Tausiah Ramadan, Berbakti Kepada Kedua Orangtua
oleh : Hadi Sulman, S.Ag, Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Solok
Kewajiban seseorang setelah beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya adalah berbakti kepada kedua orangtuanya. Orangtua adalah yang karena mereka kita terlahir ke dunia ini. Mereka yang telah membesarkan kita, menjaga dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang, sejak dalam kandungan hingga sampai saat ini.
Firman Allah SWT dalam QS. Luqman ayat 14 yang artinya, Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertanbah-tambah dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Allah SWT menjelaskan kepada kita alasan mengapa sesorang wajib berbakti kepada orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya selaa 9 bulan dalam keadaan lemah dan bertambah lemah. Ketika tiba waktu melahirkan maka taruhannya adalah nyawa.
Setelah lahir, sang ibu merawat bayinya dengan penuh kasih sayang dan segala upaya dilakukan untuk membesarkannya. Selain kebutuhan jasmani juga membekali anaknya dengan doktrin ketuhanan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, diajarinya akhlak terpuji dan dicarinya lembaga pendidikan yang bermutu dengan harapan agar anaknya nanti menjadi orang yang beriman kepada Allah dan berbakti kepada kedua orangtuanya, berguna bagi agama dan masyarakat.
Cara berbakti kepada kedua orangtua tergambar dalam Firman Allah SWT ayat 23-24 dengan inti sarinya :
- Berusaha untuk tidak menyakitinya, bertutur kata santun dan jangan sekaki-kali mengatakan “Ah atau Uf” yang berarti ketidaksetujuan dengan kehendak orangtua. Tidak membentaknya Apalagi mereka berusia lanjut
- Mengucakan perkataan yang mulia, merendahkan diri terhadap mereka berdua
- Menyenangkan orangtua dengan mengikuti perintahnya dan menaati larangannya selama dalam kebaikan serta tetap mempergauli mereka dengan baik
Dalam berbakti kepada kedua orang tua, tentunya kita harus mengutamakan berbakti kepada ibu. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra dijelaskan bahwa orang yang berhak mendapat perlakuan yang terbaik adaah ibu. Derajat ibu 3 kali dibanding derajat ayah.
Kasih sayang ibu tiada batas dan Rasul SAW bersabda : “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Hadits ini mengandung kiasan :
- Seorang ibu berkewajiban menjadikan anaknya termasuk ahli surga dengan mendidik dan memeliharanya sesuai syari’at Islam
- Seorang anak wajib berbakti kepada ibu agar dapat masuk surga. Bagi yang durhaka tidak dapat masuk surga dan durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar
Jika orangtua kita sudah wafat, kita tetap wajib berbakti kepadanya, antara lain :
- Senantiasa melaksanakan amanat/[esan orang tua semasa hidup dengan sebaik-baiknya
- Mendo’akan ampunan dan keselamatan untuk keduanya dengan do’a : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”
- Menjaga persaudaraan dengan keluarga, kerabat dan teman dari kedua orangtua kita
- Melunasi kewajiban/tanggungan orang tua ketika masih hidup.
Mari kita bangkitkan bhakti terhadap kedua orang tua
Di saat Daku Tua
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku
Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya
Di saat daku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankan mu
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku. Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam tidur dan mimpi
Di saat daku membutuhkanmu untuk memandikanku
Janganlah menyalahkanku, ingatlah di masa kecilmu, bagaimana dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi ?
Di saat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern
Janganlah menertawaiku, renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap pertanyaan “mengapa, apa, bagaimana, kenapa, apa itu” dan lainnya yang engkau ajukan di saat itu
Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan
Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya, sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia
Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu, di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan
Artikel Terkait :
- Tausiah Ramadan, Kandungan Surat Al Fath ayat 29
- Tausiah Ramadan, Keutamaan Membaca Al Qur’an, Hukum dan Faedah Mempelajari Ilmu Tajwid
- Tausiah Ramadan, Penghapus Amal Kebaikan
- Tausiyah Ramadan, Generasi Idaman Menurut Ajaran Islam
- Tausiah Ramadan, 3 Amal Yang Paling Dicintai Allah
- Tausiah Ramadan, 3 Hal Yang Perlu Dirawat Untuk Mendapatkan Ridha Allah SWT
- 4 Upaya Meningkatkan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan



Facebook Comments