SuhaNews – Sampai menjelang Ashar di Kota Madinah, jemaah haji kabupaten Solok yang tergabung dalam kloter PDG 13 melaksanakan solat Magrib di Masjib Nabawi.
Menginap di Ost Almadina Hotel yang berjarak sekitar 100 meter dari Masjid Nabawi, jemaah berangkat ke masjid sejak ba’da Ashar setelah memastikan koper dan barang bawaan berada di kamar.

meski telah datang sejak awal, sebagian besar jemaah yang datang berombongan hanya mendapat tempat di pelataran Masjid Nabawi. Hal ini dikarenakan banyaknya jemaah dari berbagai negara yang juga melaksanakan Arbain sebelum kembali ke negara masing-masing. Begitu juga jemaah haji dari Indonesia yang berangkat dari berbagai kloter termasuk Padang / Sumatera Barat.
Meski solat di pelataran tak mengurangi khusuknya beribadah di Masjid kedua yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke kota Madinah.
Masjid yang sekarang dilengkapi pendingin ruangan dan berbagai fasilitas canggih lainnya ini, dalam sejarahnya dibangun oleh Rasulullah dengan tanah yang dibeli dari dua anak yatim dari Bani Najjar, yaitu Suhail dan Sahl. Keduanya berada dalam asuhan As’ad bin Zurarah, salah satu sahabat Rasulullah. Pada saat itu, tanah tersebut digunakan sebagai tempat untuk menjemur kurma.
Ketika kedua anak yatim, Suhail dan Sahl, menawarkan tanah tersebut secara cuma-cuma kepada Rasulullah sebagai bentuk penghormatan dan cinta mereka, Rasulullah menolak pemberian itu. Beliau lebih memilih untuk membelinya secara sah. Keengganan Nabi Muhammad untuk menerima tanah secara gratis menunjukkan betapa pentingnya menghargai hak orang lain, bahkan terhadap anak yatim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberikan contoh yang baik dalam hal kepemilikan dan keadilan.

Setelah proses pembelian tanah selesai, pembangunan Masjid Nabawi pun dimulai. Pembangunan ini berlangsung selama dua belas hari dan melibatkan seluruh umat muslim yang baru saja hijrah dari Makkah serta penduduk Madinah.
Dilansir situs BPKH, bangunan masjid pada awalnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bata tanah liat, dan atapnya terdiri dari pelepah kurma yang memberikan perlindungan dari panasnya terik matahari. Masjid ini tidak memiliki banyak hiasan atau ornamen, tetapi semangat keimanan dan persatuan umat Islam yang mengisi tempat ini menjadi hal yang lebih berharga dibandingkan segala kemewahan.
Selain itu, di sekitar masjid, Rasulullah juga membangun kamar-kamar untuk para istri beliau. Kamar-kamar ini terbuat dari tanah, pelepah kurma, dan batu yang disusun. Rumah-rumah tersebut sangat sederhana, melambangkan kesederhanaan kehidupan Rasulullah dan keluarganya, meskipun beliau adalah pemimpin umat Islam.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Nabawi mengalami berbagai perubahan dan perluasan, tetapi semangat yang dibangun sejak awal tetap hidup hingga saat ini. Tempat yang sederhana ini menjadi jantung kehidupan masyarakat Muslim di Madinah, tempat di mana ajaran Islam berkembang pesat. Sulman | Fendi
Berita Terkait :
- Bersiap Pulang ke Solok, Jemaah Haji Selesaikan Tawaf Wa’da
- Jelang Pulang ke Solok, Air Mata Tumpah di Depan Ka’bah saat Tawaf Wada’
- Gunakan Kursi Roda, 23 Jemaah Haji Lansia Kloter PDG 13 Selesaikan Tawaf Wa’da
- Sempat Terdampak Konflik Israel-Iran, Pemulangan Jemaah Haji Berjalan Lancar
- Dua Kloter Jemaah Haji Tertunda Terbang, Imbas Eskalasi Timur Tengah
- Barang Bawaan Jemaah Haji Tak Lebih dari 32 Kg
- Kunjungi Destinasi Ziarah di Madinah, Jemaah Haji Tidak Dipungut Biaya
- Jemaah Haji reguler Wafat di Tanah Suci, Ini Cara Klaim Asuransinya
- Ini 5 Titik Strategis Pos PPIH Sektor Masjid Nabawi Madinah
- Warga Cupak Wafat di Makkah, Kakan Kemenag Sampaikan Belasungkawa
- Satu Jemaah Haji Kabupaten Solok Wafat i Masjidil Haram
- Nikmati Kota Makkah, Jemaah Haji Solok Naik Kereta Gantung Thaif



Facebook Comments