Om, Bukan Mamak
cerpen : Fendi Moentjak
Zurhaya duduk berselunjur bersandar tonggak ditengah rumah gadang, bersamanya duduk pula beberapa wanita yang menjadi kawan diskusinya tentang persiapan alek. Sambil mendikte apa yang akan dibeli ke pasar besok pagi, sesekali mereka juga membahas tentang seremoni alek yang akan dilalui nanti. Para lelaki yang merupakan anak pisang rumah gadang ini tampak sibuk memasang kain dinding yang menjadi syarat sebuah alek. Dan dibilik ujung Fatima si anak daro tengah bercengkrama dengan para sepupunya.
Di halamanpun orang dari pelaminan juga tengah memasang tenda dan pentas serta pelaminan tempat bersandingnya anak daro dan marapulai nanti. Musik Minang juga mengalun dari speker yang sengaja ditarok didepan jenjang rumah gadang agar kemeriahan alek makin terasa.
Selepas Isya makin banyak dunsanak dan tetangga yang datang kerumah gadang Zurhaya untuk menolong memasak dan mempersiapkan berbagai hal keperluan alek nanti. Seperti kebiasaan kaum ibu di kampung ini, sebelum menolong dikajang terlebih dahulu mereka akan melongok keatas rumah melihat suasana rumah gadang dan tak jarang melihat persiapan dikamar anak daro. Dengan wajah sumringah Zurhaya menyambut dunsanak dan tetangganya, begitu pula dengan Fatima senyum tak lepas dari bibirnya tiap kali ada yang menengok kamarnya.
“Uni, siapa yang membuat hitungan baralek ini. Sebagai Mamak Kepala Waris saya tidak setuju, alek tidak bisa dilansungkan”. Erwin si mamak yang baru datang senja ini langsung mencak-mencak begitu tiba dirumah gadang.
“Apa maksudmu Win, semua proses sudah melalui mufakat keluarga. Alek ini atas keinginan Fatima dengan lelaki pilihannya”. Zurhaya tersentak dalam kagetnya.
“Tak bisa begitu saja, saya sebagai Mamak tak merestui, semua proses tak melibatkan saya, barangkali uni lupa saya yang dituakan di rumah gadang ini” Erwin terus saja membentak yang membuat seisi rumah dan yang ada dikajang terkejut melihat tingkahnya.
“Semua urusan ini kan sudah diurus si Fadli adikmu karena kesibukan jabatanmu tak ada waktu mengurus kemenakan, kenapa sekarang tiba-tiba kau batalkan semuanya, apa kau tidak iba dengan kemenakanmu” Zurhaya mencari pembenaran dalam ratapnya.
“Khusus urusan ini saya tidak ada yang diwakili saya, ini hak prerogatif saya selaku Datuak dirumah gadang ini“. Erwin makin menjadi.
“Tapi Win…”
“Untuk uni ketahui, saya diangkat jadi pejabat oleh Bupati karena percaya akan kehebatan saya, uni saja yang anak beranak yang menganggap remeh saya, sekarang saya tunjukan kalau saya juga berkuasa, kalau mau berlaki juga anak uni, tunggu saya punya waktu mengurusnya, dan yang menjadi Sumando saya harus jelas asal-usulnya bukan sembarang lelaki. Ingat Ni kita tidak orang sembarangan dikampung ini”. Makin melangit ucapannya bahkan tak diberinya kesempatan perempuan yang dipanggilnya uni itu membela diri.
“Uda orang Sumando dirumah ini, yang kecil anak ayahnya sudah besar kemenakan Mamaknya, mamaknya yang menentukan segalanya”. Erwin juga mendamprat Sulaiman suami Zurhaya yang mencoba mengetengahi keributan orang badunsanak ini.
“Mamak kejam !!!!!” Hanya itu yang terucap oleh Fatima, ia keburu ambruk karena tak kuat menahan emosi atas tingkah mamaknya jni.
Semua jadi sibuk akibat Fatima pingsan, Zurhaya yang sejak tadi menagis kini makin menjadi melihat anak gadisnya pingsan. Diantara isaknya Zurhaya mengguncang tubuh Fatima dalam pingsannya. Tak sedikitpun ada rasa iba Erwin melihat kondisi para dunsanaknya ini.
Tak cuma itu, kali ini Erwin juga membentak para perempuan yang sejak tadi memasak berbagai makanan di kajang. Puas memarahi semua orang dirumah gadang ia pun berlalu seperti tak ada masalah.
Semua mata menatap langkah Erwin, lelaki yang dinobatkan sebagai Mamak dirumah gadang Zurhaya. Ia bukanlah saudara kandung Zurhaya, hanya nenek mereka yang badunsanak induak. Tapi karena kedua adik lelaki Zurhaya ada dirantau, sementara anak lelaki satu-satunya yang juga adik Fatima masih SMA maka dipercayalah Erwin sebagai Mamak yang juga atas persetujuan dari Buyung dan Bujang yang kini dirantau.
Tak sedikitpun Zurhaya mengira sikap Erwin akan berubah seperti ini, menjadi sombong terlebih semenjak ia diangkat menjadi pejabat oleh Bupati, bukan cuma keluarga, orang kampung mengakui ke angkuhannya semenjak mengendarai mobil plat merah dua angka, bahkan para kemenakannya tak boleh lagi memanggil mamak seperti biasa, sekarang ia minta dipanggil “Om”. Sebuah panggilan yang tak lazim dikampung ini.
Fatima sudah siuman namun belum banyak bicara, disampingnya duduk Zurhaya sang ibu masih dengan mata yang lembab sambil memijit kaki Fatima.
Dari awal memang Erwin si mamak sombong itu menunjukan rasa tidak sukanya pada Habibi yang akan menikahinya besok, ini terlihat dari beberapa kali pertemuan saat Habibi bertandang kerumah ini yang kebetulan bertemu Erwin, belum sekalipun ia menjawab uluran tangan Habibi walau sekedar bersalaman.
Dengan sinis ia menyatakan tidak sukanya kepada Habibi dihadapan Zurhaya dan Fatima dengan alasan Habibi bukan tipe yang cocok untuk Fatima ditambah lagi kampungnya bukan dari nagari yang sama serta pekerjaannya yang digelutinya membuat tak ada nilai plus dimata Erwin. Dan itu berulang kali disampaikannya yang tak jarang diiringi celaan akan profesi Habibi.
Fatima yang cintanya tulus tak goyah dengan sikap mamaknya ini. Bersama Habibi ia bersikukuh merajut cinta ini dalam tali pernikahan. Dengan sikap gentel Habibi ingin membuktikan kepada orangtua Fatima bahwa Erwin salah menilainya. Melihat tekad keduanya orangtua Fatima pun merestui.
Prosespun berlanjut menjadi pembicaraan keluarga dan memasuki tahap meminang secara adat. Erwin yang saat proses ini berjalan tengah mengikuti pendidikan jabatan memberi kuasa urusan ini pada adiknya Fadli dan melahirkan kesepakatan kedua keluarga kalau besok adalah hari pernikahan mereka yang dilanjutkan dengan alek dirumah gadang.
# # #
Mata Fatima masih bengkak karena tak henti menangis sejak senja tadi, ia meratapi nasibnya, meratapi cintanya. Tak sedikitpun ia menyangka ditengah kemajuan zaman yang serba canggih ini pemaksaan kehendak pada perjodohan masih saja terjadi. Erwin si “mamak” yang sejak berpangkat di kantor Bupati lebih banyak bercakap bahasa Indonesia dengan kemenakannya ini dan merubah panggilan Mamak menjadi “Om” terutama dihadapan para koleganya sesama pejabat. Fatima yang pegawai honor di Kantor Bupati cukup risih juga dengan gaya mamaknya ini.
Terkenang kembali pertemuannya dengan Habibi di kantor Perizinan kala itu. Habibi datang mewakili perusahaan tempat bekerja untuk menyelesaikan kontrak kerja antara pemerintah dengan tempatnya bertugas. Pertemuan itu terus berulang beberapa kali hingga urusan Habibi selesai, dari perkenalan itu terus menjadi jalinan persahabatan yang kemudian menumbuhkan benih cinta diantara mereka.
Habibi yang dimatanya tampil sebagai sosok mandiri dan berani menghadapi tantangan berhasil merebut simpatinya. Terlebih lagi seiring waktu berjalan iapun makin banyak tahu tentang latar belakang Habibi. Keteguhan prinsip salah satu hal yang membuatnya kagum pada lelaki yang secara umur hanya terpaut satu tahun diatasnya.
Awalnya tak ada rasa dihatinya, ia menerima Habibi tak lebih sekedar pengisi hari-harinya karena sang kekasih semanjak bangku kuliah telah kembali ke kota asal dilain propinsi yang hingga setahun berlalu sejak wisuda tak ada kepastian yang diberinya.
Sementara Habibi hadir bukan menawarkan cinta kala itu, tetapi mengajak Fatima untuk saling mengenal pribadi masing-masing seraya mengatakan kalau ia tak ingin menjalin cinta dengan Fatima yang akhirnya berujung luka salah satu pihak. Tak lupa Habibi menceritakan kisah pahit yang baru saja dilaluinya setelah ditinggal nikah oleh pacarnya.
Dua bulan saling menjajaki merekapun menemukan kelebihan satu sama lain hingga jalinan yang awalnya hanya biasa saja menumbuhkan rasa cinta, dan dengan gentelnya Habibi menyatakan keinginan meminangnya.
“Aku tak ingin berlama seperti ini, jujur aku takut kecewa lagi, kalau memang kau obat lukaku, aku ingin menghalalkanmu disampingku”. Begitu kalimat Habibi yang membuatnya tersanjung sekaligus tak menyangka kalau keyakinan itu begitu cepat datangnya.
Fatima yang kaget bercampur senang langsung menyetujui ajakan Habibi dan sore itu juga mereka bertemu dengan ayah bunda Fatima untuk meminta restu yang berlanjut beberapa hari kemudian bertemu dengan orang tua Habibi yang juga merestui niat baik keduanya hingga memasuki tahap pembicaraan tingkat keluarga kedua belah pihak.
# # #
Zurhaya juga demikian di Bilik Pangka ia bersimpuh diatas sajadah mengenang peristiwa tadi. Tak pernah terpikir olehnya kalau Erwin akan berbuat seperti itu, Dunsanak yang ditompang jadi mamak yang seharusnya melindungi dan mengurus kemenakannya sekarang justru maurak semua urusan yang sejak awal berjalan mulus.
“Kalau tahu akan begini, sejak dulu tak kusetujui dia menyandang gelar pusako itu”. Zurhaya mendesah yang diiringi istighfar menenangkan diri.
Dalam lamunannya Zurhaya mengenang nasib mereka Badunsanak, kedua adik lelakinya amat betah diperantauan dengan bisnis yang mereka geluti hingga tega mereka melihat kemenakannya menumpang mamak. Karena pandainya Erwin meyakinkan Buyung dan Bujang bahwa ia akan mengurus semua urusan keluarga dan akan menjalankan peran mamak dan tanggung jawab sebagai Tungganai yang seharusnya disandang oleh Buyung akhirnya gelar pusako pun disandangnya.
Tetapi kepercayaan dari tigo Badunsanak Zurhaya ini disalahgunakan oleh Erwin, entah sudah berapa kali ia menggadaikan sawah pusako untuk memenuhi ambisinya melalui peran sebagai tim sukses. Banyak rayuan yang dilontarkannya agar Zurhaya dan anaknya mau menandatangani perjanjian pagang gadai itu.
“Nanti kalau saya jadi pejabat, mudah pula saya menolong anak uni untuk masuk jadi pegawai, makanya saya usahakan dekat dengan Bupati”. Kalimat itu selalu dilontarkannya setiap kali meminta tanda tangan Zurhaya dan memang akhirnya ia bisa jadi pejabat dan Fatima juga dimasukan sebagai pegawai honor disalah satu kantor.
Sesak dada Zurhaya membayangkan kelakuan Erwin selama menjadi Tungganai dirumah gadang ini, kejadian tadi telah membuka matanya kalau selama ini Erwin telah menyalahgunakan wewenang. Buyung dan Bujang yang telah dikabari tentang peristiwa ini hingga kini belum memberikan tanggapannya.
# # #
Dalam Ibu dan Anak ini mengenang nasib dari dua kamar berbeda mataharipun telah menampakan dirinya dari ufuk timur, sementara para dunsanak yang sejak semalam menemani masih terlelap. Mungkin mereka lelah karena mendengarkan keluh kesah Fatima akan nasibnya.
Belum lagi habis masalah semalam, pagi ini Erwin sudah mahariak dari janjang rumah gadang yang membuat Zurhaya dengan mata sembabnya tergopoh membukakan pintu.
“Kenapa kain dinding ini belum juga dibuka, panggil orang pelaminan bongkar tenda dan pentas dihalaman sana, tak kan ada alek, tak kan ada pernikahan !!”
“Kenapa setega ini mak ?, Apa salah Ima mak ?, kenapa mamak tak merestui pernihakanku dengan Habibi ?”
Dengan langkah letihnya Fatima keluar kamar dan melontarkan tanya yang sedikitpun tak melunakan sikap Erwin.
“Om, Bukan Mamak”. Bentakan ini kembali membuat Fatima pingsan dengan undangan yang ada fotonya bersama Habibi masih digenggaman.
Munggu Rajo, April 2017
Mengenang Kopi Pahit Gula Yang Terserak di April 2005



Facebook Comments