Mak Katik
cerpen : Fendi Moentjak
Jamaah mulai riuh, pengurus yang tadi membacakan laporan keuangan masjid juga terlihat panik. Ia mondar mandir sampai ke teras. Beberapa kali jamaah disapa, hanya dijawab gelengan kepala.
Keriuhan dalam masjid berbaur dengan suara klakson dan deru mesin bus yang melintas. Sayup-sayup terdengar azan dari kejauhan pertanda waktu Jumat telah masuk. Disini masih belum terlihat Khatib diantara jamaah.
“Maaf bapak-bapak, apakah ada diantara kita yang bisa jadi khatib ?, ustadz kita masih belum datang hingga saat ini ” pengurus dengan wajah pucat memberanikan diri bertanya.
Tak ada yang menyahut, jamaah saling pandang kiri dan kanan. Pengurus yang bertanya pun menebar pandangan kesetiap sudut masjid. Tetap tak ada jawaban, sementara diluar sayup terdengar khutbah dari masjid lain.
Disudut kiri, dua saf dari belakang, tampak lelaki paruh baya tengah memainkan hapenya. Ia seakan tak peduli dengan kondisi masjid. Sesekali tampak rambutnya yang mulai memutih dan jarang itu diterbangkan kipas angin. Wajahnya sedikit tegang.
Ia menghela nafas, kemudian mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Setelah melihat sekililing, ia berdiri dan merapikan kaos yang dipakainya. Tampak juga ia mengibaskan celana jeans yang dipakainya.
“Saya yang akan jadi khatib,” ujarnya mantap yang membuat seisi masjid menoleh kearahnya.
Tatapan heran dari jamaah tetap masjid terminal, karena tak menyangka sosok yang akrab disapa Mak Katik ini akan tampil menyampaikan khutbah yang menjadi rukun salat Jumat.
Orang-orang yang beraktifitas di terminal ini hanya mengenal Mak Katik, agen yang juga mantan sopir bus ini sebagai sosok mudah bergaul namun suaranya keras dan gaya kehidupan terminal melekat pada dirinya, pribadi Mak Katuk tak banyak yang tahu, termasuk nama asli yang melekat di identitas resminya.
Namun demikian, ia termasuk yang taat ke masjid diantara puluhan orang di terminal ini. Walau kadang tak sempat berjamaah, hampir dipastikan setiap waktu salat masuk ia akan ke masjid.
Mak Katik pun tak banyak menceritakan kisah hidupnya ke orang-orang di sekitarnya yang sama beraktivitas di terminal ini. Yang diketahui, ia pernah membawa bus antar propinsi dan beberapa kali pindah perusahaan. Itu dijalaninya selama puluhan tahun sejak muda.
Setelah pensiun, Mak Katik memilih profesi sebagai perwakilan sebuah perusahaan bus antar pulau. Selain menjual tiket, ia juga bertugas mengurus semua urusan bus tersebut di kotanya. Tak heran jika relasi Mak Katik dari berbagai kalangan termasuk aparat hukum dan pemerintah.
Lama hidup di jalan sebagai awak bus hingga berlanjut ke terminal menempa mental dan pribadi Mak Katik menjadi keras. Bahkan untuk bercanda pun suaranya cukup keras. Namun ia baik hati dan suka menolong. Tapi tak jarang pula ia marah hingga Bacaruik, jika ada yang tidak wajar. Sehingga Mak Katik juga dijuluki Buruak Sarengeh dikalangan pelaku bisnis di terminal ini.
Mak Katik tampil memberanikan diri menjadi Khatib Jumat hari ini adalah refleksi atas dirinya sendiri hampir lima puluh tahun silam. Saat itu Katik kecil yang nama aslinya Zainudin termasuk murid yang rajin di Surau. Ia punya kemampuan pidato dan berbakat jadi mubaligh. Oleh guru mengajinya Zainudin diasah terus sehingga memiliki kemampuan lebih dari anak-anak lainnya.
Ia pun sering menjadi guru pengganti, dan tak jarang kalau Ramadhan datang ia tampil menjadi penceramah. Sejak saat itulah ia mulai dipanggil Katik atau Khatib sebagai panggilan kesayangan guru mengajinya yang kemudian diikuti oleh kawan-kawannya.
Melihat bakat dan kemampuan Zainudin alias Katik, guru mengajinya menyarankan orangtuanya menyekolahkan ke pesantren di Padang Panjang. Agar kelak ia menjadi ulama.
“Ka jadi suluah di nagari, tampek baiyo jo bantanyo,” begitu harapan guru mengajinya kepada Ayah dan Mandenya saat itu.
Katik kecil menyetujui saran tersebut. Ia pun diantar masuk salah satu pesantren ternama di Padang Panjang. Dengan semangat pendidikan dijalaninya, Ayahnya yang seorang Pangulu cukup memanjakan dan membanggakan Katik sebagai calon ulama. Tak ada kebutuhan sekolah Katik yang kurang, bahkan bisa dibilang berlebih.
Memasuki tahun ketiga di pesantren, sang Ayah meninggal dunia. Ini menjadi titik kemunduran Katik mencapai cita. Katik beradik kakak pun putus sekolah karena ibu mereka tak sanggup membiayai sekolah Katik adik beradik. Sawah dan ladang yang selama ini penopang hidup keluarga mereka, diambil kembali oleh kemenakan Ayahnya, karena memang itu milik mereka secara adat.
Katik yang saat itu masih belasan tahun, tak ingin menjadi beban keluarga mencoba meringankan tanggungan ibunya dengan mencari belanja sendiri. Ia keluar pesantren dan pindah ke sekolah biasa, sepulang sekolah ia bekerja serabutan mencari belanja.
Dari kuli angkat di pasar hingga tukang sapu bus, di terminal. Haluan hidup kembali berubah, Katik terpedaya kehidupan pasar dan terminal hingga akhirnya ia berhenti sekolah. Karir baru dimulainya sebagai kernet bus, pekerjaan terus dilakoni hingga ia naik pangkat menjadi sopir.
Peningkatan karirnya dari sopir bus antar kota meningkat jadi sopir bus antar propinsi. Selama karir ini, kaji-kaji di surau dan pelajaran di pesantren mulai terlupakan. Begitu juga dengan salatnya, tak lagi terpelihara. Namun panggilan Katik tetap menutup nama aslinya bahkan bertambah dengan sebutan Mamak.
Saat usia mulai menua, Mak Katik tak kuat lagi melakoni profesi sebagai sopir bus antar propinsi. Istri dan anaknya pun mendukung dan ia beralih profesi menjadi agen, masih dilingkungan terminal. Secara ibadah, Mak Katik kembali memperbaiki diri mengingat dan mengamalkan kembali kaji-kaji yang dulu didapat di surau dan pelajaran yang dulu diterimanya di pesantren.
Semua mata tertuju pada Mak Katik menuju mimbar. Pengurus yang tadi pucat pun menjadi sumringah. Melihat penampilan Mak Katik, berbegas ia menyerahkan peci yang dipakainya. Seorang remaja disuruhnya jadi muazin.
Mak Katik naik ke mimbar, setelah mengucap salam, ia duduk hingga azan selesai. Satu persatu rukun khutbah dipenuhinya hingga selesai. Turun mimbar ia langsung berdiri di sajadah imam.
Sebuah pemandangan janggal, namun sebenarnya mengharukan, imam salat Jumat berbaju kaos celana jeans. Dengan fasih tugas imam diselesaikannya.
Selesai salat, Mak Katik terisak bersila di sajadah. Terbayang wajah Ayahnya, terkenang harapan dan cita yang disampaikan lelaki kebanggaanya itu saat meninggalkan dirinya dipintu asrama pondok pesantren.
“Maafkan aku Ayah, harus menunggu puluhan tahun melihat ku jadi Khatib seperti harapan Ayah, Mande dan Tuan Guru. Baru hari ini aku sanggp menjalaninya Yah..” ia terisak, jamaah yang sebagian besar warga terminal terharu melihat Mak Katik.
Bareh Solok, Jumat petang diujung Agustus 2021



Facebook Comments