Kolom Penyuluh, Zakat Memupuk Kesehatan Mental

Kolom Penyuluh, Zakat Memupuk Kesehatan Mental

Kolom Penyuluh, Zakat Memupuk Kesehatan Mental

Oleh : Syafni Yuanizar, Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Kubung

Di dalam Alqur’an banyak terdapat ayat yang secara tegas memerintahkan pelaksanaan zakat dan perintah Allah SWT tentang zakat tersebut seringkali beriringan dengan perintah shalat, misalnya Firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 110 :

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Dalam ayat diatas, perintah mendirikan shalat dan menunaikan zakat diiringi dengan janji bahwa semua ibadah dan segala amal perbuatan yang baik, akan dibalas Allah SWT. Tidak ada satupun amal ibadah yang hilang atau terabaikan, sebab Allah Maha Melihat apa saja yang dilakukan manusia. Janji Allah SWT dalam ayat ini akan memberikan kepuasan kepada manusia yang sering mengharap balas atas setiap jasa/amal  yang dilakukannya.

Allah SWT memang Maha Tahu bagaimana jiwa manusia yang condong mencari kesenangan dan kebanggaan kepada harta, sedemikian senangnya manusia berusaha mencari rezki sebanyak-banyaknya. Setelah diperoleh ada yang merasa enggan atau sayang untuk memberikan sebahagian kecil dari hartanya itu kepada orang yang berhak dan patut menerimanya.

Allah SWT menjanjikan beberapa manfaat yang akan dinikmati oleh orang yang menunaikan zakat, diantaranya memperoleh pahala yang berlipat ganda,          diampuni dosanya, dibersihkan dari berbagai cela, dijauhkan dari rasa takut/sedih, diberi-Nya kehidupan yang baik dan tenteram serta masuk ke dalam sorga  Allah SWT.

Boleh jadi manusia tidak menyangka bahwa zakat mempunyai pengaruh terhadap kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Sesungguhnya dalam kenyataannya, ada hubungan antara zakat dan kesehatan, terutama kesehatan mental. Apabila seseorang terserang penyakit yang sulit disembuhkan, ia akan berusaha keras mencari jalan agar penyakitnya bisa disembuhkan, boleh jadi ia terpaksa mengeluarkan uang ratusan ribu, bahkan puluhan juta demi memulihkan kesehatannya.

BACA JUGA  MTSN 2 Agam Gelar Wisuda Tahfiz Ke-2

Maka harta yang banyak tidak terasa berguna dan tidak mempunyai nilai lagi bagi si sakit. Dalam masa kemajuan teknologi dewasa ini, terdapat penyakit yang disebabkan oleh keadaan kejiwaan yang tidak mendukung berfungsinya obat paten tersebut. Pada awal abad ke 20 ini, pakar kejiwaan dan pakar kesehatan menemukan penyakit kejiwaan yang dapat mempengaruhi kesehatan badan yang disebut dengan kesehatan mental atau kesehatan jiwa.

Dari beberapa batasan tentang kesehatan mental yang dirumuskan pakar kejiwaan, maka dapat diambil beberapa hal penting yang menjadi ukuran kesehatan mental, dan akan dicoba menguji hubungannya dengan penunaian zakat, yaitu :

  1. Pengembangan dan pemanfaatan potensi yang ada secara maksimal sehingga membawa kepada kebahagiaan diri orang lain, dalam hal ini harta dan pendapatan yang seharusnya dapat dikembangkan dan dimanfaatnya sebaik-baiknya, tidak hanya untuk diri sendiri, akan tetapi juga untuk orang lain. Firman Allah SWT dalam QS Adz-Zariyat :19

”Dan pada harta mereka ada hak untuk orang msikin dan orang yang hidup dalam kekurangan”

Pada umunya manusia condong kepada harta sehingga kurang memperhatikan nasib orang miskin. Hatinya tidak tersentuh melihat penderitaan orang yang

berkekurangan dan hanya mementingkan diri sendiri dan keluarga, serta enggan menunaikan zakat dan mengikuti godaan iblis.

Dalam prilaku demikian, manusia tidak dapat mengembangkan hartanya untuk memperoleh kebahagiaan diri dan orang lain bersamanya. Bahkan mungkin dirinya sendiri tidak menjadi bahagia, hatinya kesat, tidak santun, menjadi angkuh, memandang orang miskin sebagai manusia yang hina, kurang perhatian kepada kegiatan sosial kemasyarakatan dan ia terasing dari lingkungannya.

  1. Terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan.

Orang yang taat menunaikan zakat akan terhindar dari perasaan cemas dan takut. Ia tidak akan dimusuhi atau diiri hati oleh orang miskin yang hidup dalam kekurangan, bahkan ia mendapat banyak sahabat, ia tidak berburuk sangka kepada setiap orang yang datang kepadanya, walaupun orang miskin dan kekurangan itu ingin meminta atau meminjam kepadanya.

BACA JUGA  PHBI Kab. Solok Sambut 1 Muharam 1442 H di Islamic Center Koto Baru

Orang Islam yang enggan atau tidak mau menunaikan zakat, berarti memakan hak orang lain, sekaligus melanggar kewajiban agama. Hatinya tahu kewajiban tidak ditunaikan, sementara ia takut kemarahan Allah SWT.

Akan tetapi, cintanya akan hartanya menyebabkan ia bertahan tidak mau menunaikan zakat. Akibatnya ia mengalami konflik kejiwaan, bila konflik itu semakin besar maka gangguan kejiwaan mungkin saja terjadi,  yang berakibat lanjut terjadi psikosomatik, baik dalam bentuk penyakit tertentu maupun dalam bentuk keresahan dan kecemasan atau stres.

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakKunjungi Muara Tais, ‘Kampung Ini Merdeka Bila Pak Benny Bupati Pasaman”
Artikulli tjetërPemko Solok Berikan Pembekalan Ketaatan Beribadah bagi CPNS