Geliat Sektor UMKM di Masa Pademi

Geliat Sektor UMKM di Masa Pademi

Geliat Sektor UMKM di Masa Pademi

Oleh: Syaiful Anwar, S.E., M.Si.*

Pandemi Covid 19 membawa banyak dampak dari berbagai segi kehidupan, tidak terkecuali dalam bidang ekonomi. Dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak pergerakan masyarakat yang dibatasi sehingga berdampak pada distribusi ekonomi yang melambat pula. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 mencatat pandemi ini memberi dampak pada 29,12 juta penduduk usia kerja, di mana 2,56 juta penduduk menjadi pengangguran.

Selain itu BPS pada September 2020 juga mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 10,19 persen, atau meningkat 0,97 pada periode yang sama di tahun 2019. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu cara agar jumlah pengangguran dan penduduk miskin bisa berkurang ialah dengan stimulus ekonomi dari pemerintah, salah satunya mendorong masyarakat membuka peluang usaha. Saat ini jumlah UMKM Indonesia mencapai 64 juta pelaku usaha, atau meningkat sebanyak 5 juta pelaku usaha dibanding tiga tahun sebelumnya (BPS, 2020).

Sektor UMKM memang menjadi salah satu sektor yang ikut terdampak akibat pandemi Covid 19 ini. Apalagi rata-rata UMKM tidak memiliki cadangan kas untuk bertahan. Dalam hal ini, pemerintah patut diberi apresiasi karena memberikan Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) atau BLT UMKM dengan nominal mencapai Rp 2,4 juta. Bagaimanapun ini turut membuat UMKM di Indonesia bisa bertahan, meskipun memiliki beberapa tantangan.

Sektor UMKM juga terbukti mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi covid19 ini. Salah satunya, pada Septmber 2020 terdapat sekitar 8 juta UMKM yang sudah hadir di platform digital. Sektor UMKM juga tercatat mampu berkontribusi 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Kemenkop UKM, 2020).

Selanjutnya, perlu dilakukan beberapa langkah agar pelaku usaha UMKM tetap bertahan di masa pandemi. Pertama, mendorong inovasi pada UMKM. Jika selama PSBB ini pemerintah melarang adanya kerumunan massa, maka pelaku UMKM dapat memaksimalkan penjualan di platform daring.

BACA JUGA  Lakukan Kundapil, Anggota DPR RI Darizal Basir Bantu Masjid di Pessel

Ataupun untuk usaha di bidang kuliner bisa menyediakan jasa antar ataupun memaksimalkan ojek online untuk mendongkrak penjualan. Inovasi lainnya dapat membuat produk baru, rebranding logo, ataupun promosi dengan bahasa kaum millenial dan generasi Z.

Kedua, dapat memanfaatkan transaksi elektronik dengan lebih dikenal dengan financial technology. Dengan demikian, penjual dan pembeli tidak perlu membayar langsung pada penjual, namun bisa melalui perantara dompet digital lainnya baik dari bank, maupun jasa keuangan elektronik lain yang sudah terdaftar di OJK.

Ketiga, peningkatan promosi secara digital atau digital marketing. Di tengah masa pandemi yang mengharuskan menjaga jarak, banyak pembeli yang lebih menyukai transaksi secara online. Dengan demikian promosi secara digital tentu saja perlu ditingkatkan, baik melalui website, media sosial, ataupun dengan memasang iklan pada akun besar dengan followers yang banyak.

Dengan demikian, peluang produk UMKM untuk dikenal publik akan lebih besar. Jika langkah tersebut sudah dilaksanakan, paling tidak UMKM dapat bertahan selama masa pandemi ini.

*Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang dan
Ketua Pusat Studi Ekonomi, Bisnis dan Inovasi FEUA Kampus ll Payakumbuh

Baca Juga  :

Facebook Comments

loading...