Baqi, Jiwa Madinah yang Tak Pernah Dipindahkan
Catatan YURNALDI
Pagi belum sepenuhnya matang ketika langkah-langkah jamaah mulai melambat di sisi timur Masjid Nabawi. Selesai salat Subuh, sebagian orang tak langsung beranjak. Mereka berdiri diam, menatap ke balik pagar besi panjang berwarna gelap.
Di sana, hamparan tanah terbuka membentang tanpa nisan, tanpa kubah, tanpa tulisan nama. Hanya gundukan-gundukan kecil yang nyaris seragam, seolah sengaja menghapus perbedaan. Itulah Baqi’ al-Gharqad.

Bagi yang baru pertama kali datang ke Madinah, pemandangan ini sering menimbulkan tanya: mengapa pemakaman dibiarkan begitu dekat dengan masjid paling suci kedua umat Islam? Mengapa tidak dipindahkan ketika Masjid Nabawi terus membesar dan diperindah?
Jawabannya tidak sesederhana alasan tata kota. Baqi adalah bagian dari jiwa Madinah .
Ketika Masjid dan Kuburan Berjumpa
Jika ditarik ke belakang, ke tahun-tahun awal hijrah Nabi Muhammad ﷺ, Madinah bukan kota megah. Ia hanyalah perkampungan yang hidup dari kebun kurma dan sumur-sumur sederhana. Masjid Nabawi kala itu berdiri di atas tanah wakaf, berdinding bata tanah liat, beratap pelepah kurma, dan berlantai tanah.
Tak jauh dari masjid, terdapat lahan kosong yang ditumbuhi pohon gharqad—sejenis semak berduri. Di sanalah kaum Muslimin pertama kali menguburkan jenazah mereka. Nabi sendiri yang menetapkan tempat itu sebagai pekuburan umum. Tidak ada tembok tinggi, tidak ada gapura. Hanya tanah yang diterima sebagai tempat kembali manusia.
Sejak awal, Baqi memang diletakkan dekat dengan masjid. Bukan kebetulan. Kedekatan itu menjadi simbol: hidup dan mati berjalan berdampingan, ibadah dan akhirat tidak terpisah.
Masjid Nabawi kemudian berkembang. Pada masa Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, masjid diperluas untuk menampung jamaah yang terus bertambah. Pada masa dinasti Umayyah, Abbasiyah, Mamluk, hingga Ottoman, Masjid Nabawi berubah menjadi pusat peradaban Islam dunia. Namun satu hal tetap: Baqi tidak pernah digeser.

Masjid Membesar, Baqi Bertahan
Perluasan demi perluasan Masjid Nabawi terjadi selama lebih dari 14 abad. Arsitektur berubah, teknologi masuk, kubah hijau berdiri, payung raksasa terbentang. Tetapi Baqi tetap seperti yang dulu: terbuka, sederhana, dan sunyi.
Para sejarawan menyebut fenomena ini sebagai “urbanisasi spiritual terbalik”. Biasanya, pemakaman dipindahkan demi pembangunan. Di Madinah, justru pembangunan yang menyesuaikan diri dengan pemakaman.
Ada beberapa alasan mengapa Baqi tak pernah dipindahkan. Pertama, alasan sejarah. Baqi adalah pemakaman generasi pertama Islam. Menggesernya sama saja dengan memutus hubungan fisik umat Islam dengan masa kenabian.
Kedua, alasan syariat. Dalam fikih Islam, pemakaman adalah tanah wakaf. Tanah wakaf tidak boleh diperjualbelikan atau dialihfungsikan.
Ketiga, alasan simbolik. Kehadiran Baqi di samping Masjid Nabawi adalah pengingat abadi bahwa seagung apa pun sebuah peradaban, ujungnya adalah tanah.
Karena itu, setiap rencana perluasan masjid selalu berhenti di batas Baqi. Masjid boleh membesar ke arah lain, tetapi tidak ke arah kuburan.
Siapa yang Dimakamkan di Baqi?
Baqi sering terlihat seperti tanah kosong bagi mata awam. Namun di bawah tanah itulah beristirahat tokoh-tokoh terbesar dalam sejarah Islam.Di sanalah dimakamkan istri-istri Nabi Muhammad SAW, termasuk Aisyah r.a., guru besar umat Islam dan perawi ribuan hadis. Di sanalah pula dimakamkan putra-putri Nabi: Ruqayyah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ibrahim.
Baqi juga menjadi tempat peristirahatan Ahlul Bait, seperti Imam Hasan bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, dan Ja’far ash-Shadiq—nama-nama yang dihormati lintas mazhab.
Selain itu, ribuan sahabat Nabi, tabi’in, ulama, dan syuhada dimakamkan di sini. Sejarawan memperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 10.000 orang.
Ironisnya, hampir tidak ada satu pun nama tertulis di sana. Tidak ada nisan bertuliskan gelar, jabatan, atau silsilah. Semua kembali setara sebagai manusia.

Kesederhanaan yang Disengaja
Bagi sebagian jamaah, kesederhanaan Baqi justru terasa mengejutkan. Di banyak negara Muslim, makam tokoh agama dibangun megah, diberi kubah dan ornamen indah. Di Baqi, semua itu ditiadakan.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Saudi memilih mempertahankan Baqi dalam bentuk minimalis untuk menghindari kultus individu dan praktik-praktik yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.
“Baqi bukan museum, bukan monumen,” kata seorang penjaga pemakaman. “Ini tempat kembali manusia kepada Tuhan.”
Namun justru karena itulah Baqi terasa hidup. Jamaah berdiri di depan pagar, membaca doa dengan suara pelan, sebagian meneteskan air mata. Tidak ada yang sibuk memotret. Tidak ada yang menunjuk-nunjuk makam tertentu. Semua larut dalam keheningan yang sama.
Suara Jamaah: Antara Haru dan Kesadaran
Pak Ahmad, jamaah asal Aceh, mengaku selalu menyempatkan diri berdiri di depan Baqi setiap datang ke Madinah.
“Di sini saya merasa kecil,” katanya. “Orang-orang besar Islam berbaring di tanah yang sangat sederhana. Kita yang hidup sekarang sering merasa hebat.”
Sementara Siti Rahma, jamaah asal Jawa Barat, melihat Baqi sebagai ruang refleksi.
“Masjid membuat saya bersemangat beribadah,” ujarnya. “Baqi membuat saya ingat bahwa hidup tidak panjang.”
Bagi jamaah dari Afrika dan Asia Selatan, Baqi sering dianggap sebagai “ruang pertemuan sejarah”. Mereka merasa berada sangat dekat dengan generasi yang membawa Islam ke negeri mereka berabad-abad lalu.
Baqi dan Kontroversi
Tak bisa dipungkiri, Baqi juga pernah berada dalam pusaran kontroversi, terutama terkait perbedaan pandangan Sunni dan Syiah tentang penandaan makam Ahlul Bait. Sebagian pihak menginginkan penanda yang lebih jelas, sebagian lain menolak segala bentuk bangunan.
Namun hingga kini, kebijakan kesederhanaan tetap dipertahankan. Pemerintah Saudi menegaskan bahwa Baqi adalah pemakaman umat Islam, bukan simbol mazhab tertentu.
Kontroversi itu justru memperlihatkan satu hal: betapa pentingnya Baqi dalam imajinasi kolektif umat Islam dunia.
Masjid dan Kuburan: Dua Guru Kehidupan
Jika Masjid Nabawi mengajarkan manusia tentang hubungan dengan Tuhan melalui salat, zikir, dan ilmu, maka Baqi mengajarkan pelajaran yang tak kalah penting: tentang akhir kehidupan.
Di Madinah, pelajaran itu tidak disampaikan lewat ceramah, melainkan lewat tata ruang kota. Masjid dan kuburan diletakkan berdampingan, seolah berkata: ibadahmu hari ini akan dipertanyakan di tempat sunyi itu kelak.Mungkin itulah sebabnya
Baqi tidak pernah dipindahkan. Ia bukan beban pembangunan. Ia adalah pengingat yang diperlukan.

Sunyi yang Menjaga Madinah
Menjelang siang, matahari Madinah mulai terik. Jamaah beranjak pergi, kembali ke hotel atau ke halaman masjid. Baqi kembali sunyi.
Namun sunyi itulah yang menjaga Madinah tetap waras. Di tengah modernisasi, hotel-hotel tinggi, dan arus jamaah yang tak pernah putus, Baqi berdiri sebagai penyeimbang.
Ia mengingatkan bahwa Islam dibangun bukan oleh bangunan megah, melainkan oleh manusia-manusia yang hidup sederhana, berjuang keras, dan akhirnya kembali ke tanah tanpa nama.
Selama Masjid Nabawi berdiri, Baqi akan tetap berada di sampingnya. Bukan sebagai bayang-bayang kematian, melainkan sebagai penjaga makna kehidupan.
- Ziarah ke Baqi’, Pesan Kesederhanaan Diakhir Hayat
- Ketika “Pohon Sukarno” Hijaukan Makkah
- Pelajaran Terpenting dari Merpati-Mepati Madinah
- Masjid Ali, Masjid Tanpa Merpati di Madinah
- Disela Arbain, Jemaah Haji Solok Kunjungi Masjid Bersejarah di Madinah
- Ziarah di Madinah, Jemaah Haji Solok Napak Tilas Perjuangan Rasulullah
- Sakralnya Raudhah, Air Mata Menitik Dalam Doa
- 7 Destinasi Ziarah Yang Ada di Kota Madinah
- Jumat Berkah di Madinah, Jamaah Umrah Solok Bertemu Jamaah Haji Padang Panjang



Facebook Comments