Bantuan untuk Indra Yeka, Tukang Ojek Yang Alami Buta dan Tuli Mulai Mengalir

bantu
Solok, SuhaNews – Bantuan untuk Indra Yeka, sang tukang ojek yang buta dan tuli akibat tumor ganas di kepala, mulai mengalir. Di samping para dermawan berhati mulia, Bupati Solok, H. Gusmal pun ikut membantunya.
Setelah dikunjungi Bupati Solok, H. Gusmal, Sabtu (8/8/2020) lalu, Selasa (11/8) alumni SMP 3 Gunung Talang angkatan 2000 serta Pemerintah Nagari Koto Gadang Guguk juga menyambangi Indra Yeka di kediamannya.

Indra Yeka (36), merupakan warga Pasar Usang, Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, yang buta dan tidak bisa mendengar lagi, sejak tiga bulan terakhir. Ia divonis dokter mengalami menderita Tumor Otak.

Selain buta dan tuli, Indra Yeka juga mengalami oembengkakan di lutut yang menyebabkan ia semakin sulit beaktivitas.

Selasa (11/8) Indra Yekan dan orang tuanya meneruma kehadiran, Kepsek SMP Negeri 3 Gunung Talang, Yenni, S.Pd, Ketua Alumni dan juga sekaligus Ketua Komite, Sofriwandy NR, Sekretaris Komite, Bendahara Komite dan beberapa orang guru.

“Semoga Indra Yeva bersabar dalam menghadapi ujian dan  derita yang dialaminya dan tetap optimis semua itu adalah ujian dari Allah, SWT,” ujar Kepsek SMP Negeri 3 Guntal, Yenni, S.Pd, dan keluarga alumni.

Semua ujian ini, jelas Sofriwandy NR, ada hikmahnya. Kita bersama-sama dalam mencari jalan keluar dan mengatasinya agar Indra Yeva bisa sembuh kembali.

Sebelum diserrang tumor otak, Indra Yeka berprofesi sebagai tukang Ojek. Sekarang ia tidak bisa lagi melihat dan nendengar, karena mengalami Tumor Otak. Di samping itu, tidak lagi bisa beraktivitas.

“Indra Yeka merupakan alumni SMP Negeri 3 Gunung Talang angkatan tahun 2000 tersebut,” jelas Sofriwandy NR, Ketua Alumni SMPN 3 Gunung Talang.

Rombongan Alumni dan Majelis guru tersebut datang untuk memperlihatkan rasa kepedulian dan solidaritas mereka kepada karena Indra Yeva merupakan alumni tahun 2000 dan sudah menjadi keluarga mereka yang ditimpa musibah tersebut.

“Kunjungan ini jelas menunjukan rasa simpati kami kepada rekan Indra Yeka yang mengalami musibah seperti ini,” sebut Yenny, S.Pd, yang diamini Bendahara Komite, Arwita Marni, yang sekaligus Koordinator pengumpulan dana untuk disumbangkan ke Indra Yeva.

Pihaknya bersama kawan-kawan yang hadir berharap Indra Yeka, bisa sembuh kembali seperti semula.

“Kami ingin sedikit berbagi dengan Indra Yoka dan mudah-mudahan sahabat yang lain juga nanti bisa menyusul memberi bantuan untuk meringankan beban dia,” papar Arwita Marni dan Darlamsyah.

Bantuan yang diberikan merupakan hasil sumbangan sahabat alumni tahun semua angkatan dan juga dari Keluarga besar majelis guru yang tersebar di seluruh berbagai daerah.

Pihaknya mengaku akan terus menggalang dana untuk diberikan kepada Indra Yeka.

Sedangkan pada hari Jum’at kemaren (7/8), rombongan dari pemerintah Nagari Koto Gadang Guguak, juga sudah datang membezuk Indra Yeka dan juga dengan membawa bantuan.

Indra Yeka memang membutuhkan biaya yang besar untuk berobat bahkan hingga ratusan juta rupuah. Namun kini dia harus terbaring lemah di kediamannya di kawasan Pasar Usang, Nagari Koto Gadang Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok atau tidak jauh dari kediaman Bupati Solok.

“Alhamdulillah, kawan-kawan dan rekan-rekan Indra Yeka ikut berpartisipasi membantu melalui rekening yang saya buka dan ada juga yang mau datang langsung ke rumah Indra,” terang Arwita Marni, Koordinator Alumni SMP 3 Gunung Talang, warga Gurun, Jorong Pasar Baru Nagari Koto Gadang Guguak, yang ikut berpartisipasi membuka rekening donatur untuk Indra Yeka.

bantu

Selain di Nagari Guguak, warga Nagari Cupak dibawah koordinator Mai Depi dan Lisa Nopela, juga ikut mengumpulkan sumbangan.

“Ini masalah kemanusian bukan untuk tenar. Jadi kami akan terus berusaha mengumpulkan dana untuk membantu sudara kita Indra Yeka,” tutur Mai Depi.

Bantuan bisa dikirim melalui rekening BRI dengan Nomor
5543 01 012555 53 3 atas nama Mai Depi dan Rek BRI dengan nomor 555201011853539 atas nama Lisa Nopela. Semua bantuan yang terkumpul akan disumbangkan kepada Indra Yeka. Bahkan masyarakat umum juga sudah banyak yang ikut berpartisipasi membantu Indra Yoka.

Baca juga :

Selain itu, koordinator untuk Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, juga sudah terbentuk melalui koordinator Salmi Hayati.

“Kita benar-benar terenyuh usai membaca berita tentang nasib yang menimpa saudara kita di Pasa Usang Koto Gadang Guguak. Mudah-mudahan semakin banyak dermawan yang membantu,” tutur Salmi Hayati.

Salmi juga berharap semakin banyak donatur dan dermawan yang akan tergugah hatinya untuk membantu Indra Yeka.
Sementara Kepsek SMPN 3 Gunung Talang, Yenni, S.Pd, bersama majelis guru, juga ikut menyumbang mengumpulkan dana untuk Indra Yeka. Bahkan uang yang terkumpul akan digabung dengan sumbangan alumni dan rencananya akan diserahkan Selasa depan (11/8).

“Kita benar-benar prihatin mendengar cerita dan nasib yang dialami Bapak Indra setelah membaca berita Koran Padang,” sebut Yenni, S.Pd.

Saat ini Indra tinggal bersama ibu dan adiknya. Sementara isterinya, sudah pulang ke rumah orang tuanya semenjak Indra Yeka tidak bisa lagi beraktivitas.

Orang tua Indra, yakni Lisnar (63 tahun) awalnya seperti disambar petir disiang bolong ketika mendengar penjelasan dokter bahwa agar bisa mendapatkan alat bantu pendengaran untuk anaknya bisa didapatkan dengan harga Rp30 juta, Rp80 juta atau Rp120 juta.

“Jangankan untuk membeli alat bantu semahal itu, untuk biaya transportasi berobat ke rumah sakit saja kami sudah tak punya lagi. Ini benar-benar ujian bagi kami,” terang Lisnar kepada Koran Padang.

Lisnar, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani yang harus berhenti bekerja karena anaknya Indra Yeka, tiba-tiba buta dan tuli usai operasi tumor di kepala. Sementara suaminya sudah meninggal tahun 1990-an silam.

BERITA TERKAIT : Alami Buta dan Tuli, Indra Yeka Sang Tukang Ojek ini Butuh Uluran Tangan

Bebannya kian berat dalam usianya yang kian menua, setelah anaknya menderita buta dan tuli akibat tumor otak yang dialaminya.

Bahkan sekarang bukan saja buta dan tuli, lututnya pun mulai membengkak, dan kian besar. Hanya keajaiban dan uluran tangan para dermawanlah yang bisa menolong anaknya.

Indra Yeka tidak pernah menduga bakal mengalami nasib seperti ini. Ayah dari dua anaknya, harus menjalani kehidupan yang begitu getir. Sebelum dioperasi, ia bekerja sebagi tukang ojek di sekitar tempat tinggalnya di Guguak.

Ketika mengetahui ada pembengkakan di kepala bagian belakang, dekat leher. Ia pun berobat hingga akhirnya dioperasi di RSUD Arosuka menjelang lebaran 1441 H lalu. Usai operasi kondisinya tidak semakin membaik, tetapi kian tidak berdaya. Penglihatannya mulai kabur, pendengarannya pun tidak lagi berfungsi dengan baik.

Sekarang Indra sama sekali tidak bisa melihat dan mendengar.

Seharusnya Senin kemaren (3/8) ia harus membawa Indra Yeka ke RSU M. Djamil Padang untuk kontrol rutin. Namun apa hendak dikata, jangankan dana untuk beli alat, untuk biaya transportasi ke Padang saja tidak ada lagi.

“Selama ini masih ada bantuan tetangga dan hasil kerja sebagai buruh tani, sejak Indra Yeka sakit, sayapun berhenti bekerja,” jelas Lisnar yang didampingi anaknya Hendra Fauzi, adik dari Indra Yeka.

Sementara dokter di M.Djamil Padang sudah menjelaskan penyakit Indra Yeka. Ia mengalami tumor otak. Karena itu harus menjalani operasi. Namun sebelum dioperasi, Lisnar harus membawa anaknya untuk kontrol dua atau tiga kali seminggu. Bukan satu dokter yang harus ditemuinya, tapi ada beberapa dokter karena dokter mata, telinga dan syaraf, sekarang ada lagi pembengkakan di lutut.

“Sekali ke Rumah Sakit minimal harus ada dana Rp500.000,” ujar Lisnar pilu.

Dana tersebut hanya untuk transportasi. Ia harus menyewa mobil seharian. Sekali pergi Rp350.000, karena tidak bisa membawa anaknya yang kini sudah buta dan tuli, kaki sakit turun naik bus umum. Belum lagi biaya makan. Karena itulah, setelah melakukan kontrol sebanyak enam kali, kali ini tidak bisa berangkat karena tidak ada lagi ongkos ke Padang.

“Kalau kontrol ke RSUD Arosuka, masih kami usahakan,” ujar Lisnar.

Untuk ke RSUD Arosuka, ia mengeluarkan ongkos ojek Rp30.000 karena ‘ditenggang’ oleh tukang ojek lainnya. Namun kalau ke Padang, biaya transportasi meningkat lebih dari 1000 persen, sementara penghasilannya tidak ada. Apalagi kerja ke sawah dan ladang orang tidak bisa lagi dilakukannya.

“Kebutaan dan tuli ini sudah dialaminya sejak 1.5 bulan lalu,” jelas Lisnar.

Dalam kondisi terpuruk seperti ini, Lisnar tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Sementara menantunya, istri Indra Yeka, sudah kembali pula ke rumah orangtuanya. Karena itulah, ia harus berjuang untuk menjaga anaknya.

“Anak saya memang tidak mampu lagi membiayai hdup keluarga,” jelasnya.

Sejak Indra Yeka sakit, ia lah yang merawatnya. Lisnar didak bisa meninggalkan Indra Yeka sendirian di rumah. Adik Indra Yeka, Hendra Fauzi bekerja sebagai karyawan catering di kawasan Gunung Talang. Sebagai pekerja harian, Hendra berusaha untuk membantu biaya hidup orang tuanya. Namun untuk membawa kakaknya berobat dua atau tiga kali seminggu ke rumah sakit di Padang, penghasilannya tidak cukup.

Kini Lisnar dan Indra Yeka hanya bisa berdoa, sembari mengharapkan uluran tangan kita semua untuk meringankan bebannya.

Bagi donatur yang ingin meringankan beban Indra Yeka bisa menghubungi nomor 0812-3306-6118 atas Hendra Fauzi, adik Indra Yeka atau kirim donasi pembaca yang budiman ke nomor rekening alumni SMP 3 Gunung Talang dengan nomor rekening 555201017749534 atas nama Arwita Marni.

Baca juga :

Facebook Comments

loading...