Buya Maksum Malim Wafat, Diniyyah Puteri Padang Panjang Sampaikan Belasungkawa

Buya Maksum Malim Wafat, Diniyah Puteri Padang Panjang Sampaikan Belasungkawa
SuhaNews. Kabar duka wafatnya Buya Maksum Malim, diakhir pekan kemarin, Sabtu (24/7), Keluarga besar Diniyah Puteri Padang Panjang sampaikan belasungkawa.

Dalam usia 72 tahun, Sabtu malam (24/7/2021), Pembina Yayasan Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar Jambi Dr. H. Maksum Malim, Lc., M.Pd.I menghembuskan napas terakhir.

Kematiannya tiba-tiba mengingatkan hamba yang dha’if ini pada kisah kematian Syekh Daud Rasyidi (1880-1948). “Kematiannya sangat takjub dan sangat dirindui oleh tiap-tiap orang beragama,” kenang Haji Abdul Karim Amrullah alias Buya Hamka.

Hamba yang dha’if ini menggores pena “in memoriam” untuk sekadar bercerita.

Buya Maksum Malim adalah suami dari Ibu Rosmaini. Ibu Rosmaini ini muridnya Rahmah El-Yunusiyyah. Ia yang mendirikan Diniyyah Al-Azhar di Jambi. Konon, ketika Rahmah El-Yunusiyyah meninggal dunia, Rosmaini membawa dua selendang pendiri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang itu.
Buya Maksum Malim menikahi Rosmaini pada 1981. Saat itu usia Rosmaini 29 tahun, usia Buya Maksum Malim 31 tahun.
Buya Maksum Malim adalah adik dari Asma Malim, sahabat Isnaniah Saleh. Sepulang mengisi acara di Jambi, Asma Malim menunjukkan foto Rosmaini kepada pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang itu. Isnaniah Saleh tak kaget dengan foto perempuan yang juga sempat menjadi muridnya. Ternyata Asma Malim ingin menjodohkan Rosmaini dengan adik laki-lakinya.
Catatan menyebutkan bahwa Maksum Malim pernah bekerja sebagai penulis konsep pidato Mohammad Natsir selama empat tahun ketika di Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII).
Mohammad Natsir turut membantu Maksum Malim untuk mendapatkan beasiswa studi di Riyadh, Saudi Arabia. Riwayat hidup Buya Maksum Malim tentu sebentuk biografi tersendiri.
Tulisan akhir biografi setiap manusia adalah kematian. Setelah disalatkan di Masjid Fatimah Diniyyah Al-Azhar Muaro Bungo, jenazah Buya Maksum Malim disemayamkan di pemakaman keluarga di Kompleks Perguruan Diniyyah Al-Azhar Perumnas Cadika Muara Bungo, Jambi.
Di tengah sakitnya, Buya Maksum Malim masih bersemangat beribadah dan berdakwah. Sabtu (27/7), ia terjatuh saat salat berjamaah di Masjid Diniyyah Al-Azhar.
Dalam kronologi yang tentu berbeda, Syekh Daud Rasyidi menjelang ajalnya sedang salat di surau Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947). Saat itu Syekh Daud Rasyidi pulang dari memberikan penerangan agama di Batusangkar.
Sampai di surau Muhammad Djamil Djambek, ia juga hendak memberikan penerangan agama. Maghrib pun tiba, Syekh Daud Rasyidi menunaikan salat.
Hari itu jiwa Syekh Daud Rasyidi tetap bersemangat untuk berdakwah. Sebagaimana pada zaman pendudukan Jepang, ia tak letih berkeliling kesana-kemari sebagai juru dakwah dan penerangan agama ketika tak bersetuju dengan kawan-kawannya yang memilih “berkolaborasi” dengan Jepang.
Namun, Allah Swt. menentukan lain. Seusai raka’at kedua salat Maghrib itu, Syekh Daud Rasyidi berdiri. Kakinya ternyata tak kuat lagi memapah. Ia terjatuh dan tibalah ajalnya.
Kematian manusia adalah keniscayaan. Buya Maksum Malim telah pergi dari dunia ini untuk selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

(HENDRA SUGIANTORO, penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia, 2021).

Baaca Juga : 

Facebook Comments

BACA JUGA  Kunjungi Kantor Camat, Walikota Solok Evaluasi SOP Pelayanan Masa Pandemi
loading...
Artikel sebelumyaBupati Agam Lepas Pawai Khatam Al-Qur’an di Nagari Panampuang
Artikel berikutnyaEko Yuli, Satu-satunya Atlet Indonesia Yang Meraih Empat Medali Olimpiade