Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa

Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa
Dua kali terbangun karena igauan anak kedua saya yang tiba – tiba suhu badannya memanas, membuat saya larut dalam renungan. Sepertinya ada beban pikiran yang tidak tersampaikan tentang tugas matematika yang belum tuntas sejak diberikan guru mengisi waktu Learning From Home nya. Saat merangkai aksara ditulisan ini pun kadang diselingi teriakan angka- angka dalam tidurnya.

Semalam, setelah Ia terbangun dalam kondisi menangis habis berteriak teriak, sambil memeluk untuk menenangkannya, saya sempat mengajak bercerita tentang pelajaran yang disukai.

Satu persatu saya sebutkan mata pelajaran yang ada di sekolah, hingga sampai pada giliran bahasa Inggris dan menggambar, dia mengangguk dengan cepat mengatakan bahwa keduanya adalah pelajaran yang paling disukai.

Barangkali inilah yang dimaksud oleh para ahli psikologi bahwa masing masing anak memiliki gaya belajar yang berbeda dan kecendrungan metode belajar berdasarkan kemampuan dan bakat yang dimiliki. Secara teori saya memahami hal demikian dari beberapa buku yang di baca. Namun kadang ketika berhadapan dengan situasi dimana suatu materi tak dipahami anak, teori-teori tersebut kembali berhamburan ke dalam lipatan lipatan buku.

Anak saya kembali tertidur setelah di janjikan akan membelikan buku dan pewarna yang banyak untuk memberikan kesempatan menuangkan kemampuan visualnya.

Saya mulai memikirkan hal ini dengan serius. Sembari mereview kebiasaan -kebiasaan ketika melakukan kegiatan di rumah membuat saya memahami bahwa gaya belajar yang dimilikinya adalah visual.

Sanggup membaca buku buku tebal dan menceritakannya kembali meskipun dengan gaya bahasa yang belepotan karena dipengaruhi oleh lidahnya yang sedikit cadel, menghabiskan buku buku tulisnya hanya untuk menggambarkan makanan dan mainan kesukaannya ( kalo di ingat, hasil gambarnya memang lebih halus dan tulisannya yang jauh lebih rapi dibanding si kakak).

BACA JUGA  Assesment Model Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah di SKB 1 Tanah Datar Dimasa Pandemi

Kadang menghabiskan waktu satu jam lebih hanya duduk di depan cermin mencoba mengucir rambutnya sendiri. Diam -diam memoleskan bedak dan lipstikku menghiasi wajahnya. Mencoba bergaya dengan jilbabku untuk menambah kreasi pakaiannya. Hmmm…dia yang menolak di belikan sepatu sporty dan memilih sepatu bertumit sedikit “high”.

Berangkat dari pengalaman di atas, saya ingin mengajak pembaca untuk memiliki kemampuan memahami gaya belajar seseorang. Apakah sebagai guru, orang tua, atau pemimpin yang memiliki kewenangan dalam membagi tugas bawahan. Hal ini saya anggap penting untuk merancang metode yang tepat di gunakan guna memgembangkan kemampuan otaknya berdasarkan pola kecerdasan yang berbeda pada setiap orang ( siswa/ anak). Kesalahan memahami gaya belajarnya akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan seseorang.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca berjudul 95 Strategi Mengajar Multiple Intelegences karya Alamsyah Said, S.Pd., M.Si. dan Andi Budimanjaya, S.Pd mengatakan bahwa otak manusia itu dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu otak Reptil, otak Mamalia dan otak Neokorteks.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa otak reptil bermula dari batang otak yang terhubung dengan tulang belakang. Masuknya energi informasi bergerak dari dasar otak reptil melalui otak mamalia ( pusat emosi) terus ke bagian atas otak neokorteks.

Pada makhluk hidup, otak reptil bertanggung jawab terhadap rasa aman. Perasaan akan aman adalah perilaku instingtif primitif dari makhluk hidup. Salah satunya perasaan aman dan nyaman yang ada dilingkungan seperti suasana kelas yang menyenangkan, kelas yang bersih dan rapi, serta perasaan bersahabat dari guru sangat mempengaruhi kondisi otak reptil anak atau siswa.

Neokorteks tak ubahnya pabrik yang mengolah dan memproses informasi menjadi pengetahuan. Namun syarat utamanya memasuki wilayah pabrik neokorteks ini adalah memenuhi persyaratan yang diinginkan batang otak (otak reptil). Salah satunya suasana yang saya sebut diatas. Jika materi dan suasana belajar menjadi beban bagi otaknya, maka dapat dipastikan bahwa informasi yang masuk ke bagian cluster otak tadi, tidak akan mampu di olah menjadi informasi yang nantinya bermakna pada pengetahuan.

BACA JUGA  Syafriadi Ajo, Jurnalis Klikpositif.com Juara 1 Lomba Feature Kota Solok 2021

Jadi, Ayah bunda mari kita belajar memahami gaya belajar anak anak kita agar proses belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Apalagi dengan sistem Learning From Home, kondisi dimana orang tua mendapatkan kesempatan menjadi double function di rumah bersama anak- anak.

Yuk jadikan rumah sebagai tempat hangat berkumpul bersama keluarga sekaligus menjadi madrasah bagi anak anaknya. Agar generasi rabbani yang kita inginkan bisa terwujud dengan baik.

Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa

Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa Learning From Home, Pengalaman Orang Tua dan Siswa

Penulis : Risfa Nelti.

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakMemahami Fatwa MUI Oleh Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag., Mubaligh dan Dosen IAIN Batusangkar
Artikulli tjetërPendaftaran Siswa Baru, MAN 1 Bukittinggi Terapkan Sistim Online