Kisah Ustadz Kampung dan Tahniah

Kisah Ustadz Kampung dan Tahniah
Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Kisah Ustadz Kampung dan Tahniah

oleh : Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa

Ketika seorang bupati memenangkan persaingan pilkada menjadi gubernur, ustadz kampung yang selama ini mengenalnya, belum juga “mencogok” mengucapkan selamat. Bahkan sms pun tak tiba sebagai tahniah atas kedudukan bergengsi yang baru saja dicapai oleh sang bupati.
Sampailah ketikanya setelah satu bulan berlalu, suatu mejelis menghimpun ustadz kampung dengan sang gubernur(mantan bupati).

Di sela-sela acara, sang gubernur membisikkan pertanyaan, “kenapa ustadz tak berkunjung ke rumah ?”.

Dengan berat hati sang ustadz menjawab, “untuk apa saya ke rumah bapak ? Untuk mengucapkan selamat ? Apakah jabatan yang bapak pikul yang bisa berujung penyesalan di akhirat, akan saya iringi dengan ucapan selamat ? Apakah jabatan ini akan membawa keselamatan untuk bapak atau membawa bencana, hanya Allah swt yang tahu”.

Gubernur itu terdiam saja mendengarkan jawaban sang ustadz.
Sebenarnya ustadz kampung itu khawatir juga, jika gubernur itu tersinggung.

Namun mau bagaimana lagi, inilah saatnya untuk mengingatkan sebelum beliau jauh melangkah.

Ustadz kampung pun melanjutkan, “Pak !Bapak kan sudah tahu perangai saya selama ini. Lagi pula kehadiran tanpa sebab yang jelas dari ulama ke pintu penguasa, bisa mengundang fitnah.
Bapak ingatkan hadits yang pernah saya sampaikan dalam suatu pengajian di rumah bupati dahulu ?

مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتَتَنَ

“Siapa yang mendatangi pintu-pintu sulthan, terfitnah”. (HR. al-Tirmidzi).

Kalau bapak perlu, bapak kan bisa telpon dan kalau memang perlu penjelasan, kita bisa jadwalkan pertemuan, insya Allah”.

“Baiklah ustadz”, kata sang gubernur.

“Selanjutnya apa yang bisa ustadz lakukan buat saya dalam memikul jabatan berat ini ?”, tanya Pak Gubernur itu.

BACA JUGA  Kemenag Terbitkan Buku Tata Kelola Umrah Indonesia 2021

Ustadz kampung pun berkata, “saya tetap berdo’a yang terbaik untuk bapak tapi biarlah isinya menjadi rahasia antara hamba dengan Rabbnya. Saya juga akan menjalankan tugas keulamaan dengan amanah ilmiah yang akan mengingatkan bapak terus agar jangan berkhianat dengan amanah. Itu akan saya lakukan semampu saya. Semoga saja bapak tidak tersinggung bila saya tegur. Saya agak khawatir karena sekarang bapak bukan bupati lagi”.

“Saya tetap yang dulu juga ustadz. Nggak ada bedanya dan tak akan berubah walaupun dalam jabatan yang berbeda”, kata pak gubernur.

“Saya juga tetap sama seperti dulu dan tolong do’akan saya agar tetap istiqamah dan tidak berubah karena godaan dunia”, timpal ustadz kampung.

“Sama-sama ustadz”, tutup pak gubernur.  ***

Kisah Ustadz Kampung lainnya :

 

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaTim Robotic MAN 1 Bukittinggi Masuk 30 Besar Nasional Lomba MRC 2020
Artikel berikutnyaArsenal Juara Grup B Liga Europa, Tersendat di Liga Inggris