Kolom; Guru Tak Tergantikan

guru

Guru Tak Tergantikan

Oleh : Yusrijal Dt. Makhudun, S.Pd (Guru SMPN 5 Batusangkar) 

Tidak dapat disangkal bahwa pandemi Korona telah mengubah berbagai aspek kehidupan. Dampak korona mampu mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Aktivitas masyarakat terbatas dan dibatasi agar penyebaran korona tidak meluas. Perilaku sehat dengan menerapkan protokol kesehatan semakin ditingkatkan. Kegiatan ekonomi juga dibatasi. Mobilitas masyarakat juga terhambat. Akibatnya, akses masyarakat terhadap aktivitas ekonomi, seperti perhubungan, pariwasata, perdagangan, terasa semakin sempit. Meskipun telah dibelakukan suasana New Normal, aktivitas masyarakat tetap terbatas dengan kebijakan jaga jarak (physical distancing).

Hal tersebut juga memengaruhi aktivitas pendidikan dan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh secara daring (dalam jaringan). Hal itu menimbulkan berbagai persoalan. Pertama, pemenuhan keperluan pembelajaran, seperti android dan laptop bagi siswa. Kedua, intensitas komunikasi yang terbatas mengakibatkan anak mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran. Ketiga, peran orang tua dituntut lebih besar dalam mendampingi anak, terutama anak-anak kelas rendah sekolah dasar.

Persoalan muncul manakala waktu mendampingi anak berbenturan  dengan aktivitas ekonomi orang tua, misalnya bekerja di kantor, di pasar, di sawah, dan sebagainya. Orang tua yang aktif dalam kegiatan ekonomi, terutama ibu-ibu harus pandai membagi waktu untuk membimbing anaknya. Selain itu, tidak semua orang tua mampu mendampingi dan membimbing anaknya dalam belajar karena keterbatasan kompetensi pengetahuan.

Dalam suasana yang demikian, bermunculanlah protes dan keluhan dari orang tua agar pembelajaran di sekolah dibuka lagi. Akan tetapi, situasi belum memungkinkan untuk menjawab keluhan tersebut. Mereka mengeluh karena mengalami kesultan dalam membimbing anak dalam belajar. Hal itu mengindikasikan bahwa peran guru tidak tergantikan.

Meskipun perangkat teknologi informasi dan komunikasi canggih sudah digunakan, peran guru tidak bisa dipinggirkan. Prey Katz dalam http://duniakampus7.blogspot.com/2020/03/pengertian-peran-guru-menurut-ahli. html menggambarkan peran guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasehat- nasehat, motivator, sebgai pemberi inspirasi  dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai- nilai, orang yang menguasai bahan yang diajarkan.

BACA JUGA  Kunjungi Garabak Data, Wagub Sumbar Nasrul Abit Serap Aspirasi Masyarakat Tigo Lurah

Secanggih apapun teknologi tidak dapat menggantikan peran guru. Google misalnya, hanya dapat memberikan konten pengetahuan. Dengan mengklik, anak bisa mendapatkan berbagai informasi dan sejumlah pengetahuan. Sekali klik, anak bisa mendapatkan gambar, video dan sebagainya. Dengan mudah anak bisa berkeliling dunia dan menjangkau wilayah yang jauh. Akan tetapi, hal itu belumlah cukup kualitas dan intensitasnya bagi pembelajaran anak. Ada sisi kurang, ada nuasa lain yang tidak dirasakan anak dalam pembelajaran.

Peran penting apakah yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi, tetapi dilakukan guru? Guru memberikan peran besar dalam memberikan motivasi kepada anak. Motivasi sangat penting dalam pembelajaran. Motivasi merupakan angin penyejuk untuk membangkitkan gairah anak untuk belajar. Motivasi mampu membuka sumbatan-sumbatan dan ganjalan dalam pikiran anak. Kalau pikiran anak tidak terbuka, mana mungkin pembelajaran akan bisa diterima anak. Dengan membuka hati dan pikirannya, anak akan betah dan bersemangat untuk belajar.

Sebagai insan yang sedang berkembang, anak memerlukan bimbingan dalam belajar. Pembimbingan tersebut berkaitan dengan proses memahami suatu materi pembelajaran. Selain itu, anak juga perlu dibimbing dalam menyelesaikan kesulitannya dalam belajar. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana anak agar berkonsentrasi dalam belajar. Di sinilah sangat diharapkan peran guru sebagai pembimbing. Dengan demikian, anak mampu mengikuti kegiatan dengan baik sehingga mampu menguasai materi pembelajaran.

Anak memerlukan kasih sayang. Karena itu, guru  memberikan perhatian yang besar terhadap anak. Apalagi anak memiliki keunikan dan perbedaan. Perbedaan anak  terlihat pada modalitas belajarnya, minat, perhatiannya, konsentrasi, bagaimana dia merespon sesuatu, dan sebagainya. Semua itu,  menjadi perhatian bagi guru sehingga anak dapat  tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam mengikuti pembelajaran, anak-anak sangat membutuhkan model. Anak membutuhkan acuan dan contoh dalam kegiatan belajarnya. Karena itu, guru berperan model sebagai sebagai bagi anak. Selain itu, guru juga menjadi model dalam bersikap dan bertingkah laku. Guru selalu berusaha memberikan contoh dan teladan yang baik. Karena itu, guru selalu berhati-hati bersikap dan bertingkah di depan anak-anak. Guru berusaha agar tidak melakukan malpraktik, baik berkaitan dengan transfer  pengetahuan maupun berkaitan dengan penyemaian karakter.

BACA JUGA  Anggaran 2021 Defisit, Pemko Payakumbuh Tetap Anggarkan Insentif Guru Mengaji

Begitu pentingnya peran guru, maka sudah seharusnya orang tua  mengapresiasi peran guru. Jangan sekali-kali melecehkan guru karena akan berpengaruh terhadap keberkahan ilmu dan keberhasilan anaknya. Selain itu, orang tua hendaknya   menjalin kolaborasi dengan guru dalam rangka menyukseskan pendidikan anak-anaknya. Tidak kalah pentingnya adalah orang tua berusaha menciptakan jembatan hati dengan guru sehingga komunikasi tetap berjalan dengan baik. ***

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...