Kontrol Emosi, Pelihara Amygdala Otak Ditengah Pandemi Covid-19

emosi

Kontrol Emosi, Pelihara Amygdala Otak Ditengah Pandemi Covid-19

Oleh : Ns. Silvia.SKep.MBiomed Dosen Universitas Fort de Kock Bukittinggi, anggota DWP Kantor Kemenag Kota Bukittinggi
Pandemi Covid – 19 ( Corovirus Desease 2019 ) sampai saat ini angka penularannya masih sangat memprihatinkan dan mendunia, sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menggunakan istilah physical distancing atau jarak fisik sebagai salah satu cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas.
Berbagai kebijakan telah dilakukan masing-masing negara termasuk di Negara kita Indonesia, dan bahkan di DKI Jakarta dan merebak ke wilayah / daerah juga melakukan pembatasan social berskala besar (PSBB),setelah physical distancing dilakukan dengan harapan mata rantai penularan segera bisa diputus.
emosi
Ns. Silvia.SKep.MBiomed Dosen Universitas Fort de Kock Bukittinggi

Sangat wajar dan manusiawi jika kondisi ini menimbulkan berbagai dampak baik dari segi ekonomi, social maupun psikologis masyarakat, namun ada dampak yang dapat kita usahakan mengatasinya dari diri kita sendiri yaitu melakukan pengontrolan emosi saat menghadapi berbagai protokol untuk memutus rantai penyebaran agar tidak menimbulkan ketidakstabilan psikologis, sebab hal ini sangat penting untuk menjadi perhatian kita, mengingat ketidakstabilan psikis akan dapat menyebabkan gangguan pada fisik kita.

Emosi muncul disebabkan adanya interaksi dengan lingkungan, yang kesehariannya kita selalu merasakannya baik emosi positif seperti rasa senang, suka dan gembira maupun emosi negatif seperti sedih, kecewa,benci dan takut.

Begitu juga saat menjalani masa pandemi ini, emosi perlu kita control, sebagai landasan bagi kita agar dapat mengontrol emosi adalah seperti firman Allah swt dalam Surat Surat Al Hadid Ayat 22-23. (22) Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauhul Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(23) (Kami jelaskan yang demikian itu ) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Sungguh Allah maha penyayang kepada kita, sampai dalam hal mengatur emosi juga Allah tuntun kita agar kita selalu berada pada posisi stabil, kestabilan emosi dapat kita raih saat kita menerima kondisi yang ada didepan mata kita dengan penuh keikhlasan, karena individu yang ikhlas akan mampu tidak terlalu berduka cita dan tidak terlalu gembira serta tidak sombong lagi membanggakan diri.

Hal ini dapat kita aplikasikan saat kita diminta dirumah saja, maka kita terima dengan perasaan ikhlas, tidak berduka cita berlebihan yang disebabkan tidak bisanya kita melakukan kegiatan yang biasa dilakukan, namun menggantinya dengan kegiatan produktif lain yang bisa dilakukan dirumah, tanpa mengeluarkan kata-kata yang menunjukan keputusasan, makian, celaan serta kesombongan dan membanggakan diri seperti tidak mengindahkan himbauan pencegahan penyebaran virus korona, bahkan kita iringi dengan rasa syukur karena bisa berkumpul dengan anggota keluarga yang selama ini mungkin kita kurang memiliki waktu yang sangat berkualitas bersama mereka.

Sikap individu yang menerima seperti ini juga berdampak positif terhadap tata kelola perasaan bahwa tidak kita saja yang mengalami hal seperti ini tetapi bahkan seluruh manusia di dunia ini mengalami hal yang sama dengan yang kita rasakan, akhirnya muncul sikap kebersamaan, solidaritas dan kepedulian.

Begitu juga sebaliknya, Jika kita tidak mengelola emosi dengan baik, dikhawatirkan akan jatuh pada keadaan ekstrim, seperti kalau terlalu berduka cita, maka akan jatuh nanti pada kondisi depresi, dimana diri merasa tidak berguna lagi dan sedih berkepanjangan, atau sebaliknya bergembira berlebihan karena menganggap diri tidak akan tertular virus kemudian melakukan pelanggaran – pelanggaran dari protocol dan himbauan, maka akhirnya juga jatuh pada kondisi yang tidak baik, seperti munculnya prilaku maniak / berprilaku yang sudah tidak sebanding dengan kenyataan.

Keseimbangan dalam mengontrol emosi juga berdampak baik kepada amygdala kita, karena jika emosi negatif yang berlebihan muncul, mengakibatkan amygdala tidak mampu mengerjakan funginya. Amigdala merupakan bagian jaringan syaraf berbentuk Almond yang terletak di lobus temporal otak , yang bertanggung jawab meningkatkan kesadaran, naluri bertahan hidup dan memori pada saat individu mengalami emosi yang menganggap dirinya dalam bahaya.

Amygdala jika terlalu aktif bekerja, akhirnya dia tidak sanggup, maka akan terjadi ketidak seimbangan tubuh sehingga menimbulkan reaksi atau gangguan psikosomatik.

Amygdala yang bekerja berlebihan juga dapat mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan, akibatnya individu akan dibuat menjadi siap siaga terus menerus sehingga menimbulkan ketidakseimbangan yang berujung kepada gejala psikosomatik.
Psikosomatik merupakan gejala gangguan fisik seperti jantung berdebar, mulut kering, sesak nafas dsb, sebagai akibat terganggunya psikis. Maka Jika muncul gejala psikosomatik kita dapat kembali mengontrol emosi agar berada selalu dalam keadaan stabil, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain : mengurangi dan membatasi informasi tentang virus corona.

Dengan cara mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang disenangi seperti menyalurkan hobi memasak, mengisi waktu dengan beribadah, membaca Alquran dan berbagai kegiatan yang menyenangkan, menjaga tubuh dengan olahraga dan menerapkan gaya hidup sehat, istirahat serta selalu berkomunikasi dengan keluarga sanak saudara, teman meski saat menjalankan physical distancing dan tetap berada dirumah. Maka dengan mengontrol emosi kita telah memelihara amygdala otak sehingga terhindar dari gangguan fisik yang diakibatkan oleh ketidak stabilan emosi. Wallahu’alam.

Tulisan Silvia Lainnya :

Facebook Comments

loading...