SuhaNews – Meski badan letih. namun nuansa religi dan sakralnya tanah suci tak surutkan semangat para jemaah haji Kabupaten Solok yang tergabung dalam kloter 13 PDG bersama jemaah dari Kabupaten Pasaman, Kota Sawahlunto dan kota Padang untuk melewati terwongan Mina menuju jamarat.
“Alhamdulillah, tahapan demi tahapan dalam rukun haji telah kita kerjakan, semoga Allah terus memberi kekuatan, kesehatan dan kesempatan hingga menyelesaikan dengan sempurna, melanjutkan perjalanan ke Madinah hingga kembali ke tanah air nantinya,” ujar Ny. Yesi Zulkifli, Jemaah haji Kabupaten Solok yang juga Ketua DWP Kantor Kemenag Kabupaten Solok.

Dikatakannya, sejak dari sampai di Arafah hingga hari ini banyak pengalaman spritual yang dirasakannya yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
“Kita hadir diantara jutaan jemaah dari seluruh duani tak terlepas dari kebesaranNya yang telah memberi kesempatan dan kesehatan hingga bisa menunaikan jemaah haji, melihat tempat bersejarah Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS dan keluarganya serta Nabi Muhammad SAW,” tukuk Ny, Yessi.
Bermalam di Mina, Jemaah Haji melewati terowongan bersejarah untuk sampai di Jamarat gunan melontar Jumrah.
Terowongan Mina pernah mencatatkan sejarah yang menjadi tragedi kelam bagi pelaksanaan ibadah haji pada 2 Juli 1990 silam. Ribuan jemaah mati karena kehabisan oksigen akibat berdesak-desakan di terowongan ini.
Saat musibah terowongan ini terjadi, jemaah haji asal Indonesia menjadi korban terbanyak bersama beberapa jemaah dari negara Asia lainnya seperti Malaysia. Dilansir beberapa media, jumlah beragam, namun tak selisih banyak angkanya lebih dari 600 jemaah. Hal ini terjadi karena pengaturan waktu melontar dan melewati terowongan Mina yang tidak teratur.
Selepas dari Mina, jemaah akan melontar jumrah di jamarat. Melontar ini sendiri merupakan refleksi dari perjuangan Nabi Ibrahim AS melawan setan yang terus menggodanya saat akan melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya nabi Ismail AS.

Melontar jumrah dilakukan oleh jemaah haji sebanyak tiga kali, masing-masingnya tujuh kali lemparan kerikil, yakni Jumrah Aqabah, Jumrah Wustha dan terakhir Jumrah Sugra.
Waktu untuk melempar jumrah ini selama 4 empat hari yakni 10 Zulhijah untuk jumrah Aqabah yang dimulai sejak terbitnya matahari pada 10 Zulhijah sampai jelag terbit fajar pada 11 Zulhijah.
Kemudian pada hari tasyrik 11, 12 dan 13 Zulhijah, Jemaah haji melempar ketiga jumrah dengan urutan, yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Masing-masing dilempari batu kerikil sebanyak 7 kali dengan cara melontarkannya satu per satu. Sulman|Fendi
Berita Terkait :
- Mabit di Muzdalifah, Mengenang Pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa
- Munajad Dalam Haru, Air Mata Jemaah Haji Tumpah di Arafah
- Pemerintah Saudi Izinkan Ambulans Masuk Arafah dan Mina
- Wukuf di Arafah 9 Zulhijah, Kenapa Idul Adha 10 Zulhijah
- Di Arafah, Jemaah Haji Kabupten Solok yang Terpisah dalam 2 Kloter Berbeda Bertemu
- Jemaah Haji Asal Dharmasraya Wafat di Makkah Jelang Menuju Arafah
- Jelang ke Armuzna, Jemaah Haji Sumbar Saling Bersilaturrahmi
- Jelang Berangkat ke Armuzna, Karu dan Karom Kloter 6 PDG Perkuat Barisan
- Esok Menuju Arafah, Jemaah Haji Kloter PDG 13 Persiapkan Diri
- Dua Kepala Damkar dari Sumbar Bertemu di Arab Saudi
- Fuadi dan Yenti, Anak Nagari Koto Baru yang Jadi Petugas Haji 2025
- Terpisah dari Istri di Masjidil Haram, Buya Syarifudin Dicari Rang Sumando
- Haji 2025, Sikembar dan Sibungsu yang Jadi Jemaah Haji Termuda
- Tak kenal Lelah, Dua Nakes Kloter 13 PDG Layani Jemaah Haji
- Jelang Puncak Haji, Jemaah Kabupaten Solok Jalani Skrining Kesehatan di Makkah



Facebook Comments