1 Emas Kaligrafi, Disumbangkan Nofri Deswita Asal Tanah Datar

kaligrafi mtq nasional
SuhaNews. Kaligrafi, menjadi salah satu cabang penyumbang emas untuk Sumatera Barat pada MTQ Nasional ke 28 yang berakhir Jumat (20/11) malam.
Nofri Deswita, Kafilah Sumbar asal Tanah Datar yang tampil pada cabang Kaligrafi Dekorasi mencatatkan namanya sebagai salah satu yang terbaik.

 

Nofri Deswita yang akrab disapa Ides ini tampil pada cabang Kaligrafi golongan dekorasi, mencurahkan kemampuan terbaiknya untuk Sumatera Barat, hingga akhirnya torehan kuasnya membawa nama harum bagi Tanah Datar.
Sosok  Nofri Deswita sudah tidak asing lagi dalam ajang perlombaan Kaligrafi golongan dekorasi. Kesuksesannya meraih juara  terbaik 1 sebagai Khatthathah sudah diprediksi sejumlah pihak sebelumnya. Tak terkecuali pelatih sekaligus officialnya.

Nofri Deswita sudah menyukai meulis dan kaligrafi sejak masih kecil. Diawali dengan melukis, kemudian ia mulai mengenal kaligrafi saat masuk TPA

Saat TK Iqra Abadi, ia pernah menjuarai lomba dan mendapat nilai terbaik. Selepas itu, usut punya usut saat menduduki bangku sekolah dasar di  SD 06 Pandam di Sungayang, Ides begitu sapaan akrabnya, termasuk anak berprestasi.

Ia  pernah mengikuti lomba melukis tingkat kecamatan dan keluar sebagai juara I. Namun sayangnya belum beruntung mendapatkan juara di tingkat kabupaten.

Di sisi lain, menjalani hari  demi hari dalam himpitan ekonomi, memang tidak mudah bagi Ides. Namun putri buruh tani ini tak lantas menyurutkan hasratnya untuk berprestasi.  Berkat guru-guru SD yang selalu memberinya motivasi, maka kepercayaan dirinya semakin terbangun.

Pak Raymond, guru yang selalu berpesan padanya supaya ia tidak berhenti berjuang, tapi harus terus  mengembangkan bakatnya dan ikut terus perlombaan melukis.

Menuruti titah gurunya, tidak sia-sia, saat ia beranjak remaja, ia melanjutkan ke jenjang SMP, ia sering meraih juara 1, 2 dan 3. Seraya Ikut lomba dan juara melukis di berbagai ajang.

Saat SMA, selain aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti melukis, mading dan lain lain, kemampuan akademisnya patut diacungi jempol. Ia sah menjadi langganan juara kelas sejak sekolah dasar, bahkan tak tanggung tanggung, juara Umum I pun pernah disabetnya disekolah.

Saat kuliah, putri dari pasangan Hilal dan Suhelmailis ini mengambil jurusan Akuntansi Syariah S1. Ia masuk pada tahun 2011 dan berhasil diwisuda Tahun 2015 dengan mengantongi nilai IPK cum laude yakni 3.74.

“Beruntung sejak SMP sampai kuliah selalu dapat beasiswa, sehingga dapat meringankan beban orang tua yang hidupnya pas-pasan” kenangnya terbata kepada humas detik detik jelang pengumuman MTQ, Jumat (20/11).

Yang tak terlupakan baginya pada tahun 2012 ia bergabung dengan sanggar kaligrafi Batu Sangkar. Disitulah ia mulai belajar dari nol dan dilatih 3 kali dalam seminggu.

Kemudian ia memberanikan diri dan sering diikutkan lomba tingkat kabupaten, cabang dekorasi, mushaf dan naskah. Padahal belajarnya cuma dua jenis khat. Sementara sebenarnya ada 7 jenis.

“Awalnya Ides nggak mau karena nggak yakin, tapi selalu didorong dengan motivasi oleh guru, benar-benar nggak nyangka saat itu Ides bisa dapat juara 2” Ungkapnya heran.

Ia mengaku dengan penghasilan orang tua 300-500 per minggu bekerja di sawah orang tak membuatnya kecil hati. “Alhamdulillah cukup cukup saja untuk kebutuhan kami saat itu dan saya bertekad ingin merubah keadaan orangtua dengan kemampuan yang saya miliki,” ungkapnya.

Gadis beruntung ini menyebut, untuk tingkat tingkat Kabupaten/kota saja ia mengaku sudah 3 x menjuarai lomba. Saat MTQ di Pariaman, Sawah Lunto, dan Solok. Sedangkan untuk even nasionalnya baru dua kali di Medan dan Padang.

“Di kampus juga sering ada lomba. Di Banten waktu itu mendapat harapan 1, hanya waktu lomba di Palu gak dapat juara. ” Imbuhnya.

“Motivasi saya ingin membahagiakan orang tua. ingin membalas jasanya, yang susah payah memperjuangkan anaknya dengan bertani dan ingin mengubah kehidupan yang sederhana menjadi lebih baik dan sukses” harapnya.

Ia bersyukur saat dulu menang lomba ia diberi hadiah senilai 12 juta. Lalu uang itu dimanfaatkannya dengan baik.  Setengahnya buat kursus di lembaga Kaligrafi  di sukabumi. Bahkan karena kegigihannya, Ia pun nekat pergi sendiri, padahal saat itu ekonomi orangtua lagi terpuruk.

Ia merasa kecil hati awalnya karena peserta lain dibiayai oleh Pemda. Meskipun demikian, ia tetap mampu menyandang  juara 2 di Tangerang, bahkan di Bogor menyabet juara I.

Perempuan yang tamat kuliah sejak 2015  tersebut bercita cita ingin menjadi Akuntan Syariah kelak. Menurutnya Ikut MTQ niat awalnya hanyalah ibadah. Ikut MTQ baginya sebuah dedikasi, tak pernah terpikir untuk terkenal, apalagi hanya sekadar mendapat hadiah.

Ia tak surut melangkah sekalipun orang tuanya  tak pernah bisa mengantarnya kemana-mana karena harus bekerja banting tulang mencukupi kebutuhannya dia dan adiknya. Tapi baginya yang utama  adalah doa orang tuanya selalu menyertainya. “Doa mereka sudah lebih dari segalanya,” aku perempuan dua beradik ini.

Ketika ditanya tentang keinginannya kalau ditaqdirkan menjadi sang juara. Ia optimis dan spontan  menjawab ingin membahagiakan kedua orangtuanya.

“Kalau lomba MTQ Nasional XXVIII ini menang, Ides ingin bangun rumah, karena rumah adat orang tua sudah nggak layak pakai,  selain itu ingin umrah juga. ” Ucap gadis yang akrab disapa Ides ini.

Saat diwawancara menunggu pengumuman para pemenang MTQ, ia merasa tidak nyangka bisa masuk babak final.  Dengan rendah hati ia mengaku, merasa masih banyak illmu yang belum dikuasainya.

Menariknya, perempuan yang lahir pada tanggal 28 November itu hobi membaca apa saja. Ia menyayangkan  anak muda sekarang, kebanyakan main- main, membuang-buang waktu dengan hal hal yang tidak penting dan tidak kasihan pada orang tuanya.

Berbekal pengalamannya perempuan asal Tanah Datar ini juga kerap mengajar adik-adik kelasnya.  Entah itu mengajar melukis maupun kaligrafi dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah. Caranya ada yang privat dan ada juga dipanggil ke  pondok pesantren untuk persiapan lomba

“Ides pernah bekerja sebagai guru honorer. Tapi karena sibuk MTQ jadi ia memilih berhenti” jawabnya meyakinkan.

Akhirnya pada malam penutupan MTQ  20 November 2020, nama Nofri Deswita keluar sebagai juara terbaik 1 Khatthathah golongan dekorasi. Saat ingin diwawancara lanjutan, ia sedang dalam perjalanan dan  bergegas pulang menuju penginapan.

Tampak sekali ia bersyukur dan ingin memberi kejutan pada orang tuanya. Bonus 250 juta dari Gubernur pun terbayang bakal disabetnya dan sudah dipelupuk mata.

“Ucapan terimakasih kepada para semua guru Khatthathah baik yang di Sumbar maupun yang diluar Sumbar di Indonesia yang tak bisa disebutkan satu persatu, khususnya kepada guru pembimbingnya Ustadz Yul Al Fath yang telah membimbingnya dari nol hingga sekarang,” katanya mengakhiri bincang. Rel | Moentjak

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...