Pengelolaan Transportasi Perkotaan

Pengelolaan Transportasi Perkotaan

Pengelolaan Transportasi Perkotaan

Oleh: Syaiful Anwar, S.E., M.Si. (Ketua Pusat Studi Ekonomi, Bisnis dan Inovasi dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang Kampus II Payakumbuh)

Setiap kota mesti memiliki berbagai macam permasalahan yang mesti dipecahkan, salah satunya bidang transportasi. Pengelolaan transportasi kota tentu saja berbeda satu dan lainnya, mengikuti karakteristiknya masing-masing. Berdasarkan tingkat kepadatannya, kota dapat dibagi menjadi dua yakni primate city (kota utama) dan secondary city (kota menengah).

Jakarta misalnya, merupakan kota yang tergolong primate city yang harus menyelesaikan tata kota serta pengelolaan sistem transportasi dengan baik, sebab transportasi merupakan faktor penunjang segala aktivitas masyarakat perkotaan di Jakarta.

Kota lain yang tergolong secondary city atau kota kelas menengah akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Bahkan kedepan dapat diprediksi menjadi kota metropolitan. Dengan demikian, persoalan transportasi seperti macet dan mencemari lingkungan menjadi hal yang harus diselesaikan.

Oleh karena itu, secondary city harus  mulai menggagas program “green transportasi”. Program ini diharapkan mampu menata sistem transportasi lebih baik, aman, nyaman dan ramah lingkungan.

Pengolaan Transportasi di Kota Besar

Baik kota kecil maupun kota besar hendaknya mulai beralih menerapkan green transportasi dengan mengedepankan kenyamanan transportasi umum. Integrasi antar jenis kendaraan transportasi juga menjadi penting disini, sehingga penumpang dapat mencapai daerah lokasi tujuannya dengan mudah. Beberapa kota yang sudah mulai bagus dalam menerapkan sistem green transportasi ialah Jakarta dan Surakarta. Menurut TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan Jakarta pada 2021 berada pada peringkat ke-31 dunia dari 416 kota lainnya. Padahal sebelumnya Jakarta pernah menempati urutan kota ke-4 termacet dunia pada lima tahun sebelumnya.

Salah satu keberhasilan Jakarta dalam mengurai kemacetan terletak pada beroperasinya banyak moda transportasi umum seperti Bus Trans Jakarta, Commuterline Jabodetabek, Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Raya Terpadu (LRT), dan transportasi umum lainnya seperti jaringan angkutan kota yang terintegrasi pada angkutan umum milik penerintah. Selain itu penerapan transportasi terintegrasi melalui terobosan kartu JakLingko, juga merupakan kemajuan positif karena pelanggan transportasi umum dapat terhubung dari satu kendaraan transportasi ke kendaraan lainnya dengan satu sistem pembayaran. Sehingga dapat menghemat waktu dan pengeluaran dari pelanggan transportasi.

BACA JUGA  Pjs Bupati Solsel Tegas, Satu ASN Ikut Politik Praktis Terancam Dicopot dari Jabatan

Pengelolaan Transportasi di Kota Menengah

Selain itu, untuk kategori secondary city (kota menengah), Surakarta dinilai sudah sangat bagus dan dianggap dapat menghadirkan sistem aktivitas, sistem pergerakan dan sistem jaringan yang mampu mewadahi semua aktivitas pergerakan secara merata. Fasilitas seperti Bus Trans Solo serta adanya kereta lokal di wilayah Surakarta turut membantu menciptakan adanya transportasi yang nyaman bagi masyarakat.

Jika dilihat dari variabel transportasi berkelanjutan, maka Kota Surakarta juga sudah dapat dikatakan cukup berhasil, ini terlihat dari indikator ekonomi transportasi (waktu tempuh,  aksesibilitas, dan efisiensi), indikator sosial transportasi (keamanan, kemudahan untuk orang cacat dan pemeliharaan budaya setempat), dan indikator lingkungan (polusi udara) yang memiliki skor penilaian sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hanya beberapa parameter yang saat ini belum mendapatkan penilaian yang baik yaitu aspek sosial berupa kesehatan dan aspek lingkungan berupa emisi transportasi dan polusi suara.

Sedangkan untuk variabel green transportasi hampir secara keseluruhan memiliki nilai yang sangat rendah, ini terbukti dari penggunaan bahan bakar pada moda transportasi massal masih belum termasuk ke dalam jenis bahan bakar hijau, selain itu Kota Surakarta juga belum memiliki dan menggunakan kendaraan hijau sebagai moda transportasi dalam melakukan pergerakan. Jika dilihat secara keseluruhan maka pengembangan sistem transportasi di Kota Surakarta dinilai sudah cukup berhasil walaupun pengaplikasian terhadap green transportasi masih sangat minim.

Tentunya masyarakat berharap agar layanan transportasi di Indonesia bisa semakin dibenahi serta lebih merata agar semua lapisan masyarakat dapat menikmati perjalanan dengan baik. Pada akhirnya kondisi transportasi yang baik akan meningkatkan produktivitas masyarakat, yang kemudian akan berpengaruh pada peningkatan perputaran roda ekonomi dan peningkatan penghasilan masyarakat.

BACA JUGA  Bimtek Renstra Kota Solok 2021, Zul Elfian; Perencanaan Yang Menjawab Permasalahan Publik

Baca Juga : Geliat Sektor UMKM di Masa Pademi

Facebook Comments

loading...