Luar Biasa, Natuna, Satu-satunya Wilayah di Indonesia Tanpa Kasus Konfirmasi Covid-19

natuna
SuhaNews – Bupati Kabupaten Natuna, Ramly Abdul Hamid Rizal mengatakan bahwa hingga sekarang, tak satupun warga Natuna terkena virus Corona atau Covid-19. Sementara hampir seluruh wilayah di Indonesia terkena corona sejak kemunculannya pada Maret 2020.

“Alhamdulillah, hingga kini Kabupaten Natuna zero COVID-19. Warga Natuna kompak menjaga sesama, agar terhindar dari virus corona,” ujar Ramly sebagaimana dilansir dari indeknews.com.

Diungkapkan oleh Ramly, salah satu kunci utama kenapa Natuna mampu bertahan zero COVID-19. Wujud ketegasan itu adalah dengan membentuk Satgas COVID-19 hingga ke tingkat desa.

“Kita tahu, Kabupaten Natuna memiliki 16 Kecamatan, dengan 75 desa atau kelurahan. Kami tegas dan warga Kabupaten Natuna kompak,” kata Ramly.

Kabupaten Natuna di Kepulauan Riau mempunyai jejak penting bagi percepatan penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia.

Pada awal 2020, Natuna menjadi tempat transit bagi 243 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dipulangkan dari Wuhan, Tiongkok. Mereka dikarantina di area Lapangan Udara (Lanud) Raden Sadjad, Ranai, Kabupaten Natuna.

Bupati Kabupaten Natuna, Ramly Abdul Hamid Rizal, mengatakan pihaknya bersama Polres, Dandim, Dinas Kesehatan, serta seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Natuna, selalu siaga mulai dari pagi, siang hingga malam secara bergantian  menjaga warga Natuna, agar mentaati protokol kesehatan.

Dia menjelaskan, pihaknya menginstruksikan seluruh perangkat desa ia minta untuk menjaga desa masing-masing, dengan aturan yang ketat.

Setiap pendatang, yang berasal dari luar Kabupaten Natuna, tanpa kecuali, harus menjalani rapid test. Jika hasilnya reaktif, maka pendatang tersebut harus menjalani swab test, kemudian wajib isolasi, sampai hasil swab test keluar.

“Untuk swab test, kami mengirim sampel ke laboratorium di Batam. Hasilnya baru kami terima 3-4 hari kemudian,” ujarnya.

Sebagai wilayah kepulauan di Provinsi Kepulauan Riau, Ramly Abdul Hamid Rizal mengakui, memang tidak mudah mengawasi lalu-lintas warga. Maklum, ada 154 pulau besar dan kecil di Kabupaten Natuna.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyebut, jumlah penduduk Kabupaten Natuna sekitar 81.000 jiwa. Itu diungkapkan Presiden ketika mengunjungi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Selat Lampa, Kabupaten Natuna.

Di Selat Lampa, ada Pelabuhan Pelni, tempat bersandarnya kapal penumpang dari Tanjung Priok, Jakarta Utara. Selat Lampa tersebut, sekitar 70 kilometer di sebelah selatan Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna.

Sejak pandemi Covid-19, kapal penumpang dilarang memasuki pelabuhan tersebut.

“Ini kami lakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Kami tidak memiliki cukup petugas kesehatan untuk memeriksa banyaknya penumpang yang turun dari kapal Pelni,” ujar Ramly.

Di satu sisi, kebijakan tersebut pastilah merugikan, karena aktivitas warga menjadi terhambat. Di sisi lain, penutupan pelabuhan dari kapal penumpang, harus dilakukan demi mencegah penularan Covid-19.

Warga serta para pemangku kepentingan di Kabupaten Natuna, kompak menerima keputusan penutupan pelabuhan tersebut. Sebaliknya, kapal barang yang membawa kebutuhan pokok, tetap diperkenankan memasuki pelabuhan di Kabupaten Natuna.

“Aturannya, juga ketat. Anak Buah Kapal (ABK) kapal barang tersebut, harus menjalani swab test dan baru diperbolehkan turun ke dermaga pelabuhan, jika hasil swab test mereka negatif. Seluruh barang di atas kapal, disemprot dengan disinfektan, sebelum diturunkan ke pelabuhan,” ujarnya.

Proses pengambilan sampel ABK untuk swab test dan penyemprotan muatan kapal barang tersebut, dilakukan di perairan luar area pelabuhan.

Setelah hasil swab test ABK keluar, sekitar 3-4 hari kemudian, dan hasilnya negatif, baru kemudian kapal barang itu dibolehkan bersandar di pelabuhan serta menurunkan muatan mereka.

Dari pelabuhan di Kabupaten Natuna, kapal barang membawa berbagai komoditi. Antara lain, komoditi pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan. Dengan demikian, aktivitas ekonomi warga, relatif masih terjaga di masa pandemi Covid-19 ini.

Dibandingkan dengan masa sebelum pandemi, proses arus bongkar-muat agak melambat, karena konsekuensi dari penerapan protokol kesehatan.

Sementara itu, Mayor Jenderal TNI Tugas Ratmono, Kepala Pusat Kesehatan TNI sekaligus Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, menuturkan, ia mengirimkan sejumlah tenaga kesehatan untuk mendukung proses karantina di Lanud Raden Sadjad tersebut.

“Atas perintah Kepala Staf TNI Angkatan Darat waktu itu, sejumlah dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta Pusat, kami kirim ke Natuna. Ini wujud dukungan TNI memerangi virus corona tersebut,” ungkap Mayjen TNI Tugas Ratmono.

Sumber: indeksnews.com

Baca juga:

Baca juga:

Facebook Comments

loading...