Bahaya Membesarkan Anak Tanpa Tujuan

Ilustrasi, foto koleksi SuhaNews.

Bahaya membesarkan anak tanpa tujuan” Ingatlah, ketika istri ‘Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (TQS. Ali Imran: 35).

Keluarga Imran as adalah salah satu contoh orang tua yang  memiliki tujuan dan pengharapan pada anaknya. Istrinya (Hanna binti Faquz), tidak mau anak yang kelak dilahirkan menjadi anak yang biasa saja, dirawat dan dibesarkan tanpa tujuan. Allah pun berkenan memenuhi doa dan harapan mereka, menjadikan keluarga Imran sebagai satu dari sekian keluarga yang tercatat namanya di dalam Al-Qur’an yang agung.

Namun kini, fakta yang ada di tengah-tengah kita demikian jauh dari apa yang digambarkan dari episode kehidupan keluarga Imran. Keluarga-keluarga muslim telah kehilangan visi misi hakikinya dalam mendidik anak-anak mereka. Generasi yang lahir diasuh dan dididik demikian natural, tanpa ada arah tujuan yang jelas, hendak dibawa ke mana mereka.

Fakta memperlihatkan kondisi miris, remaja dan generasi muda saat ini telah menjelma menjadi pribadi yang senantiasa terobsesi dan terorientasi semata kesuksesan materi. Mereka hidup dalam kubangan sikap hedonis, senang pamer kekayaan dan prestasi, generasi alay dan bucin. Sementara demikian miskin adab dan penghormatan pada orang lain termasuk orang tua. Di antara mereka pun tak jarang yang memiliki sifat culas dan enggan untuk mengikuti aturan dalam kehidupan.

Jika kita berusaha memetakan permasalahan ini, sungguh akan masuk pada satu pertanyaan besar yakni mengapa muncul generasi muslim yang bersifat hedonis materialistis, demikian jauh dari aturan agama.

Sesungguhnya generasi hedonis dan miskin akhlak adalah mereka yang dibesarkan tanpa arah dan tujuan agama yang benar oleh orangtuanya. Orangtua tidak memahami visi dan misi berkeluarga. Keluarga disibukkan dengan upaya mencari nafkah. Ibu melalaikan peran sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Dimana semestinya ia menjadi pendidik pertama dan utama bagi anaknya, memberi teladan dan pengurusan terbaik, menyediakan muara kasih sayang sepenuhnya. Anak disub-kontrakkan pengurusan dan pengasuhannya pada pihak lain, dalam hal ini para asisten rumah tangga, gadget atau lembaga pendidikan yang notabene sekuler dan liberal.

Ayah tidak optimal berperan sebagai qawwam (pemimpin keluarga). Kokohnya bangunan keluarga yang semestinya ditopang olehnya, ia lalaikan demi waktunya terkuras untuk urusan mencari nafkah yang makin hari kian menghimpit.

Hal di atas terjadi karena sistem demokrasi kapitalis telah menciptakan kondisi kemiskinan sistemik. Ditambah sekularisme yang berlaku mengarahkan individu-individu di masyarakat menganut agama hanya dari sisi ibadah mahdah. Sementara urusan kehidupan mereka serahkan pada selera masing-masing yang sarat nafsu duniawi. Liberalisme telah menyempurnakan terperosoknya seluruh komponen dalam keluarga (ayah, ibu, dan anak) di masyarakat serta kian menjauhkan mereka dari tata nilai agama. Negara dalam hal ini yang semestinya menjadi pelindung dan pengurus bagi seluruh masyarakat telah abai dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak dan generasi muda.

Bercermin dari kisah isteri Imran dalam Al-Qur’an hingga Allah menganugerahinya Maryam, wanita salehah ibunda Nabi Isa as. Lalu peran ibunda Imam as-Syafi’i, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, al-Khansa, dan lain-lain. Mereka juga adalah generasi cemerlang yang dibesarkan dengan tujuan syar’i. Begitupun dengan para salafus saleh dan sahabiyah adalah teladan indah bagi para orangtua mencetak generasi dengan landasan keimanan dan ketakwaan.

Maka, mesti disadari betapa anak-anak dan generasi muda hari ini akan menjadi tokoh di masa mendatang. Ibu sebagai sekolah pertama dan utama. Bersama ayah menjadi kunci sukses lahirnya tokoh muda saleh penuh inspirasi di tengah gempuran budaya hedonis dan permisif, output dari sistem demokrasi kapitalis yang sekuler dan liberal.

Dari sisi individu ayah dan ibu bekerjasama untuk menentukan visi misi berkeluarga mengikuti arahan yang datang dari Sang Khaliq. Tentu hal ini membutuhkan amunisi tsaqafah Islam dan ilmu parenting yang saling berkaitan. Kedua amunisi tersebut diupayakan untuk diterapkan dengan seideal mungkin sehingga anak yang berada dalam pengasuhannya diasuh, dibesarkan dan dididik dengan arah yang jelas.

Masyarakat dan lembaga pendidikan pun mengarah pada tujuan yang sama. Menjalankan visi misi syara. Ditopang oleh kesungguhan negara menelurkan kebijakan-kebijakan publik yang disandarkan pada syariat kafah menjadikan iklim kondusif bagi terciptanya generasi yang berakhlakul karimah dan menjadi tokoh peradaban gemilang di masa depan.

Oleh: Yuliyati Sambas, S.Pt
Ibu Generasi, Komunitas Penulis Bela Islam AMK

Ilustrasi Foto Koleksi SuhaNews

Sumber : IndekNews

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...