SuhaNews – Sunyi ditengah lautan manusia, itu yang dirasakan oleh jemaah haji. Bermunajad dalam haru, melafazkan doa, mengenang diri dan kesalahan yang pernah diperbuat hingga air mata titik di Arafah, tanah sakral umat Islam.
Perasaan yang akan jadi kenangan seumur hidup, menggugah setiap pribadi yang hari ini menjejakan kaki di hamparan padang pasir seluas sekitar 5,5×3,5 kilometer tersebut juga sangat gersang, sekalipun beberapa lokasi ditumbuhi pepohonan dan ilalang yang tak terurus.

Arafah yang menjadi sepenting-pentingnya syiar haji diambil dari kata “ta`aruf” yang artinya saling mengenal dan saling mengenal itu adalah menuju saling menolong. Wukuf di padang Arafah bagi jama’ah calon haji hanya diberi kesempatan waktu sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzulhijjah memiliki arti sangat penting bagi jamaah.
Pada hari Arafah jamaah berbagai belahan dunia berkumpul di satu tempat itu untuk melaksanakan rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji. Saat berada di Arafah jamaah berpakaian ihram (putih tanpa jahitan) dengan melepaskan kebahagiaan dan kebanggaan keduniaan, menunjukkan sikap rendah diri kepada Tuhannya. Juga pengakuan dosanya dinyatakan kepada Tuhan, permohonan ampun dan segala dosa dipanjatkan kepada Tuhan.
Rabu (5/6) bertepatan dengan 9 Zulhijah, jutaan jemaah memulai puncak rangkaian ibadah haji. Untuk kloter 13 Embarkasi Padang, yang menempati dua tenda di Maktab 41, khutbah disampai oleh Ketua kloter Muhsinin yang mengusung tema “wukuf puncak kesadaran diri”.
Dalam khutbahnya, Muhsinin mengajak jemaah untuk menyadari kealfaan diri dan menyadari kelemahan diri sebagai insan ciptaan Allah SWT. haru haru haru haru haru haru haru
“Sebagai umatNya, hendaklah kita menyadari kesetaraan manusia, tidak ada pembeda dimata Allah SWT kecuali ketaqwaan,” sampai khatib Muhsinin.
Khatib juga mengingatkan akan arti pakaian putih yang dikenakan jemaah saat di Arafah, yakni pakaian putih yang membalut tubuh akan menjadi pakain terakhir saat menghadap Allah SWT nantinya.
“maka jadikanlah ini sebagai pengingat diri menghadapi kematian, hadir di tanah suci atas seruan Allah, semoga menjadi ibadah yang menjadi bagian dari bekal menghadap Allah lewat kematian yang pasti akan dilalui setiap manusia,” ajak Khatib Muhsinin.
Diakhir khutbahnya, khatib Muhsinin mengajak jemaah untuk menyadari bahwa Allah sangat sayang pada manusia dan ingat diri seberapa banyak ibadah / pengabdian yang telah dilakukan sebagai bentuk kepatuhan pada Sang Pencipta yang telah menjanjikan sorga untuk kebaikan dan neraka untuk keburukan.
Usai khutbah dilanjutkan dengan solat Zuhur yang dijamak Qashar dengan solat Ashar, dengan imam H. Syafrijon Azwar yang dilanjutkan dengan doa.

Setelah solat jemaah juga mengikuti Zikir dan muhasabah yang dipimpin oleh Dr. Rahmat Hidayat, MA, jemaah dari Kabupaten Solok yang juga Dosen Pasca Sarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Sulman | Fendi
Berita terkait :
- Pemerintah Saudi Izinkan Ambulans Masuk Arafah dan Mina
- Wukuf di Arafah 9 Zulhijah, Kenapa Idul Adha 10 Zulhijah
- Di Arafah, Jemaah Haji Kabupten Solok yang Terpisah dalam 2 Kloter Berbeda Bertemu
- Jemaah Haji Asal Dharmasraya Wafat di Makkah Jelang Menuju Arafah
- Jelang ke Armuzna, Jemaah Haji Sumbar Saling Bersilaturrahmi
- Jelang Berangkat ke Armuzna, Karu dan Karom Kloter 6 PDG Perkuat Barisan
- Esok Menuju Arafah, Jemaah Haji Kloter PDG 13 Persiapkan Diri
- Dua Kepala Damkar dari Sumbar Bertemu di Arab Saudi
- Fuadi dan Yenti, Anak Nagari Koto Baru yang Jadi Petugas Haji 2025
- Terpisah dari Istri di Masjidil Haram, Buya Syarifudin Dicari Rang Sumando
- Haji 2025, Sikembar dan Sibungsu yang Jadi Jemaah Haji Termuda
- Tak kenal Lelah, Dua Nakes Kloter 13 PDG Layani Jemaah Haji
- Jelang Puncak Haji, Jemaah Kabupaten Solok Jalani Skrining Kesehatan di Makkah



Facebook Comments