MUI Sumbar Kaji Lebih Dalam Fatwa MUI Vaksin Sinovac Halal dan Suci,

Fatwa MUI Vaksin Sinovac Halal dan Suci, MUI Sumbar Kaji Lebih Dalam
SuhaNews. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah mengeluarkan fatwa Nomor : 02 tahun 2021tentang produk vaksin covid-19 dari sinovac life Sciences CO.ltd.China dan PT.Bio Farma(Persero) adalah halal dan suci. Bahkan, BPOM pun telah memberikan keterangan tentang keamanan vaksin covid-19 itu.

Meski begitu, Pengurus MUI Sumatra Barat (Sumbar) belum buru-buru ikut pendapat tersebut. MUI Sumbar mengaku akan melakukan peninjauan terlebih dahulu soal kehalalan vaksin tersebut. Pasalnya, kata suci untuk sebuah vaksin dinilai sebuah bahasa yang berlebihan.

Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar bersama dewan pimpinan MUI Sumatera Barat, Komisi fatwa, LPPOM, MUI Sumbar, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Sumbar, Kepala BPOM Sumatera Barat, dan Dr. dr.Andani Eka Putra,MSC dari fakultas kedokteran Universitas Andalas melakukan Rapat bersama pada (13 /01/21) diruang rapat MUI Sumbar.

Dalam rapat itu Buya Gusrizal Gazahar akan meninjau persoalan ini bersama pakar dan pihak terkait. Banyak hal yang dipertanyakan soal pernyataan MUI Pusat, terutama kata suci”, imbuhnya

“Kata suci menurut sebagian orang agak berlebihan bahasanya, karena suci memiliki 2 makna, yaitu bersih secara zahir dan bersih secara iman,” katanya di Padang, Rabu (13/1/2021).

Buya pun mengutip dalam sebuah hadits bahwa “sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (Samar-samar). Tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat tersebut maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Siapa terjatuh dalam perkara syubhat maka dia telah terjatuh kepada perkara haram. Seperti seorang penggembala yang mengembalakan ternaknya disekitar daerah larangan, dikhawatrikan dia akan masuk kedalamnya, ketahuilah bahwa setiap raja itu mempunyai hima,ketahuilah bahwa hima Allah swt adalah segala yang ia haramkan. ketahuilah bahwa didalam tubuh manusia terdapat sepotong daging.apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya,dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya,ketahuilah segumpal daging tersebut adalah qalbu (Hati) (HR.Albukhari dan Muslim)”,Sebutnya.

Terkait halalnya vaksin, menurutnya sudah dijelaskan oleh MUI Pusat. Sementara MUI Sumbar juga bagian dari itu. Namun, MUI daerah-daerah tidak ikut di Komisi Fatwa MUI Pusat tersebut.

“Kita dari MUI daerah mencoba memahami apa latar belakang fatwa ini dikeluarkan. Apalagi dinyatakan suci dan halal, boleh dilakukan kalau dinyatakan aman, itu analis hukum fikihnya akan panjang nanti dalam perdebatan ulama,” katanya.

Dengan demikian MUI Sumatera Barat bersepakat untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap vaksin Sinovac dari fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2021 sebelum vaksin itu di suntikkan kepada masyarakat”,jelasnya

Mui Sumatera Barat Berharap pihak-pihak terkait untuk membantu penelitian dan pengkajian tersebut baik berhubungan dengan sampel vaksin, laboratorium, tenaga ahli dan berbagai informasi yang diperlukan

Dan MUI sumatera barat tidak merekomendasikan para ulama dan para Da’I dijadikan sebagai model / percontohan dalam vaksinasi covid-19 kecuali atas kesediaan pribadi yang bersangkutan”,tegasnya.

Intinya, dia berpesan agar tidak ada pemaksaan vaksinasi kepada masyarakat. Oca | Dedi

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...