorongan dan motivasi itu kuterima, aku pun belajar di madrasah Kota Dingin ini selama tiga tahun yang berlanjut ke madrasah di tepi telaga sana selama tiga tahun pula. Disela menuntut ilmu dihadapan Singgalang dan Merapi itu aku mulai mengenal cinta walau itu cinta monyetnya anak SMA.

Begitu sampai pada masa itu rasa marah memuncak, rasa benci kembali meruyak mengingatnya. Karena kisah berawal ditepi telaga itu juga yang membuat semua cita ku hancur.

BACA JUGA  Personil Dirlantas Polda Sumbar Bagikan Ratusan Masker di Pantai Padang

Macetnya jalan diperempatan Lubuk Begalung merusak putaran memory masa lalu dua puluh lima tahun tahun silam. Macet sore antara Lubuk Begalung hingga Tabing telah hentikan semua kenangan yang tadi diputar.

Saat terjebak macet didepan gerbang UNP alunan azan Magrib ditimpali oleh suara klakson bus dan oplet yang seolah tak mendengarkan seruan Allah. Ingin kumarahi para sopir itu tapi apa daya. Aku hanya bisa geram seraya menggerakan bus perlahan mengikuti macet.

Ketika bus ku telah parkir di Asrama Haji bergegas ku menuju masjid disisi utara. Dengan tergesa kupakai Kupiah yang tadi diberikan ibu. Sebelum berwudhu sempat kulirik tak ada lagi jamaah di dalam karena waktu magrib telah lewat. Sambil menyeka air diwajah kuperbaiki kupiah dikepala yang tanpa sengaja menghadirkan bayangan ayah.

“Nak, boleh shalatnya berjamaah ?” Ada suara menyapa saat ku masih tertegun disaf kiri depan.

Saat ku menoleh seorang lelaki berperawakan mirip ayah telah berdiri dengan senyumnya.

“Mari, silahkan bapak Imamnya, saya iqamat” jawabku masih dalam rasa terkejut

“Kamu telah berdiri di saf depan, kamu lebih berhak” Jawabnya

“Tapi pak…” belum sempat aku menjawab ia sudah melafazkan iqamat yang membuatku tambah gugup.

Jangankan untuk jadi imam, shalat sendiri saja telah lama aku tinggalkan, apakah bacaan shalatku masih fasih, apakah hafalan ku masih ada. Ternyata Allah menunjukan jalan, tiga rakaatku berlangsung lancar.

“Lain kali, jangan pernah kau ucapkan lagi, kalau kamu sopir tak pantas jadi imam jamaah, buktinya bacaan mu bagus, hafalan ayatnya juga lancar”. Pak tua itu berkata seakan tahu apa yang tadi hendak kusampaikan sebelum shalat.

“Harus kau ingat, sebagai sopir berapa nyawa menumpang selamat dibawah telapak kakimu, berapa jiwa bergantung diputaran stirmu, alangkah mulia kalau tugas itu juga kau lanjutkan dengan menjadi imam shalat bagi para penumpangmu”. Selesai berkata demikian pak tua yang belum sempat kutanya nama apalagi alamatnya telah menghilang dihalaman asrama haji.

Duduk terpaku bersandar ditiang bulat masjid seraya mengusap kupiah ayah yang telah menegurku, mengingatkanku, semoga ini menjadi jalan mengembalikan diriku menjadi seperti harapan pemilik kupiah usang yang kini tertonggok dikepalaku.

Warung Kopi Pojok Baranang Siang Bogor, 2013

Penggalan Kisah Yang Terurai Bersama Segelas Kopi

Baca Juga : 

kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah kupiah 

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakKader PKK Ganting Padang Panjang gelar Permainan Tradisonal di Puncak Nyalo
Artikulli tjetërFitoria Eka Putra: Rockabillywood Tidak Pernah Dapatkan Sentuhan Pemko