Covid-19 “Sembelihan Kurban” dari Wuhan (1)

covid

Covid-19 “Sembelihan Kurban” dari Wuhan (1)

Oleh: Arifuddin M. Arif (Dosen IAIN Palu, Sulawesi Tengah)

Hari raya Idul Adha 1441 Hijriah, yang jatuh pada Jum’at 31 Juli 2020, berbeda dari biasanya karena pandemi. Pelaksanaan shalat Idul Adha dan pemotongan hewan kurban pun harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 sebagai bentuk adaptasi masa kenormalan baru.

covid

Pelaksanaan hari raya Idul Adha yang disyari’atkan kepada kita setiap tahunnya, merupakan refleksi dari persitiwa besar yang dialami oleh Ibrahim a.s. mendapat perintah dari Allah Swt. lewat mimpinya untuk menyembelih anak semata wayangnya, yaitu Ismail a.s. (Q.S. al-Saffat [37]: 102-103).

Nabi Ibrahim a.s. pun yakin dengan mimpinya sebagai perintah dari Allah Swt. dan Ismail (kecil) pun dengan ikhlas dan sabar menerima titah dari Rabb-Nya serta kebulatan tekad ayahnya. Namun, mereka hanya diuji. Allah meridhai keluarga ini memasrahkan diri kepada-Nya. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor domba sebagai kurban pengganti Ismail (Q.S. al-Saffat [37]: 107-110).

Perintah untuk menyembelih Ismail, adalah puncak ujian yang diterima oleh Nabi Ibrahim a.s. dari beberapa deretan ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ujian ini pun datang, pasca Nabi Ibrahim mendapatkan pelbagai prestasi, mulai sebagai pemimpin keluarga maupun umat. Bahkan, konon Nabi Ibrahim a.s. pun dikisahkan pernah memiliki kekayaan berupa hewan ternak yang sangat pantastis nilainya ketika itu (Heri Koeswara, mengutip dari Misykatul Anwar: 2015).

Ujian Allah Swt. kepada kita hamba-Nya, memang terkadang datang ketika kita berada pada puncak pencapaian kesuksesan selain ujian dalam bentuk kesulitan hidup. Tentu, bobot nilai ujian di saat puncak pencapaian sukses jauh lebih tinggi dan berat tantangannya. Mengapa demikian? Karena, terkadang situasinya berubah. Kita biasanya dengan muda menjadi lupa diri, angkuh, sombong, dan lupa kepada sang Maha Pemberi Sukses.

Bagi orang yang berbuat ihsan, ikhlas, sabar dan konsisten taat kepada Allah ketika diuji dengan apa dan situasi apa pun, maka ada balasan besar dan terbaik dari Allah. Inilah yang diperoleh Nabi Ibrahim a.s. hingga Allah memberinya anugerah kehormatan besar sebagai “Khalilullah” (kekasih Allah).

Kemajuan peradaban di bidang material-ekonomi, sains dan teknologi, dan sebagainya di abad ini sungguh menakjubkan. Namun demikian, sikap dan perilaku kita dalam menikmati kemajuan peradaban ini pun banyak mencerminkan sikap dan perilaku angkuh, takabbur, sombong, lupa diri dan lupa Tuhan. Oleh karena itu, Allah pun ingin menguji kita dengan mengirim makhluk-Nya dari Wuhan.

Covid-19, bisa jadi adalah alat uji Tuhan dikirim dari Wuhan untuk menilai kepekaan teologis dan humanitas kita di tengah kemajuan peradaban sains teknologi dan industrial.

Covid-19, bisa jadi simbol dari wujud dan karakter kebinatangan dalam diri kita yang harus kita sembelih dalam rangka mengantarkan kita untuk dekat dan mendekat kembali kepada Tuhan di abad ini. ***

BACA JUGA :

Facebook Comments

loading...