SuhaNews – Mengisi waktu selama di Madinah, Jemaah Haji Kabupaten Solok yang tergabung dalam kloter 15 Padang melakukan ziarah ke tempat bersejarah, Sabtu (6/7).
Dengan menggunakan scraft identitas jemaah Kabupaten Solok, perjalanan dimulai dengan berkumpul di loby hotel pukul 05.30 Waktu Arab Saudi atau ba’da Subuh. Perjalanan ziarah dan wisata ini akan menggunakan delapan bus dibawah komando Ketua Kloter H. Mustatir.
Sebelumnya, Ketua Kloter sudah menginformasikan bahwa perjalan ziarah dan wisata ini dilakukan tanpa menganggu jadwal Arbain di masjid Nabawi, artinya sebelum masuk waktu Zuhur jemaah sudah berada di Masjid Nabawi. Kepada jemaah juga disampaikan untuk mempersiapkan bekal selama kegiatan.
Setelah jemaah cukup dan menaiki bus, perjalanan pun dimulai pagi ini. Iring-iringan delapan bus yang membawa jemaah haji kloter 15 PDG bergerak meninggalkan kota Madinah. Tujuan pertama adalah kebun kurma Abu Faisal. Disini selain melihat puluhan pohon kurma yang tersusun rapi dan terawat juga ada toko souvenir dan kurma aneka jenis, termasuk kurma muda yang dijadikan obat.

Di kebun Kurma tak lama, karena waktu yang terbatas. Dari kebun Kurma perjalanan dilanjutkan ke Masjid Quba. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 1 Hijriyah di Quba. Ia memiliki pesona keindahan dan nilai sejarah yang penting dalam tarikh Islam sehingga menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Masjid tersebut menjadi titik awal sejarah kemasjidan dalam Islam. Ia berada di tepi Kota Madinah di kawasan perkampungan yang dinamai Quba, lebih kurang 5 Km di arah selatan Masjid Nabawi.
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketaqwaan Rasullullah Saw kepada Allah SWT.
”Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah [9]: 108).

Di kampung Quba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disambut meriah oleh penduduk Madinah dengan lantunan nasyid thala’al badru’alaina. Beliau singgah di Quba selama empat hari, dan beliau memerintahkan untuk membangun Masjid Quba bahkan ikut terlibat dalam proses pembangunannya.
Setelah berada di Madinah, Nabi Muhammad Saw selalu menyempatkan diri mendatangi Masjid Quba untuk melakukan salat dua rakaat. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar, dia berkata. “Dahulu Nabi Muhammad Saw mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki atau berkendaraan kemudian melaksanakan salat dua rakaat.”
Dari Masjid Quba, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Jabal Uhud. Salah satu tempat bersejarah dalam perkembangan Islam dimasa Rasulullah.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya” (HR. Bukhari).

Di bukit inilah Rasulullah dan pasukan muslim berperang melawan kaum Quraisy Makkah. Bukit berwarna kemerahan ini berada lebih kurang 6 km dari masjid Nabawi. Gunung dengan tinggi 1.050 meter dengan panjang 7 km dan terdiri dari batu-batuan seperti granit, marmer merah dan batu-batu mulia memiliki nilai sejarah penting, karena Nabi Musa dan Nabi Harusn pernah naik di gunung ini untuk melihat daerah yang akan menjadi tempat tingal Nabi Muhammad, Nabi akhir zaman.
Perang Uhud merupakan peristiwa penting bagi umat manusia karena orang- orang kafir Quraisy di Makkah menyerbu kota Madinah sebagai tempat berkumpulnya Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Selesainya perang Uhud menyebabkan 70 sahabat Nabi Muhammad dan 30 orang kafir Quraisy terbunuh.
Disini jemaah juga berziarah ke makam pahlwan Uhud. Di tengah-tengah lokasi Jabal Uhud terdapat dua makam pahlawan Uhud berbatu hitam yakni makam Sayyidina Hamzah dan Abdullah bin Jahsy, sementara 68 pahlawan lainnya berada dalam lokasi berpagar tembok tanpa ada tanda-tanda khusus. Nabi Harun sendiri sebagai sahabat Nabi Muhammad yang sedang sakit, kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di salah satu tebing yang dikenal dengan tebing Nabi Harun yaitu diantara tebing-tebing bagian tengah Jabal Uhud.
Dari Uhud perjalanan dilanjutkan ke Masjid Qiblatain atau yang juga dikenal dengan masjid Dua Kiblat. Masjid Qiblatain terletak di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Masjid Qiblatain mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah.
Dalam sejarahnya, Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama shalat Zhuhur masih menghadap Baitul Maqdis (Palestina), sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.
Dalam Alquran Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144).
Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan shalat Zhuhur menghadap Masjidil Haram. Yang tadinya menghadap Baitul Maqdis dengan tetap melanjutkan rakaat ke dua bersama makmum (pengikut shalat), sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.
Ibrahim Ahmad melanjutkan ceritanya, pada awalnya, kiblat shalat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS, seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Sedangkan Al Quds (yang kudus: Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada disebelah Utara. Adapun Baitullah di Mekah disebelah Selatan sehingga keduanya saling berhadapan.
Kini bangunan Masjid Qiblatain memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh Imam shalat. Setelah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.
Ruang mihrab mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang menunjukkan arah Kiblat yang benar dan kubah kedua adalah palsu dan dijadikan sebagai pengingat sejarah saja. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah. Di bawahnya terdapat replika mihrab tua yang menyerupai ruang bawah kubah batu di Yerusalem, bernuansa tradisional.
Masih banyak destinasi ziarah yang belum dikunjungi, namun terbatasnya waktu membuat jemaah harus kembali ke Masjid Nabawi untuk solat Zuhur. Lusi | Rahmat | Fendi
Berita Terkait :
- 7 Destinasi Ziarah Yang Ada di Kota Madinah
- Jaminan Produk Halal Jadi Bagian dari Inovasi Penyelenggaraan Haji 2024
- Daging Dam Jemaah Indonesia 2024 akan Dikirim ke Tanah Air
- 1 Wafat, Jemaah Haji Padang Panjang Pulang ke Tanah Air
- Jemaah Haji PLM 10, Gelombang Dua Pertama Pulang ke Tanah Air
- Berkunjung ke Raudhah, Jemaah Haji Kab. Solok Munajatkan Do’a
- Masjid Bilal, Monumen Perjuangan Sang Muadzin Masuk Islam
- 7 Destinasi Ziarah Yang Ada di Kota Madinah
- Subuh di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Kab. Solok Mulai Arbain
- Sempat Tertunda dari Jadwal, Jemaah Haji Kabupaten Solok Telah Tiba di Madinah
- Tinggalkan Makkah, Haru Warnai Keberangkatan Jemaah Haji Kab. Solok Menuju Madinah
- PPIH Fasilitasi Jemaah Sakit untuk Datang ke Masjid Nabawi
- Kloter 16 Padang Berduka, Jemaah Haji Asal Rao Pasaman Wafat di Makkah
- Kisah Ikhlas Petugas Haji Wakafkan Diri Layani Jemaah di Tanah Suci



Facebook Comments