SuhaNews – Setelah selesai wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, jemaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakana Mabit (bermalam).
Dilansir situs Kemenag R.I, Mabit (menginap) di Muzdalifah menjadi salah satu rangkaian wajib haji. Mabit di Muzdalifah dilakukan setelah jemaah menunaikan wukuf di Arafah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya, “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam” (QS. Al-Baqarah: 198).
Yang dimaksud Masy’aril Haram adalah Muzdalifah. Secara bahasa, Muzdalifah bermakna al-Izdilaf yang artinya ijtima’, yaitu berkumpul. Jadi kata Muzdalifah itu artinya at-tajammu’ atau al-iltiqa, berkumpul atau bertemu.
Sementara apabila dilihat dari aspek sejarah, Muzdalifah adalah tempat berkumpulnya Siti Hawa dan Nabi Adam setelah sekian ratus tahun terpisah. “Karena Nabi Adam yang Siti Hawa berkumpul di sini, maka tempatnya disebut sebagai Muzdalifah,” jelasnya.
Dalam perkembangannya, peristiwa itu kemudian menjadi salah rangkaian Ibadah Haji. “ini berdasarkan Firman Allah SWT dan apa yang ditunaikan oleh Rasulullah saw ketika menunaikan haji wada’,” katanya.
Ketika Nabi Muhammad Saw sampai di Muzdalifah, maka beliau meminta Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan, lalu beliau melakukan salat jama, magrib dan isya.
Sejak saat itu, maka menurut pandangan mayoritas ulama, mabit di Muzdalifah menjaga wajib. Dan barangsiapa yang meninggalkan Mabit Muzdalifah, maka ia dikenakan membayar dam.
Selama di Muzdalifah, jemaah diimbau untuk banyak berzikir dan menyiapkan kerikil untuk lontar jumrah. “Walaupun secara teknik, kerikil ini sudah disediakan oleh syarikah, namun tidak ada salahnya apabila jemaah mengambil kerikil di Muzdalifah untuk mengikuti sunah rasul,” jelasnya.
Adapun jumlah kerikil yang diambil yaitu sebanyak 49 untuk nafar awal, dan 70 kerikil untuk Nafar tsani. Kalau jemaah khawatir jumlahnya kurang karena lupa jumlah lemparan, maka disarankan untuk mengambil kerikil dalam jumlah lebih.
Waktu mabit Muzdalifah ini adalah malam 10 Zulhijjah sampai tengah malam menjelang subuh. Namun secara teknik pergerakan, nanti akan diatur oleh pemerintah sesuai dengan jadwal dari syarikah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pergerakan jemaah.

Untuk jemaah haji yang tergabung dalam kloter 13 PDG yang berasal dari Kabupaten Solok, Kabupaten Pasaman, Kota Sawahlunto dan Kota Padang, berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah dengan menggunakan bus pada Kamis malam pukul 19.00 Waktu Arab Saudi setelah sebelumnya menjamak solat Magrib dan Isya di tenda.
75 diantara jemaah kloter 15 PDG ini mengikuti murur yang jadi program Kementerian Agama bagi jemaah lansia dan jemaah dengan kondisi khusus. Sulman | Fendi
Berita Terkait :
- Munajad Dalam Haru, Air Mata Jemaah Haji Tumpah di Arafah
- Pemerintah Saudi Izinkan Ambulans Masuk Arafah dan Mina
- Wukuf di Arafah 9 Zulhijah, Kenapa Idul Adha 10 Zulhijah
- Di Arafah, Jemaah Haji Kabupten Solok yang Terpisah dalam 2 Kloter Berbeda Bertemu
- Jemaah Haji Asal Dharmasraya Wafat di Makkah Jelang Menuju Arafah
- Jelang ke Armuzna, Jemaah Haji Sumbar Saling Bersilaturrahmi
- Jelang Berangkat ke Armuzna, Karu dan Karom Kloter 6 PDG Perkuat Barisan
- Esok Menuju Arafah, Jemaah Haji Kloter PDG 13 Persiapkan Diri
- Dua Kepala Damkar dari Sumbar Bertemu di Arab Saudi
- Fuadi dan Yenti, Anak Nagari Koto Baru yang Jadi Petugas Haji 2025
- Terpisah dari Istri di Masjidil Haram, Buya Syarifudin Dicari Rang Sumando
- Haji 2025, Sikembar dan Sibungsu yang Jadi Jemaah Haji Termuda
- Tak kenal Lelah, Dua Nakes Kloter 13 PDG Layani Jemaah Haji
- Jelang Puncak Haji, Jemaah Kabupaten Solok Jalani Skrining Kesehatan di Makkah



Facebook Comments