SuhaNews – Masih dalam suasana lebaran 1446 H, pengunjung pasar Sumani, Minggu (6/4) lebih ramai dari biasanya. Selain masyarakat kecamatan X Koto Singkarak yang belanja kebutuhan, banyak pula perantau yang mencari kulier incaran seperti Katupek Pitalah.
Para perantau yang pulang kampung memanfaatkan kesempatan ini untuk berburu kuliner khas yang ada di pasar yang beroperasi setiap hari minggu. Katupek Pitalah, Pical Langkok hingga Es Tebak menjadi sasaran utama para perantau.
Selain itu, kue tradisional seperti Mangkuak, lapek, kue talam hingga kipang bareh, kipang kacang, kipang sipuluik turut diburu dan disipakan untuk oleh-oleh kembali ke rantau.
Katupek Pitalah adalah salah satu kuliner legendaris yakni ketupat dengan gulai cubadak dan rabuang yang kuahnya khas dibawa oleh pedagang dari nagari Pitalah kecamatan Batipuh kabupaten Tanah Datar. Salah satu ciri khas pedagang membawa gulai cubadak ini dalam plastik besar kemudian dimasukan kedalam kaleng.
Dalam menjualnya, pedagang menyusun ketupat dimeja setinggi lutut, kemudian gulai diambil dari sebuah belanga. Untuk toping ada karupuak ubi dan mie, tergantung selera. Untuk harga satu porsi Katupek Pitalah sebesar Rp. 8.000,- (delapan ribu rupiah) dan harga menyesuaikan sesuai tambahan kerupuk atau mie.

Pical Langkok, sama seperti katupek Pitalah, ini juga salah satu kuliner legendaris yang ada di balai / pasar nagari yang beroperasi sekali sepekan. Pical Langkok ini selain pical sayur yang berkuah kacang, juga ada ketupat dengan gulai cubadaknya yang kemudian disiriam dengan kuah sate terakhir ditaburi kerupuk merah.
Penjual Pical Langkok, dagangannya lebih beragam, pembeli juga bisa memesan pical saja, katupek gulai cubadak, atau cuma sate. Piring akan terlihat penuh jika memesan Pical langkok.
Sebagai kawannya, pedagang juga menyajikan es tebak yang juga kuliner legendaris dari Sumatera Barat. Es Campur yang disajikan parutan es membubung diatas mangkok menjadi obat pedas setelah menyantap Pical Langkok.
Fauzi (40) salah satu perantau yang ditemui SuhaNews di pasar Sumani tengah menyantap Katupek Pitalah bersama istrinya mengatakan, ini agenda wajib tiap kali pulang kampung.
“Malapeh salero, di pasa Sumani, katupek yang ada disini jauh beda dengan ketupat sayur yang ada di Jakarta,” ujarnya yang saat makan Katupek Pitalah batambuah hingga dua kali.
Selain keketamlan kuah gulai dan rasa khasnya, rasa cubadak dan rebung yang digulai Katupek Pitalah ini berbeda denngan nangka yang jadi gulai ketupat sayur.
“Ini salah satu saruan kampuang untuk selalu pulang setiap tahun,” imbuh Fauzi yang katanya pulang tiga keluarga beradik kakak dan hobi kulier mereka sama.
“Ini kakak saya sama anak-anaknya lagi makan Pical Langkok, saya minta bungkusin es tebaknya saja buat dirumah nanti,” ulasnya sambil tertawa.

Sementara di kantong yang dibawa Fauzi berisi beragam kue tradisional sebagai oleh-oleh kembali ke rantau. Ia menyebut, kue seperti kipang dan lainnya yang ada di pasar tradisional ini beda dengan yang di toko oleh-oleh. Moentjak
Berita Terkait :



Facebook Comments